Gender Wayang

Mei 24th, 2018

Gender Wayang

 

Exif_JPEG_PICTURE

Gender Wayang specifically is barungan alit which is gamelan puppet (Wayang Kulit and Wayang Wong) with the underlying instrument consisting of four containers slendro gender (five tones). Fourth gender is composed of a pair of gender pemade (tone rather large) and a pair Kantilan (tone rather small). Fourth gender, each bladed ten (two octaves) that are played using the two flanks.
Gender Wayang is a classical art still plays an important role in society, especially in the ceremony, especially in religious ceremonies in Bali. but the history of gender wayang is still unknown because there are still a lot of information that experienced at the crux of the news because there is interconnectedness with some tools and also influence each other include gong kebyar.
In the area of ​​Badung and Denpasar, in terms of form and the model is almost exactly as it is in North Bali especially Buleleng, container gender in the area of ​​Badung and Denpasar have a uniqueness that gender can be folded when it is played, (Interview with Ni Ketut Suryatini, SS.Kar,. M.Sn) on the campus of ISI Denpasar, dated March 8, 2017). Although the shape and exact model, where gender in both these areas has been spiked with a little ornamentation or decoration on adeg-adeg the form of some kind of motif as a sweetener and given a gold color accents of color prada.

 

Gamelan gender wayang is shaped blade and the blade sliced ​​lengthwise box shaped like a cube or something. The number of blades on gender wayang amounted to 10 bar. Each bar the use resonator made of bamboo which serves as a sound reflector of each bar. The tone used is tone (patet) selendro. And the tone begins with a large bladed low-pitched tone ndang or Ndong and ends dibilah tone is small and high-pitched tone or ndung nding, depending on the players who play.
Generally Gamelan Gender Wayang is an instrument slendro, but specifically in Bali slendro in Gamelan Gender Wayang is divided into three sections based on tuning or in Bali called the Saih. Those three are Saih Pudak Saih Setegal (Saih big), Asep menyan (Saih medium), Sekar kemoning (Saih small). Among the three Saih The course has a population of each area, this is caused by a factor of public taste and preferences of his own supporters. Gender bat puppets also have a club that is the pelvis that is generally shaped thin round like a wheel, but smaller and have straight handles or holders and a length of about 15 cm, and has a ring which is generally made from cow or buffalo horn. how to hold the pelvis in a way that is cradled between the pelvis above the index finger and middle finger under the handle, and the thumb of being behind the index finger to lock. how to play the gender wayang is to use two hands by smashing it with the pelvis and the lid by hand side, causing a melodious voice.

Technique plays and kind -type punch
Each motif puppet song has several different rhythms in each motif punch. Punch or punches gender different from the gender wayang vines, because gender wayang using techniques more difficult because the right hand and left hand plays a role or function differently. Otekan give right hand, melody, or trimmer principal tone, and the left hand is functioning as rhythm, but sometimes also as principal or principal melody tone, and also to decorate a simple melody. gender wayang also has several styles such as: style sukawati, Kayumas, delinquent, and there are a few more. each region or have the musical style and different types of punches. and the songs are different. but there are some songs or gending the same but still too few different punches.
Percussion in Wayang
Puppet show complete usually wear a percussion-based functions. Percussions which meant, among others
Pategak (opening) which is an instrumental percussion
Pamungkah gending percussion to accompany mastermind mantra puja offerings, opening the box puppet (kropak)
Gending Patangkilan percussion to accompany the scenes meetings / hearings
Gending lift-force percussion to accompany the busy scene as the camp of war and the departure of travel
Gending rebong percussion to accompany scenes of romance
Percussion tears gending to accompany the sad mood
Gending batel percussion to accompany scenes of war
Gending panyudamalan special percussion to accompany the ceremony pangruwatan (the Puppet Sapuh Leger)
Making process
Gender Krawang or puppets made of brass and yet with the changing era of today there are also gender puppets made of iron. As for how to make a way in molten brass and in print in such a way, and puree with a grindstone and then shaping the tone or set the tone at the bung-bung or bamboo for vibrational resonance tone. After the tone has been arranged properly then bung-bung in the container stacking on gender and the bar blades in pairs and associate each other.

