Perkembangan gong kebyar di Kabupaten Buleleng

This post was written by ardipardita on Maret 30, 2012
Posted Under: Tulisan

FENOMENA DIBALIK

KEJAYAAN GONG KEBYAR :

KHUSUSNYA GONG KEBYAR GAYA BULELENG

 

 

2.1.

Berdasarkan hasil penelitian Gong Kebyar lahir di daerah

Bali Utara (Kabupaten Buleleng) di Desa Bubunan, Ringdikit, dan

Busungbiu dengan melalui proses waktu yang sangat panjang sehingga

mewujudkan sebarung gamelan Gong Kebyar yang seperti diamati

sekarang. Dari Desa Bubunan, Ringdikit, dan Desa Busungbiu, Gong

Kebyar berkembang ke daerah Tabanan, Badung, dan Gianyar.

Selanjutnya Gong Kebyar berkembang ke daerah Jembrana,

Klungkung, Bangli, dan Karangasem yang dikembangkan oleh

seniman-seniman dari tiga daerah tersebut, yaitu seniman dari daerah

Buleleng, Tabanan, dan Badung. Perkembangan Gong Kebyar tersebut

merupakan tanda kesuburan sehingga secara garis besar muncul empat

gaya Gong Kebyar, yaitu Gong Kebyar Gaya Buleleng, Tabanan,

Badung, dan Gong Kebyar Gaya Gianyar. Dari keempat gaya tersebut,

Gong Kebyar Gaya Buleleng yang paling menonjol perbedaannya yang

dapat dilihat dari segi tungguhan dan sajian gendingnya.

Barungan gamelan Gong Kebyar Gaya Buleleng berkembang ke

daerah-daerah perbatasan, yaitu daerah Karangsem, Tabanan, dan

Bangli. Saat Gong Kebyar Gaya Buleleng mengalami kehidupan yang

subur disertai munculnya ungkapan para seniman yang bersifat

emosional yang merupakan cerminan estetik sebagai identitas Gong

Kebyar Gaya Buleleng. Namun sekarang Gong Kebyar Gaya Buleleng

kehidupannya sangat memprihatinkan karena ketidakmunculnya unsurunsur

yang membentuk gaya Gong Kebyar Buleleng. Hal ini terjadi

karena adanya pergeseran tuntutan para seniman dan Pemerintah

Daerah Kabupaten Buleleng. Hal ini sangat nampak pada Pesta

Kesenian Bali. Untuk melestarikan Gong Kebyar Gaya Buleleng, perlu

melakukan langkah-langkah pelestarian

Kata Kunci : Ungkapan para seniman, Gaya, dan Gong Kebyar Gaya

Buleleng

Dalam percaturan karawitan Bali, baik pertemuan yang berbentuk

sarasehan maupun seminar atau yang sejenis, belum ada yang menjelaskan

dimana dan kapan Gong Kebyar diciptakan. Memang selalu dikatakan

bahwa Gong Kebyar dilahirkan di Buleleng yang informasinya merujuk

dari tulisan Colin Mc Phee dalam bukunya Music In Bali (1966 : 328)

mengatakan bahwa tahun 1915 Gong Kebyar digunakan mebarung di Desa

Jagaraga, Buleleng. Selanjutnya informasi tersebut digunakan sebagai

 

1

acuan dan malahan lebih dikembangkan lagi sehingga dikatakan bahwa

Gong Kebyar muncul di Buleleng tahun 1915. Informasi yang lain

dikatakan bahwa Gong Kebyar lahir di Desa Bungkulan. Almarhum I

Nyoman Rembang (1977 : 4) juga mengatakan bahwa kemunculan Gong

Kebyar sesudah zaman penjajahan, maka tidaklah mustail kalau ada

kecenderungan para analisis berpendapat bahwa inspirasi yang

membangkitkan ide Gong Kebyar ada hubungannya dengan masuknya

kebudayaan yang dibawa masuk oleh penjajah. Tetapi benar atau tidaknya

persoalannya demikian, belumlah dapat dipastikan. Dari beberapa informasi

tersebut belum memberikan gambaran kapan dan dimana Gong Kebyar

lahir. Informasi tentang kelahiran Gong Kebyar sangat perlu diinformasikan

kepada masyarakat luas, meskipun belum selengkap seperti yang

diharapkan.

