andinasuldastyasa


review 5 buku

⊆ July 13th by | ˜ No Comments »

Judul: Hasil Pendokumentasian Notasi Gending-Gending Lelambatan Klasik Pegongan Daerah Bali.

Penulis: I Nyoman Rembang

Penerbit: Departemen Pendidikan dan kebudayaan Proyek Pengembangan kesenian Bali. 1984/1985

Pada buku ini terdapat dokumen dalam bentuk notasi lagu dalam usahanya menggali atau menyelamatkan gending-gending klasik yang telah sekian lama mengalami kelesuan, sampai saat ini dapat dikumpulkan sebanyak tiga puluh enam buah lagu yang berukuran panjang dan tujuh buah tabuh telu. Jumlah ini adalah belum seluruhnya, melainkan masih banyak yang pernah ada namun belum sempat dinotasi semuanya.

Kata Kunci: notasi lagu.

Judul: Terjemahan Dan Kajian Nilai Astadasaparwa

Penulis:                  I Nengah Mahendra

Ida Bagus Udara Naryana

I Nyoman Sukartha

Komang Paramartha

Penerbit: Proyek Dan Pengkajian Kebudayaan Bali Direktorat Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan 1986

Tiga aspek penelitian dan pengkajian yang ditangani oleh proyek pada tahun anggaran 1985/1986 ini yaitu aspek tradisi lisan, aspek terjemahan, dan aspek transliterasi. Ketiga aspek ini dilaksanakan oleh tim tersendiri dengan judul “Pengolahan makanan Khas Bali”, “Terjemahan Dan Kajian Nilai Astadasaparwa”, dan “Translitersi dan Kajian Nilai Tantri Pisacarana”.

Aspek terjemahan Astadasaparwa diprioritaskan dalam penggarapannya karena karya sastra ini mengandung nilai-nilai budaya Bali yang menunjang sistem budaya Bali dalam rangka mempertinggi daya piker untuk menghadapi proses transformasi akibat pembangunan (modernisasi). Dengan demikian, nilai-nilai tersebut sangat dapat disebarluaskan melalui penularan berupa buku seperti ini di samping bisa juga penularannya dengan cara yang lain.

Kata kunci: karya sastra

Judul: Pendidikan kejuruan

Penulis: Helmut Nolken

Eberhard Schoenfeldt

Penerbit: PT Gramedia, Jakarta, 1988

Buku ini membahaasmasalah pendidikan kejuruan. Terdiri dari lima bagian, masing-masing menjelaskan tentang: kaidah-kaidah pedagogi, perencanaan kurikulum, didaktik pendidikan kejuruan, dengan bidang kejuruan menggambar teknik sebagai contoh penjelasan, dan pengaturan pendidikan.

Informasi yang disusun dalam buku ini merupakan kombinasi olahan atara hasil-hasil penelitian bidang pengjaran, pembangunan kurikulum, dan manajemen pendidikan kejuruan. Semuanya disesuaikan dengan lingkup penelitian dan kondisi yang dihadapi oleh kaum muda dewasa ini di Negara-negara maju dan Negara-negara yang sedang berkembang.

Kata kunci: Pendidikan Kejuruan

Judul: Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran

Penulis: Drs. H. Zainal Aqib, M.Pd.

Penerbit: Insan Cendekia, Surabaya, 2002.

Buku ini berisi tentang pokok masalah pendidikan dan pembelajaran diharapkan menjadi acuan bagi guru-guru dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah, yaitu bagaimana seorang guru dapat mengajar dengan baik, sehingga tujuan instruksional bisa tercapai sebagai mana yang diharapkan.

Kata kunci: Profesionalisme Guru.

Judul: Konjungsi Dan, Atau, Tetapi

Penulis: AG. Gianto

Penerbit: Yayasan Kanisius, 1983.

Pokok yang diteliti dalam karangan ini memang cukup sempit, yakni memakai tiga konsep bahasa Indonesia dan, atau,tetapi dipandang dari perilaku sintaktis dan semantisnya.

Dengan pokok yang sempit itu diharapkan dapat dikerjakan suatu analisis yang cukup merinci sehingga menjadi sumbangan bagi penelitian bahasa Indonesia pada umumnya.