BALEGANJUR KECAMATAN PAYANGAN DALAM RANGKA HUT KOTA GIANYAR

Mei 24th, 2018

PEMBAHASAN

DESKRIPSI HUT KOTA GIANYAR

Kabupaten Gianyar adalah sebuah kabupaten di Provinsi Bali, Indonesia. Daerah ini merupakan pusat budaya di Bali yang memegang erat tradisi Bali yang kini sudah hampir di tinggal oleh generasi muda. Gianyar berbatasan dengan kota Denpasar di barat daya, Kabupaten Badung di barat, Kabupaten Bangli di Timur dan Kabupaten Klungkung di tenggara. Sejarah kota Gianyar 247 tahun yang lalu 9 april 1771 yang berupa sebuah Kraton/ Puri Agung istana raja ida dewa manggis sakti, maka sebuah kerajaan yang berdaulat dan otonum telah lahir seta ikut pentas dalam percaturan kekuasaan kerajaan dibali. Puri agung gianyar yang telah ditentukan oleh syarat sekala niskala yang jatuh pada tanggal 19 april 1771. Berbagai gaya kepemimpinan dan seni memerintah dalam otonomi telah terparti dalam lembaran sejarah kota Gianyar. Prosesdinamika otonomi cukup lama sejak 19 april 1771 sampai 19 april 2018 saat ini, sejak kota keratin dibangun menjadi pusat perintahaan kerajaan yang otonomi sampai sebuah kota kabupaten, nama Gianyar di abadikan.sampai saat ini telah berusia 247 tahun, para pemimipin wilayah kotanya, dari raja(kerajaan), sampai bupati(kabupaten), memiliki ciri dan gaya serta seni memerintah sendiri-sendiri di bumi seniman. Dalam memperingati HUT Gianyar maka dibuatkan perayaan yang berupa parade dan pestifal yang didalamnya berisi lomba baleganjur antar kecamatan, parade gong kebyar serta banyak rangkaian kegiatan seni. Terkait dalam hal ini kami berkesempatan untuk membuat laporan mengenai serangkaian perayaan HUT kota gianyar yang di dalamnya kami berkesempatan membuat laporan tentang seleksi baleganjur antara kecamatan yang tujuannya untuk mewakili kabupaten gianyar dalam pesta kesenian bali pada bulan juni yang akan datang. Dalam penyeleksian ada tujuh kecamatan yang mengikuti seleksi diantaranya, kecamatan payangan, belahbatuh, sukawati, ubud, tampaksiring, tegalalang, dan kecamatan gianyar, dari semua kecamatan kami berkesempatan mengapresiasi kontingen dari kecamatan payangan. Dimana laporan tersebut bisa kami paparkan sebagai berikut.

SINOPSIS

Komposisi garapan baleganjur ini terinspirasi dari tradisi siat apidi banjar pandeje, desa malinggih kelod, kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar.  Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada waktu sore hari(sandikala) hari pengerupukan setelah upacara tawur kesange. Siat Api ini dalam pelaksanaannya menggunakan media serabut kelapayang dikumpulkan dan dinyalakan hingga membentuk bara api. Setelah api berkobar dan serabut kelapa terbakar perlahan warga berkumpul menjadi dua kelompok. Panasnya api ibarat gairah penuh energy pertanda siat api dimulai. Semangat mereka seperti terbakar untuk saling menyerang dan melempar satu sama lain dengan riang gembira sampai serabut kelapa yang sudah menjadi bara api mati dengan sendirinya dan tradisi siat api itu pun selesai. Dalam penggalan tradisi siat api merupakan lambang nyumya/ menetralisir Butha Kala yang bertujuan mewujudkan keharmonisan bhuana agung dan bhuana alit seperti yang disebutkan dalam lontar paka ghama tirta agar terjadi keharmonisan dimuka bumi ini. Dari gambaran tradisi siat api penggarap mentransportasikan kedalam bentuk komposisi Baleganjur kreasi yang mengutip pada tema yaitu teja dharmaning kauripan sehingga semua unsur elemen musik dan struktur komposisi dipupuskan pada adegan siat api. Suara ritmis ceng-ceng kopiak dipurba oleh gemuruh suara kendang serta jalinan riong dan pengolahan instrument kolotomik seperti gong, kempur dan bebende menguatkan Susana siat yang keras, tegas diselimuti oleh semangat siat yang membara.