Permasalahan yang lain adalah krisisnya kehidupan Gong Kebyar

Gaya Buleleng saat sekarang. Pengamatan ini hampir dirasakan oleh

seluruh lapisan masyarakat Buleleng khususnya dan Bali umumnya

sehingga berdampak hilangnya gayagaya Gong Kebyar yang pernah hidup

dan berkembang pada tahun-tahun sebelumnya, yaitu sekitar 1970-an.

Adanya krisis kehidupan Gong Kebyar di Bali, kemudian muncul

keseragaman yang dapat diamati pada setiap festival Gong Kebyar pada

even Pesta Kesenian Bali (PKB) yang diselenggarakan setiap tahun sekali.

Berdasarkan analisa, munculnya keseragaman Gong Kebyar dalam Festival

Gong Kebyar pada Pesta Kesenian Bali (PKB) disebabkan adanya

pergeseran tuntutan seniman dan Pemerintah Daerah Buleleng untuk

memperoleh juara dengan cara “apa pun”, di antaranya dengan

menggunakan pelatih serta menyajikan karya-karya yang disusun seniman

dari daerah lain yang sering memperoleh juara. Hal seperti ini patut

disayangkan karena berdampak kurang menguntungkan bagi kehidupan

kesenian di Bali. Sekeha-sekeha Gong Kebyar dari Buleleng yang tampil

dalam PKB sebagai duta Kabupaten Buleleng tidak luput dari virus

keseragaman ini. Munculnya keseragaman Gong Kebyar di Bali, kiranya

tidak perlu menyalahkan perorangan, kelompok atau instansi yang penting

bagaimana cara menyikapinya.

Kedua permasahan tersebut mempunyai sifat yang berbeda, yaitu

permasalahan pertama merupakan informasi tentang kelahiran Gong

Kebyar yang diperoleh dari hasil penelitian. Dalam hal ini informasi

kelahiran sangat penting diketahui bersama karena dengan memahami

sejarah akan lebih mantap melakukan pelestarian. Permasalahan kedua

merupakan masalah kehidupan yang dialami Gong Kebyar Gaya Buleleng

yang sangat memprihatinkan sehingga perlu dicarikan solusinya. Dengan

mengetahui perkembangan Gong Kebyar Gaya Buleleng juga akan lebih

mantap melakukan pelestarian.

2

Pembahasan

Pembahasan pertama dalam tulisan ini tentang kelahiran Gong Kebyar.

Kelahiran atau terbentuknya barungan gamelan Gong Kebyar tidak seperti

kelahiran seekor kambing artinya begitu lahir sudah bisa bergerak atau

jalan layaknya kambing yang sudah dewasa melainkan harus mengalami

berbagai proses dan waktu yang cukup lama.

Satu tulisan Balyson dari Belgia dalam majalah Bhawanagara tahun

1934 menjelaskan bahwa terbentuknya barungan gamelan Gong Kebyar

diawali dengan mengubah jenis-jenis tungguhan gangsa, yaitu menambah

bilah yang awalnya menggunakan lima bilah kemudian ditambah satu

bilah, dua bilah, tiga bilah sehingga akhirnya tungguhan gangsa

menggunakan sepuluh bilah. Perubahan dilakukan secara bertahap dan

waktunya relatif lama karena setiap perubahan penggunaan jumlah bilah

selain menambah bilah juga mengganti pelawahnya. Terjadinya perubahan

didasarkan atas pertimbangan estetik, yaitu penggunaan lima bilah pada

tungguhan gangsa dirasakan sangat terbatas untuk menyajikan jenis-jenis

candetan. Perubahan bilah ini dikutip dari majalah Bhawanagara sebagai

berikut.

Itoelah sebabnja, bahwa lambat laoen banjak boenga-boenga pada

tiap-tiap gangsa bertambah-tambah, menjadi enam bilah, toedjoeh

bilah dsb. Sebeloem Boeboenan meletakkan djabatannja sebagai

gong, ia mengeloearkan pendapatannja jang lain dari pada

“frctiesoli”, jaitoe banjak bilah boenga pada gangsanja……

sembilan : 1° 2° 3° 4° 5° 6° 7° 8° 9° (ding), dang, doeng, deng,

dong, ding, dang, doeng, deng, (digangsa letaknya dibalik)

(Bhawanagara, Tahoen IV, Juni 1934: 8).