Kata kunci: Konjungsi.


Topic: Lainnya | Tags: None

Sejarah Gamelan Kembang Kirang di Banjar Tangkup Tegalalang

⊆ April 6th by | ˜ No Comments »

Timbulnya barungan gambelan kembang kirang suci di Banjar Tangkup Tegalalang ,dimulai dari dibuatnya barungan gamelan Angklung Klentangan yang merupakan satu-satunya kesenian yang menjadi kebanggaan masyarakat di Banjar Tangkup,sampai sebelum tahun 1940.

Tidak dapat diketahui dengan pasti,kapan gambelan Angklung klentangan tersebut tumbuh.Namun hanya dapat diungkapkan bahwa,Gamelan Angklung ini pernah menjadi kegemaran bagi warga Puri Agung di Gianyar.Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa,setiap kali pihak Puri Agung Gianyar menyelenggarakan suatu upacara yadnya,maka sekaa Angklung dari Banjar Tangkup tidak pernah luput untuk “ngaturang ayah” guna memeriahkan suasana upacara tersebut.

Lebih lanjut informan I Wayan Wiri asal dari Banjar Tangkup mengatakan bahwa, pada tahun 1940 di Puri Agung Gianyar sedang diselenggarakan serangkaian upacara yadnya yang cukup besar.Pada kesempatan tersebut sekaa Angklung dari Banjar Tangkup turut pula memeriahkan upacara itu dengan kebolehannya menabuh gamelan.Pada pelaksanaan upacara tersebut selain telah dimeriahkan oleh suara angklung klentangan,turut pula ditabuh beberapa jenis barungan gamelan yang lain seperti Gong Gede,Gender Wayang,Gambang,serta gamelan Kembang Kirang dari desa Kamasan Kelungkung.

Penampilan barungan gambelan kembang kirang dari desa kamasan kelungkung, adalah betul-betul sempat memukau para peserta upacara tersebut. Demikian pula halnya dengan para sekaa angklung dari banjar tangkup, selain merasa kagum akan penampilan gamelan kembang kirang itu, pada kesempatan itu pula mereka mulai memperbincangkan keinginan mereka untuk dapat memiliki barungan gambelan kembang kirang. Dalam pikiran mereka membayangkan, betapa lebih mantapnya apabila mereka dapat memainkan gambelan angklung panca nada yang berbilah sepuluh itu.

Demikianlah hal tersebut senantiasa menjadi angan-angan serta menjadi bahan perbincangan setiap kali berkumpul dengan teman-temannya. Sampai pada akhirnya tercetuslah idenya untuk menambah beberapa jenis instrumen angklungnya untuk bisa di jadikan barungan gambelan kembang kirang.

Kemudian atas prakarsa dari pemuka masyarakat yang antara lain dapat disebutkan yaitu : I Nyoman Degeng, I Wayan Liah, I Ketut Teka, I Wayan Sambut, serta berkat dukungan dari “Kerama Banjar” Tangkup, maka pada tahun 1949 Gambelan kembang kirang yang senantiasa menjadi impian masyarakat di Banjar Tangkup, brhasil didirikan dengan biyaya sebanyak 80 (delapan puluh) ringgit, yang dikerjakan oleh “Pande Gambelan” dari Tiyingan Kelungkung yang bernama Bapan Geriya.

Oleh pande gambelan tersebut, sebelumnya dapat menyampaikan kepada masyarakat di Banjar Tangkup bahwa, Gambelan Kembang Kirang yang mereka miliki itu nantinya akan menjadi barungan gambelan yang “tenget” Namun ketika itu Masyarakat di Banjar Tangkup, belum percaya degan penyampaian pande tersebut.

Setelah gambelan itu dicoba untuk mengadakan latihan-latihan, ternyata ada saja keributan-kerubutan yang terjadi di dalam latihan.

Akhirnya semenjak saat itu, mereka telah mempunyai keyakinan bahwa, Gambelan Kembang Kirang mereka itu adalah dianggap keramat. Kiranya anggapan dan keyakinan mereka akan hal itu, akhirnya telah mendorong hati mereka untuk menghubungkan pengertian keramat itu adalah sama dengan “suci”.