 

REVIEW PEMENTASAN BALEGANJUR

Dalam pementasan baleganjur dari duta kecamatan payangan yang membawakan tema baleganjur teja dharmaning kauripan, mengangkat tradisi yang ada di banjar pandeje, desa malinggih kelod, kecamatan payangan. Dimana tradisi yang di laksanakan pada sore hari atau sandikala tepatnya setelah prosesi tawur kesanga diadakannya tradisi yang disebut siat api. Siat api merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat banjar pandeje, desa malinggih kelod, kecamatan payangan dengan menggunakan serabut kelapa yang dibakar lalu dilemparkan ke lawan kelompok, ketika melaksanakan siat api masyarakat banjar pandeje sangat bersemangat dan bergairah dalam melaksanakan tradisi siat api ini. . Dalam penggalan tradisi siat api merupakan lambang nyumya/ menetralisir Butha Kala yang bertujuan mewujudkan keharmonisan bhuana agung dan bhuana alit seperti yang disebutkan dalam lontar paka ghama tirta agar terjadi keharmonisan dimuka bumi ini. Dari gambaran tradisi siat api penggarap mentransportasikan kedalam bentuk komposisi Baleganjur kreasi yang mengutip pada tema yaitu teja dharmaning kauripan sehingga semua unsur elemen musik dan struktur komposisi dipupuskan pada adegan siat api. Suara ritmis ceng-ceng kopiak dipurba olehs gemuruh suara kendang serta jalinan riong dan pengolahan instrument kolotomik seperti gong, kempur dan bebende menguatkan Susana siat yang keras, tegas diselimuti oleh semangat siat yang membara. Dalam pementasan pada tanggal 12 april 2018 seke baleganjur bebedag poleng berhasil menampilkan yang terbaik hingga mampu memperoleh juara 1 antar kecamatan se-Kabupaten Gianyar.

 

 

IDE GARAPAN

Siat api sebagai ide garapan balaganjur ini diambil dari tradisi yang ada di desa payangan dimana penata tabuh mencoba untuk menuangkan ide siat api yang memiliki unsur budaya yang ingin diungkapkan melalui garapan balaganjur ini. Siat api ini dulunya diadakan setiap pengerupukan, dimana dulunya di desa payangan belum ada yang membuat ogoh-ogoh. Jadi setiap pengerupukan masyarakat melaksanakan tradisi siat api ini. Penata juga mencoba untuk mencerminkan unsur-unsur api yang identik dengan semangat yang berkobar dan juga suasana riang gembira dari tradisi ini. Penata berharap dengan diangkatnya siat api ini menjadi garapan balaganjur, tradisi siat api ini menjadi lebih dikenal oleh masyarakat luas. Dalam komposisi tabuh keseluruhan, inti dari tabuh balaganjur siat api ada pada bagian pengecet dimana penata menggambarkan pelaksanaan tradisi siat api dengan penuh semangat dan suka cita.

PROSES LATIHAN BALAGANJUR

Proses latihan balaganjur dari awal nuasen sampai menjadi garapan balaganjur yang utuh kira-kira memerlukan waktu 2 bulan. Penata mengatakan karena penabuhnya anak-anak jadi diperlukan pembinaan yang lebih khusus untuk mencari hasil yang sempurna. Disini peran tim  dari sekaa balaganjur ini sangat penting dalam pendampingi dan ikut serta membina anak-anak dalam setiap proses latihan balaganjur ini.

KENDALA DALAM PROSES LATIHAN BALAGANJUR

Dalam proses pembuatan balaganjur ini, hampir tidak ada kendala yang dialami dalam proses latihan. Karena penabuhnya anak anak dan anak- anak ini sedikit memiliki kegiatan selain sekolah, maka proses latihannya menjadi sangat efektif. Disamping itu semangat dari anak-anak untuk latihan juga sangat memberikan pengaruh yang positif bagi proses latihan balaganjur ini

BIOGRAFI PENATA TABUH

NAMA: I Wayan Arik Wirawan

TEMPAT/TGL LAHIR: Denpasar, 11 April 1991.