Selain itu perubahan disebabkan juga dari karakter masyarakat Buleleng

yang selalu ingin berubah seperti yang juga diungkapkan oleh Balyson

sebagai berikut.

…publiek Boeleleng berpenyakit “Caprice Boelelengais” jang saja

salin dengan “penjakit bosan”, ingin mendengar segala apa-apa

yang bersifat aneh dan baroe (Bhawanagara, 11-12 April-Mei,

Tahoen III, Juni 1934 halaman 191)

Istilah “Caprice Boelelengais” mempunyai pengertian orang Bali bilang

jani kene nyanan keto, tusing enteg, celiak celiuk, ngeliunang bikas.

Kutipan tersebut di atas menegaskan bahwa sifat orang Buleleng adalah

tidak mempunyai pendirian yang tetap dalam arti selalu tidak puas

dengan apa yang telah dihasilkan. Ketidakpuasan tersebut dilandasi

sifat keberanian dan kreativitas yang tinggi atau selalu menginginkan

perubahan. Dari faktor-faktor tersebut muncul ciri khas khususnya

dalam karawitan (gamelan).

3

Pada saat sekeha gong Desa Ringdikit dan Desa Bubunan mengadakan

perubahan, sekeha gong dari Desa Busungbiu juga mengadakan perubahan

langsung jenis tungguhan gangsanya diubah sehingga menggunakan

sepuluh bilah. Ketiga desa tersebut (Desa Ringdikit, Desa Bubunan, dan

Desa Busungbiu) letaknya berdekatan sehingga dapat melakukan

perubahan dalam waktu yang relatif bersamaan seperti yang dikutip dalam

Bhawanagara sebagai berikut.

Pada zaman jang terbelakang ini banjaknja boenga gangsa

sepoeloeh bilah: Boesoengbioe, penggantinja Boeboenan

memboeboehi ”dong” rendah pada sembilan bilah itoe, sehingga

sekarang tiap-tiap gangsa mengandoeng sepoeloeh boenga atau 2

oktaaf (Bhawanagara, Tahoen IV, Juni 1934 : 8).

Menurut Bapak I Putu Suweca salah satu anggota sekeha gong Desa

Bubunan mengatakan bahwa dahulu (tahunnya tidak diketahui) barungan

gamelan yang ada di Desa Bubunan awalnya adalah milik tiga orang, yaitu

Guru Gede Merta, Kaki Tilem, dan Kaki Madu kemudian diserahkan

kepada desa sehingga menjadi milik desa. Konon di Desa Bubunan hanya

ada satu barung gamelan. Informasi lain yang diketahui oleh I Putu Suweca

bahwa dia pernah melihat ada dua tungguh gender rambat di Desa Bubunan,

tetapi sekarang kedua tungguh gender rambat tersebut sudah tidak ada atau

hilang.

Informan yang lain adalah Gede Kuwat Kusnadi dari Desa Busungbiu

mengatakan bahwa kakeknya pernah berceritra bahwa di Busungbiu ada

satu barung gamelan yang disebut gamelan Semar Pagulingan. Pernyataan

ini digarisbawahi oleh kelian gong Desa Busungbiu bernama Gede Ratep

mengatakan bahwa sekitar tahun 1979-an salah satu jenis tungguhan

gamelan Semar Pagulingan Saih Lima, yaitu jenis tungguhan gender rambat

dilebur dijadikan salah satu jenis tungguhan yang digunakan dalam

barungan gamelan Gong Kebyar. Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan

bahwa terbentuknya barungan gamelan Gong Kebyar di daerah Buleleng

khususnya di Desa Bubunan, Busungbiu disebabkan adanya perubahan dari

satu barung gamelan yang menggunakan laras pelog lima nada, yaitu

barungan gamelan Semar Pagulingan Saih Lima.

Dengan penambahan bilah ini, masyarakat lebih senang mendengarkan

gending-gending yang disajikan karena menggarap gending dengan

berbagai jenis candetan. Hal ini diungkapkan dalam majalah Bhawanagara

sebagai berikut.