Demikianlah kemudian barungan gambelan yang mereka miliki itu dinamai “Gambelan Kembang Kirang Suci” Sampai sekarang masi menjadi kebanggaan bagi masyarakat pendukungnya.

Kiranya perlunya penulis ungkapkan disini bahwa, sebagai mana umumnya yang kita jumpai di Bali, yaitu “sekaa” biasa menyimpan alat-alat gambelannya di tempat-tempat yang khusus. Tempat menyimpan gamelan biasanya disebut “Cegong” atau Bale Gong.

Kenyatan yang penulis jumpai di Banjar Tangkup adalah sangat unik, di mana barungan gambelan kembang kirang ini tidak pernah disimpan di dalam ruangan, melainkan tetap di gelar di aula balai banjar Tangkup.

Masysrakat di Banjar Tangkup mengatakan bahwa, setiap kali gambelan tersebut disimpan di dalam bale gong, maka suatu keributan-keributan akan slalu saja terjadi. Kenyataan yang sering dialami inilah, nampaknya telah menambah suatu kepercayaan mereka bahwa gambelan yang mereka miliki itu adalah memang benar-benar kramat (suci).

DIKUTIP DARI BUKU KARYA ; BAPAK I WAYAN WENDRA Ssn.


Topic: Lainnya | Tags: None

Sejarah Gamelan Kembang Kirang di Banjar Tangkup Tegalalang

⊆ April 6th by | ˜ No Comments »

Timbulnya barungan gambelan kembang kirang suci di Banjar Tangkup Tegalalang ,dimulai dari dibuatnya barungan gamelan Angklung Klentangan yang merupakan satu-satunya kesenian yang menjadi kebanggaan masyarakat di Banjar Tangkup,sampai sebelum tahun 1940.

Tidak dapat diketahui dengan pasti,kapan gambelan Angklung klentangan tersebut tumbuh.Namun hanya dapat diungkapkan bahwa,Gamelan Angklung ini pernah menjadi kegemaran bagi warga Puri Agung di Gianyar.Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa,setiap kali pihak Puri Agung Gianyar menyelenggarakan suatu upacara yadnya,maka sekaa Angklung dari Banjar Tangkup tidak pernah luput untuk “ngaturang ayah” guna memeriahkan suasana upacara tersebut.

Lebih lanjut informan I Wayan Wiri asal dari Banjar Tangkup mengatakan bahwa, pada tahun 1940 di Puri Agung Gianyar sedang diselenggarakan serangkaian upacara yadnya yang cukup besar.Pada kesempatan tersebut sekaa Angklung dari Banjar Tangkup turut pula memeriahkan upacara itu dengan kebolehannya menabuh gamelan.Pada pelaksanaan upacara tersebut selain telah dimeriahkan oleh suara angklung klentangan,turut pula ditabuh beberapa jenis barungan gamelan yang lain seperti Gong Gede,Gender Wayang,Gambang,serta gamelan Kembang Kirang dari desa Kamasan Kelungkung.

Penampilan barungan gambelan kembang kirang dari desa kamasan kelungkung, adalah betul-betul sempat memukau para peserta upacara tersebut. Demikian pula halnya dengan para sekaa angklung dari banjar tangkup, selain merasa kagum akan penampilan gamelan kembang kirang itu, pada kesempatan itu pula mereka mulai memperbincangkan keinginan mereka untuk dapat memiliki barungan gambelan kembang kirang. Dalam pikiran mereka membayangkan, betapa lebih mantapnya apabila mereka dapat memainkan gambelan angklung panca nada yang berbilah sepuluh itu.

Demikianlah hal tersebut senantiasa menjadi angan-angan serta menjadi bahan perbincangan setiap kali berkumpul dengan teman-temannya. Sampai pada akhirnya tercetuslah idenya untuk menambah beberapa jenis instrumen angklungnya untuk bisa di jadikan barungan gambelan kembang kirang.

Oleh : Bapak Wayan Wendra. S.sn.


Topic: Lainnya | Tags: None