ALAMAT: Br. Kehen, Desa Kesiman, Kota Denpasar

JENJANG PENDIDIKAN: S1 Institut Seni Indonesia Denpasar, Angkatan Tahun 2009

 

TANGGAPAN FESTIVAL BALEGANJUR

Tanggapan kami terhadap festival baleganjur ini kami sangat mengapresiasi terhadap pementasan baleganjur di Kabupaten Gianyar dalam rangka memperingati HUT Kota Gianyar yang ke 247. Menurut kami dalam festival baleganjur ini telah melahirkan para generasi muda khususnya anak-anak yang mencintai tradisi dan budaya Bali khususnya pada barungan gamelan baleganjur hingga mampu menabuhkan gending baleganjur dengan tingkat kerumitan yang tinggi. Di ivent ini juga memberikan ruang bagi komposer-komposer untuk mengunjuk gigi/ menujukan kreatifitas dalam berkarya komposisi gending baleganjur kreasi. Tetapi perlu diadakannya porsi bagi penabuh baleganjur dewasa(remaja) dengan anak-anak karena baik dari segi penjiwaan, besik dan dalam hal tenaga anak-anak dangan remaja jauh berbeda. Karena dalam hal menabuh baleganjur porsi dewasa lebih mempunyai kesan yang dinamis serta dinantikan oleh masyarakat khususnya pecinta baleganjur.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Dapat kami simpulkan bahwa awal dari hari memperingati sejarah kota Gianyar berawal untuk mengenang dan menghormati raja-raja yang memerintah dimasa kerajaan/keraton kurang lebih pada tahun 19 april 1771 sampai saat ini yang masih di rayakan dengan mengadakan perayaan seperti adanya lomba penjor, lomba bomsai, parade gong kebyar, pawai, parade baleganjur dan masih banyak juga kegiataan yang lainnya. Dalam kesempatan ini kami diberikan kesempatan untuk membuat laporan mengenai apresiasi tentang parade baleganjur yang dilaksanakan pada tanggal 12 april 2018, dimana ada tujuh kecamatan yang ikut serta dalam parade baleganjur yaitu kecamatan sukawati, kecamatan belahbatuh, kecamatan tegalalang, kecamatan ubud, kecamatan payangan, kecamatan tampaksiring, kecamatan gianyar. Dari semua kecamatan tersebut kami membuat laporan apresiasi tentang baleganjur dari kecamatan payangan yang mengangkat tema siat api, dimana siat api merupakan tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat banjar pandeje, desa melinggih kelod, kecamatan payangan, yang kemudian ditranspormasikan ke dalam garapan baleganjur yang dinamis dan dengan keharmonisan.

KRITIK DAN SARAN

Hal yang harus perlu diperhatikan dalam pementasan beleganjur perlu adanya porsi baik lagu maupun gerak yang pas dengan anak-anak karena kami melihat anak-anak masih kesulitan dan memaksakan gerakan yang sulit dilakukan hingga pada pementasannya terkesan masih seperti menghapal namun tidak semua anak-anak yang pentas seperti itu hanya beberapa yang kami perhatikan masih menghapalkan gerak dari pada membawakan gending yang akan dipentaskan.

Deskripsi Tari Puspahredaya

Mei 24th, 2018

Tari Puspahredaya

Tari puspahredaya diciptakan oleh Ni Made Kinten pada tahun 1996 ini memiliki pengertian puspa yang artinya bunga dan hredaya yang artinya hati hening yang paling dalam jadi puspahredaya memiliki arti keheningan hati seorang penari dalam menyambut tamu dan para dewa dewi yang turun ke khayangan. Tarian ini biasanya dipentaskan oleh tiga pasang laki-laki dan perempuan, dimana penari laki-laki membawa tombak sedangkan penari penari perempuan membawa rangkaian bunga(puspa)

Tata Rias Tari Puspahredaya

Tata riasnya sama seperti tata rias pada umumnya. Tapi ada yang menonjol yaitu bagian bawah mata yang diberi eyeshadow dan goresan eyeliner. Tapi bisa diganti dengan hiasan diamond di pelipis. Yang dimaksud dengan tata rias adalah untuk mempertegas karakter seorang penari agar terlihat lebih cantik dan menarik. Tata rias tari Puspahredaya yaitu:

Alas bedak yaitu yang digunakan pertama pada saat memekapi seorang penari.