Akan tetapi lama-kelamaan banjak boenga-boenga gangsa

bertambah-tambah, tidak lain sebabnja, melainkan otjet-otjetan

menjadi lebih digemari orang (si tukang main dan si penonton)

(Bhawanagara, Tahoen IV, Juni 1934: 8).

4

Sekeha gong dari Desa Ringdikit tidak hanya menambah bilah pada

tungguhan gangsanya sesuai dengan perkembangan pada saat itu, malahan

menambah satu jenis tungguhan lain, yaitu dua tungguh gender telulas

dengan alasan agar suara secara keseluruhan kedengarannya lebih merdu

dan manis. Pernyataan ini dapat dikutip dari Bhawanagara, Juni 1934

Tahoen IV halaman 11 sebagai berikut.

… apakah sebabnja Ringdikit memboebohi gender teloelas pada

gongnja. Pendapatan ini besar djasanja. Sebeloem gender teloelas

datang, boenji gong seanteronja agak keras (Belanda :

metaalachting, Bali : tengal, katos), dan sekarang lebih merdoe dan

manis karena boenji gender-gender gantoeng itoe.

Perkembangan selanjutnya tungguhan gangsanya gamelan dari Desa

Busungbiu menggunakan sepuluh bilah seperti yang ada pada tungguhan

gangsa Gong Kebyar sekarang dengan susunan nadanya sebagai berikut.

dong, deng, dung, dang, ding, dong, deng, dung, dang, ding

Dari pernyataan Balyson kemudian diadakan pengecekan ke lapangan

yang hasilnya adalah tungguhan gangsa yang menggunakan enam bilah

sudah tidak ada lagi karena dilebur untuk mengikuti proses terbentuknya

Gong Kebyar berikutnya. Tungguhan gangsa yang menggunakan tujuh

bilah, menurut almarhum I Gusti Bagus Nyoman Panji (almarhum)

mengatakan bahwa Desa Bungkulan pernah memiliki gamelan yang

tungguhan gangsa menggunakan tujuh bilah, namun sudah dilebur tahun

1942. Tungguhan gangsa yang menggunakan delapan bilah, masih terdapat

di Desa Gobleg dan Desa Kayu Putih. Di Desa Kalianget pernah memiliki

barungan gamelan yang menggunakan tungguhan gangsa delapan bilah

namun dilebur tahun 1965 menjadi Gong Kebyar.

Tungguhan gangsa yang menggunakan delapan bilah di Desa Gobleg

dan Kayu Putih merupakan salah satu jenis tungguhan yang digunakan pada

barungan gamelan Gong Duwe yang susunan nadanya sebagai berikut.

dung, dang, ding, dong, deng, dung, dang, ding

Barungan gamelan “baru” yang ada di sekitar Desa Busungbiu

didengar oleh desa tetangga di antaranya Desa Bantiran, kemudian Desa

Bantiran membuat barungan gamelan Gong Kebyar meskipun tidak

selengkap sekarang yang dilakukan secara bertahap yang pelatihnya dari

Desa Kedis.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Wayan Begeg,

mengatakan bahwa tahun 1915 di Puri Subamia mengadakan upacara

plebon, kemudian sekeha Gong Kebyar Desa Bantiran diminta untuk

pentas selama tiga hari dalam upacara tersebut. Saat pergelaran senimanseniman

dari Tabanan banyak yang menonton di antaranya I Nengah

5

Ngayi, I Wayan Gejir, dan I Mario. Pada saat menyaksikan pergelaran

ketiga seniman tersebut tercengang melihatnya. Setelah melihat pergelaran

tersebut, kemudian barungan Gamelan Gede yang digunakan Banjar

Pangkung (pinjaman dari Puri Kaleran) yang awalnya tungguhan

gangsanya menggunakan lima bilah, kemudian atas ijin pemiliknya khusus

tungguhan gangsanya diubah menggunakan sembilan bilah dengan urutan

nadanya sebagai berikut.

deng, dung, dang, ding, dong, deng, dung, dang, ding

Dengan adanya gamelan tersebut diubah tungguhan gangsanya maka

seluruh gamelan di daerah Tabanan diubah tungguhan gangsanya

menggunakan sembilan bilah. Dari perubahan ini, banyak munculnya

gending-gending Gong Kebyar di antaranya gending Jerbu yang disusun

atas hasil kerjasama antara I Wayan Gejir (dari Tabanan) dan I Wayan

Sembah (dari Buleleng).

Dalam waktu yang tidak begitu lama, gamelan ini menyebar ke daerah

Badung, dimulai dari Dalung dan akhirnya sampai Banjar Belaluan

Denpasar. Gong Kebyar semakin berkembang di tiga daerah tersebut yang

kemudian berkembang ke daerah lainnya seperti Jembrana, Gianyar,

Klungkung, Bangli, dan Karangasem. Bapak Wayan Begeg mengatakan

bahwa penyebaran Gong Kebyar di Bali berbentuk “segi tiga“ artinya

dilakukan oleh seniman dari tiga daerah, yaitu Buleleng, Tabanan, dan

Badung. Dampak dari penyebaran Gong Kebyar tersebut muncul empat

gaya Gong Kebyar, yaitu Gong Kebyar Gaya Buleleng, Gong Kebyar

Gaya Tabanan, Gong Kebyar Gaya Badung, dan Gong Kebyar Gaya

Gianyar.

Dari paparan tentang kelahiran Gong Kebyar di atas, dapat disimpulkan

bahwa Gong Kebyar lahir atau diciptakan di daerah budaya dauh enjung

Buleleng, yaitu Desa Bubunan dan Ringdikit. Bentuk awal Gong Kebyar

tidak seperti yang diamati sekarang, dilakukan secara bertahap dengan cara

penambahan bilah jenis tungguhan gangsa (dalam sumber tidak

menyebutkan tahunnya). Penambahan bilah pada tungguhan gangsa

dilakukan berdasarkan kebutuhan estetik yang dilandasi oleh karakter

masyarakatnya. Salah satu bukti terjadinya penambahan bilah adalah

adanya barungan gamelan Gong Duwe yang menggunakan jenis tungguhan

gangsa delapan bilah.

Penyebaran Gong Kebyar diawali dari Desa Bantiran, kemudian tahun

1915 menyebar ke seluruh daerah Tabanan dan Badung. Penyebaran Gong

Kebyar di Bali dilakukan oleh para seniman dari tiga daerah, yaitu

Buleleng, Tabanan, dan Badung. Dari penyebaran Gong Kebyar tersebut,

muncul empat gaya, yaitu Gong Kebyar Gaya Buleleng, Gong Kebyar

Gaya Tabanan, Gong Kebyar Gaya Badung, dan Gong Kebyar Gaya

Gianyar.

6

Permasalahan yang kedua adalah tentang Gong Kebyar Gaya

Buleleng yang kehidupannya sangat memprihatinkan. Telah disebutkan di

atas bahwa di Bali terdapat empat gaya Gong Kebyar. Sementara yang

diketahui Gong Kebyar Gaya Buleleng memiliki subgaya Gong Kebyar,

yaitu subgaya Gong Kebyar Gaya Buleleng Dangin Enjung dan subgaya

Gong Kebyar Buleleng Dauh Enjung. Kedua subgaya Gong Kebyar

tersebut masih dalam satu nafas, yaitu Gong Kebyar Gaya Buleleng.

Dari hasil analisis bahwa Gong Kebyar Gaya Buleleng mempunyai

perbedaan yang menonjol yang dapat dilihat dari barungan gamelannya dan

tetabuhannya. Barungan gamelan Gong Kebyar Gaya Buleleng yang ada

sekarang merupakan hasil dari berbagai perubahan yang dilakukan oleh

seniman kita yang dilandasi oleh sifat jengah pada saat kegiatan mebarung,

yaitu :

 

1. Jenis tungguhan gangsa pemade kebanyakan atau hampir

seluruhnya dalam satu barungan gamelan Gong Kebyar

menggunakan delapan tungguh.

2. Ukuran pencon yang digunakan pada tungguhan trompong,

barangan, dan gong relatif lebih besar dari pencon tungguhan

trompong dan barangan atau riyong Gong Kebyar daerah

lainnya.