  • Bedak yaitu alat yang digunakan nomor 2 pada saat memekapi seorang penari.
  • Pupur yaitu digunakan untuk seorang penari agar kelihatan lebih putih dan anggun.
  • Pensil alis yaitu untuk mempertajam bulu alis agar lebih kelihatan.
  • Eyeshadow yaitu make-up yang digunakan pada kelopak mata:
    1. Warna biru bagian bawah melambangkan kebaikan.
    2. Warna merah bagian tengah melambangkan pemberani dan keceriaan.
    3. Warna kuning bagian atas melambangkan kesucian.
  • Merahpipi digunakan pada pipi seorang penari agar terlihat lebih cantik, anggun, dan kelihatan indah pada saat tersenyum, maka seorang penari kelihatan sangatcantik.
  • Lipstick yaitu digunakan pada bibir seorang penari guna untuk mengolesi bibir agar kelihatan lebih manis pada saat penari tersenyum.
  • Garis tengah yaitu yang dipasangkan pada jidat seorang penari agar kelihatan lebih gagah dan pemberani warna pada garis tengah yaitu merah dan hitam.
  • Eyeliner yaitu sebagai penegas garis mata.

 

 

 

Tata BusanaTari Puspahredaya

 

Tari puspahredaya dapat dicirikan dari busana yang digunakan penarinya. Para penari perempuan dan cowok mengenakan busana yang berbeda. Yang perempuan memakai gelungan dan yang peria memakai udeng . dengan memadukan konsep kain endek dan songket pegringsingan. Penata ingin memperlihatkan semua budaya karangasem dalam tarian yaitu dengan mengenakan kain tersebut yang asli dari tenganan pegringsingan.

Busana yang di gunakan adalah sangat lengkap terdiri dari :

Penari wanita :

  1. Gelungan
  2. Subeng
  3. Tutup dada( dari kain songket)
  4. Kain(sebagai saput)
  5. Kamen
  6. Ampok – ampok

Penari Pria :

  1. Celana khusus tari
  2. Kamen
  3. Sabuk prada
  4. Baju rompi
  5. Badong
  6. Ampok – ampok
  7. Gelang kana
  8. Udeng
  9. Bunga yang di pasang di telinga

 

   Properti Tari Puspahredaya :

  1. Wanita : karangan bunga membentuk seperti janur
  2. Pria : sebuah tombak

 

 

 

Ragam Gerak Tari Puspahredaya Wanita:

 

Ngegol sambil berjalan kedepan dengan mengangkat tangan keatas membawa properti,angkat kiri,ngeseh,piles kanan,agem kanan,nyelier sledet kanan,naik-turun,nyelier sledet kanan,naik-turun,nyelier sledet kanan,naik-turun.Nyelier sledet kanan,tangan pojok kiri ,Ngangget (gerakan tangan kiri berada didada barengan dengan angkat kaki kiri) angakat kaki kanan,ngeseh sledet kanan, cegut,ileg-ileg di sertai dengan tangan kiri lalu tangan kanan, angkat kaki kiri, angkat kaki kanan ngeseh,piles kiri, taruh, kaki kanan silang, kiri,maju, kanan, depan (menjadi agem kiri), naik – turun nyelier nyelier sledet kiri, naik- turun

 

 Ragam Gerak Tari PuspaHredaya Pria :

Berjalan malpal dengan membawa tombak, tanjek, agem kanan ,sledet , tanjek, angkat kaki kanan, turunkan kaki agem kiri sledet , tanjek, angkat kaki kiri serta tangan ngagem, turunkan kaki , lalu memutarkan properti ( tombak) sebanyak tiga kali.

 

  Sinopsis Tari Puspahredaya:          

 

Tari puspahredaya diciptakan oleh Ni Made Kinten pada tahun 1996 ini memiliki pengertian puspa yang artinya bunga dan hredaya yang artinya hati hening yang paling dalam jadi puspahredaya memiliki arti keheningan hati seorang penari dalam menyambut tamu dan para dewa dewi yang turun ke khayangan.

PENAMPILAN GONG KEBYAR DI FESTIVAL GONG KEBYAR

Mei 24th, 2018

PENAMPILAN GONG KEBYAR DI FESTIVAL GONG KEBYAR

            Gamelan gong kebyar adalah seprangkat alat music Bali yang sangat popular karena sifat dan karakternya dinamis, ekspresif, dan fleksibel serta memiliki penampilan yang menarik dan baik bangun instrument maupun reportoar lagunya. Nuansa kebyar dapat membuat menabuh maupun penonton luluh dalam ekspresinya di PKB. Tapi penabuh tidak hanya hanya trampil dalam penguasaan teknik saja yang di pentaskan tetapi juga tampil dengan akting dan gerak-gerakan yang harmonis yang akan memberi kesan esteti yang indah. Penampilan inilah yang memberikan ciri khas permainan kebyar dibandingkan dengan karawitan lainnya di PKB tapi tidak di pungkiri dari keseluruhan pementasan pertunjukan karawitan yang ada di Pesta Kesenian Bali hampir semua ensambel barungan karawitan memakai kekebyaran. Secara garis besar ketrampilan yang dimaksud disini adalah kemampuan seka Gong yang pentas di panggung dalam penguasaan dalam beberapa hal seperti teknik permainan yang di Bali disebut gegebug. Penguasaan unsur-unsur musikalitas, penguasaan komposisi dan kemampuan penghafalan lagu-lagu yang dimainkan sehingga mengungkapkan keindahan suara musical secara sempurna danmusik sesuai dengan bentuk, sifat dan karakteristik yang telah ada dalam alat music Gong Kebyar itu sendiri, dan teknik juga dapat dijadikan indikator pokok dalam menampilkan gaya(style) per-Kabupaten/kota. Dan sesuai dengan konsep audio visual dalam pertunjukan dalam pertunjukan karya music Gong Kebyar di PKB, ketrampilan untuk memenuhi keindahan audio juga diperlukan ini bisa dilihat dari adanya sound system yang akan memperjelas suara per ensambel gong kebyar agar merata dan jelas jika di dengar dari kejauhan apalagi di PKB tempat pementasan Gong Kebyar berada di Panggung Terbuka Ardha Candra.

 

Tradisi Megibung di Kabupaten Karangasem

Mei 24th, 2018

Megibung merupakan tradisi makan bersama dalam satu wadah yang dimiliki oleh masyarakat Karangasem Bali, tradisi megibung atau makan bersama dalam satu wadah ini juga dikenal dengan bancakan. Dalam tradisi unik megibung ini semua peserta berbaur tanpa memandang status sosial ataupun kasta. Megibung bukanlah upacara adat melainkan kebiasaan atau tradisi masyarakat di kabupaten Karangasem. Megibung dapat juga diartikan sebagai makan bersama. Arti megibung adalah suatu proses atau kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat atau sekelompok orang orang duduk bersama saling berbagi bersama satu sama lain, terutama dalam hal makanan. Megibung kini telah menjadi tradisi unik khas Kabupaten Karangasem. Megibung merupakan tradisi kuno warisan kerajaan Karangasem, Bali. Tradisi yang diciptakan untuk meningkatkan rasa kebersamaan warga.

Megibung berasal dari kata Gibung yang berarti kegiatan yang dilakukan oleh banyak orang untuk saling berbagi  satu dengan yang lainnya, sedangkan awalan me- berarti melakukan suatu kegiatan. Megibung pada awalnya terdiri dari delapan orang yang dilakukan dengan duduk bersama membentuk lingkaran.

Megibung yang kini menjadi tradisi dimulai dari tahun 1692 Masehi, ketika Raja Karangasem, I Gusti Anglurah  Ketut Karangasem, saat berperang menaklukan kerajaan-kerajaan di Sasak pulau Lombok. Dimana beliau membuat aturan makan bersama kepada prajurit saat istirahat makan yang disebut megibung. Hingga saat ini tradisi megibung masih dilaksanakan di Karangasem dan Lombok. Kini Megibung sering digelar berkaitan dengan berbagai jenis upacara adat dan agama Hindu, seperti potong gigi, otonan, pernikahan, piodalan di pura dll.