3. Penggunaan ceng-ceng kecek juga lebih banyak dari Gong

Kebyar daerah lainnya.

 

 

2.2                   jumlah dan ukuran dalam gong kebyar

 

 

Jumlah dan ukuran tungguhan yang digunakan dalam Gong Kebyar

Gaya Buleleng berdampak pada estetika atau keindahan yang dimiliki oleh

sajian gending Gong Kebyar Gaya Buleleng berupa penonjolan-penonjolan

sebagai ciri, yaitu :

1. Suara Gong Kebyar Gaya Buleleng dirasakan lebih rendah

dibandingkan dengan suara Gong Kebyar gaya lainnya.

2. Sajian gending-gending Gong Kebyar Gaya Buleleng lebih

“rame” dibandingkan dengan sajian gending-gending Gong

Kebyar gaya lainnya, sehingga jenis-jenis tungguhan kempul,

kenong, dan tungguhan ketuk mempunyai nada yang tidak sama

dengan nada jenis tungguhan lainnya. Sadar atau tidak sadar hal

ini dilakukan supaya kedengaran lebih jelas (ngilis).

3. Penggunaan bentuk bilah belahan penjalin pada tungguhan

gangsa mepacek, berdampak konsentrasi penabuh pada pukulan

(tidak pada tutupan) sehingga gending yang disajikan bisa

relatif lebih cepat dibandingkan dengan sajian gending dari

Gong Kebyar daerah lainnya yang menggunakan bilah usuk

yang dipasang dengan cara digantung.

4. Nada tungguhan barangan lebih rendah satu oktaf maka tabuhan

tungguhan barangan khususnya tabuhan pemetit lebih menonjol.

7

pemetit mempunyai tingkat atau predikat yang lebih tinggi

dibandingkan dengan penabuh lainnya.

5. Adanya bentuk kekendangan Pengundang Taksu dengan maksud

untuk menunjukkan kualitas kendang yang digunakan dan

kemampuan pengendangnya. Kekendangan pengundang taksu

disajikan sebelum sajian gending di mulai. Akhir dari

kekendangan pengundang taksu disertai dengan satu kali

tabuhan gong.

6. Perbedaan suara kendang lanang dan kendang wadon sangat

jauh. Perbedaan kedua suara kendang tersebut, merupakan

aplikasi dari konsep ngilis agar suara kendang lanang menonjol.

Dengan adanya ciri-ciri yang dimiliki oleh Gong Kebyar Buleleng

maka merupakan identitas daerah Buleleng.

Kehidupan Gong Kebyar Gaya Buleleng pada saat itu sangat subur

sehingga penyebarannya sampai ke daerah lain yang memiliki budaya yang

berbeda, yaitu Gong Kebyar Gaya Buleleng di daerah Tabanan terdapat di

Desa Bantiran berupa barungan gamelan dan gending-gendingnya, daerah

Bangli terdapat di daerah Kecamatan Kintamani (bagian utara) seperti

Dausa, Bantang, dan lain-lainnya, di daerah Badung terdapat di Banjar

Belaluan, dan di Karangasem di antaranya terdapat di Desa Munti,

Kecamatan Tianyar. Persebaran Gong Kebyar Gaya Buleleng disebabkan

oleh para pelatih yang melatih di daerah-daerah tersebut.

Dari paparan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa Gong Kebyar

Gaya Buleleng mempunyai identitas atau ciri yang dapat dilihat dari

barungan gamelan dan tetabuhannya yang dibentuk oleh sifat jengah. Gong

Kebyar Gaya Buleleng menyebar ke daerah lain yang mempunyai budaya

yang berbeda.

Roh Gong Kebyar Gaya Buleleng, sudah dirasakan secara

mendarah daging oleh masyarakat pendukungnya sehingga muncul

ungkapan-ungkapan emosional dari para senimannya yang merupakan

cerminan estetik sebagai identitas Gong Kebyar Gaya Buleleng. Adapun

ungkapan para seniman Buleleng antara lain :

 

a. Oon sing taen seger, artinya badannya dirasakan lemas seperti

orang tidak pernah sehat atau dapat diartikan loyo. Ungkapan ini

muncul pada saat seniman-seniman atau para penabuh Buleleng

menyajikan gending-gending yang tempo sajiannya pelan dan

volume tabuhannya juga relatif lirih, seperti jenis gending-gending

Palegongan, yaitu gending Kuntir, Kuntul, Playon, Jobog, dan

sebagainya. Ungkapan ini muncul karena tidak sesuai dengan

ekspresi musikal atau karakter yang dimiliki sebagai seniman

Buleleng yang relatif lebih dinamis dibandingkan dengan seniman

dari daerah gaya lain.