 

 

 

2.2       Sajian dan Tata Cara Megibung

Sajian megibung, adalah berbagai masakan khas Bali yang mana bahan dasarnya hampir semuanya dari babi. Namun di Lombok (Sasak), dikenal juga gibungan tan seni. Sajian dalam gibungan tan keni sama masakan khas Bali. Hanya berbeda bahan dasar yang digunakan . gibungan tan keni, bahan dasarnya kerbau, sapi, bebek, atau hewan lain yang bukan dari babi. Megibung penuh dengan tata nilai dan aturan yang khas. Dalam megibung, nasi dalam gundukan dalam jumlah banyak ditaruh ditengah dengan wadah yang dialasi daun pisang. Dimana orang-orang yang akan megibung duduk bersila dan membentuk lingkaran. Satu porsi nasi gibungan dinikmati oleh satu kelompok yang disebut satu sela terdiri dari delapan orang atau kurang. Megibung biasanya terdiri banyak sela bahkan hingga puluhan sela. Setiap sela dipimpin oleh pepara, orang yang dipercaya dan ditugasi menuangkan lauk-pauk di atas gundukan nasi secara bertahap.

Orang-orang yang megibung harus mengikuti tata tertib dan aturan makan yang ketat. Sebelum dimakan, nasi diambil dari nampan dengan cara dikepal memakai tangan. Kemudian dilanjutkan mengambil daging dan lauk-pauk lainya secara teratur. Sisa makanan dari mulut tidak boleh berceceran di atas nampan. Air putih untuk minum disediakan didalam kendi dari tanah liat. Untuk satu sela disediakan dua kendi. Minum air dilakukan dengan nyeret, air diteguk dari ujung kendi dimana bibir tidak boleh menyentuh kendi, Selesai megibungbiasanya dilanjutkan dengan acara minum tuak. Selesai makan , orang tidak boleh meninggalkan tempat tetapi menunggu orang atau sela lain menyelesaikan makannya secara bersama.

Aturan dalam Megibung :

  • Orang paling tua atau tetua yang bertugas membagikan makanan pada saat megibung
  • Tidak boleh mengambil makanan orang di sebelah kita.
  • Jangan menjtuhkan sisa makanan kita makan di atas wadah megibung
  • Membagi lauk atau daging jangan menggunakan mulut.
  • Terdapat urutan dalam membagikan lauk pada saat megibung seperti contoh sayur sebagai pembuka dan terakhir adalah sate.

Tradisi megibung tidak hanya dilakukan oleh orang Karangasem dan Lombok yang beragama Hindu. Komunitas muslim di Karangasem, seperti Kecicang, Saren Jawa, dan Tohpati juga biasanya menggelar acara megibung.

 

2.3       Perkembangan Tradisi Megibung pada Masa Ini

Seiring dengan perjalanan waktu dalam kegiatan upacara adat ataupun agama di Karangasem tidak hanya menyediakan hidangan megibung bagi peserta upacara ataupun undangan tetapi juga makan prasmanan atau istilah yang lebih terkenal yaitu makan jalan. Hal ini dilandasi bahwa pergaulan masyarakat tidak sesempit masa dulu, sehingga orang yang mengadakan upacara tidak hanya mengundang kerabat – kerabat di Karangasem tapi juga keluar Kabupaten ataupun keluar Bali. Kalau hidangan megibung dipaksakan teruntuk orang luar ada yang mau – mau saja bahkan tertarik dan senang, da nada juga yang bengong saja karena tidak biasa istilah Balinya “kilang-kileng”. Terlebih lagi bila

mengundang pejabat setempat ataupun pemuka adat serta agama akan lebih etis bila mereka disuguhi hidangan prasmanan. Akan tetapi makanan prasmanan tidak hanya disantap para undangan dari luar tidak menutup kemungkinan orang setempat tidak memilih untuk megibung, vegetarian, atau takut mendapat celaka “keracunan” , karena megibung juga dipakai media untuk menerapkan ajaran penesti atau ilmu untuk ilmu mencelakai orang secara halus.