8

b. Bayu sube seger buin siamin, artinya tenaga sudah besar lagi

disirami. Ungkapan ini merupakan ungkapan yang digunakan untuk

menunjukkan semangat para penabuh menyajikan repertoar yang

sesuai dengan karakternya, misalnya menyajikan gending tari

Tarunajaya, para penabuh seniman-seniman Gong Kebyar Buleleng

muncul semangat karena gending tari Tarunajaya disajikan dengan

cepat dan volume keras.

c. Menurut almarhum Gede Manik, setelan tungguhan kendang

gupekan dalam barungan gamelan Gong Kebyar Buleleng, suara

kendang gupekan yang dapat diucapkan berbunyi Gede Ketut (de

tut), de pengucapan suara kendang gupekan wadon, sedangkan tut

pengucapan suara kendang gupekan lanang. Suara kendang

gupekan de tut menunjukkan jarak suara kendang lanang dan

wadon relatif jauh sehingga tampak jelas perbedaannya, sedangkan

setelan kendang gupekan pada Gong Kebyar Bali Selatan dapat

diucapkan berbunyi Gede Putu (de tu), de pengucapan suara

kendang gupekan wadon dan tu suara pengucapan kendang gupekan

lanang. Suara kendang gupekan de tu menunjukkan jarak suara

kendang lanang dengan kendang gupekan wadon relatif dekat

sehingga perbedaannya kurang menjolok.

d. De patuhange duren Buleleng ajake duren Badunge, artinya

jangan disamakan buah durian dari Kabupaten Buleleng dengan

buah durian dari Kabupaten Badung. Isi dari ungkapan tersebut

terkait dengan gaya bahwa jangan disamakan Gong Kebyar Gaya

Buleleng dengan Gong Kebyar Gaya Badung, karena kedua gaya

tersebut mempunyai perbedaan yang sangat menonjol. Dari

ungkapan tersebut, almarhum I Gede Manik sangat fanatik dengan

gaya Gong Kebyar yang dimiliki sehingga beliaunya berprinsip

jangan menyamakan gaya Buleleng dengan gaya Badung.

Pengertian gaya disini diibaratkan dengan buah durian.

e. Pade ngabe sikut, artinya sama-sama mempunyai ukuran.

Ungkapan ini juga terkait dengan gaya yang terkait dengan garapan

(teknik) bahwa masing-masing gaya mempunyai “ukuran” yang

berbeda terutama yang bersifat substansi seperti rasa gending.

Selain itu juga dalam hal penggarapan volume, kecepatan, dan

teknik tabuhan, demikian ungkapan I Gede Manik (alm.).

f. Sajian gending-gending Gong Kebyar Gaya Buleleng dengan Gong

Kebyar Bali Selatan Bapak Gede Adnya mengibaratkan rasa

makanan, yaitu sajian gending-gending Gong Kebyar Gaya

Buleleng sebagai lalahe tabie (pedasnya lombok) yang langsung

dirasakan pedas pada mulut, sedangkan gending-gending Gong

Kebyar Bali Selatan diibaratkan lalahe merice (pedasnya merica),

9

artinya rasa pedas dirasakan setelah ditelan (setelah makanan

berada dalam perut).

 

 

 

KATA PENGANTAR

   Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa

Sehingga dapat menyelesaikan paper ini dengan baik dan lancar serta selesai tepat pada waktunya. Paper ini dibuat untuk memenuhi persyaratan perkuliahan jurusan seni karawitan semester 1 pada mata kuliah antropologi di sekolah perguruan tinggi institut Seni indonesia.

 

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurnma mengingat kemampuan yang penulis miliki sangat terbatas untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak untuk kesempurnaan tulisan ini di masa mendatang.

Denpasar, januari 2012

Penulis

 

 

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address

Previose Post: