<

1. Sejarah Berdirinya Gong Kebyar Di Desa Pekraman Peninjoan, Kec. Tembuku, Kab. Bangli

 

  • Tujuan Penulisan

Pembuatan tulisan ini bertujuan tiada lain agar para generasi di desa peninjoan tetap tahu sejarah awal adanya gong kebyar di desa peninjoan, selain itu kita juga dapat mengukur perkembangan gong kebyar yang ada di desa peninjoan apakah perkembangannya maju ataukah menurun. Dapat juga kita tahu siapa-siapa saja yang berperan penting dalam adanya gong kebyar di desa peninjoan. Tapi sebelum saya menulis tentang ini mungkin tidak ada banyak yang bisa saya tulis  karena gong kebyar di desa peninjoan ini ada baru dari tahun 80-an sehingga sejarahnya pun sangatlah sedikit sehingga saya minta maaf atas segala kekurangan dalam tulisan saya ini.

A. Keterangan Beberapa Tokoh Yang Berperan Dalam Pengadaan Gong Kebyar Di Desa Pekraman Peninjoan

 

  • Alm. I Nengah Murdi

Menurut wawancara saya dengan I Made Degdeg, 75th ( Mantan kelian di Desa Pekraman Peninjoan) hari minggu 29 september 2013, Alm. I Nengah Murdi sangatlah berperan dalam adanya Gong Kebyar di Desa Peninjoan. Berawal dari kepeminpinan I Nengah Murdi pada saat itu sekitar tahun 1985 hampir semua desa-desa tetangga sudah memiliki Gong Kebyar sedangkan Di Desa Pekraman Peninjoan belum. Setip ada Wali atau odalan di Pura Puseh Desa Peninjoan selalu mengundang sekhe gong dari luar desa tersebut terutama Desa Pekraman Manikaji agar bisa ngayah menabuh dalam odalan tersebut. Dari permasalahan itulah Alm. I Nengah Murdi mengadakan parum atau rapat dengan seluruh masyarakat untuk membicarakan akan membeli gong kebyar, tetapi ada satu permasalahan lagi yang muncul yaitu uang  kas di desa tidak cukup untuk membeli gong kebyar dan juga masyarakat pada jaman itu ekonominya juga kurang sehingga kalau urunan lagi untuk membeli gong tersebut sekiranya masyarakat tidak sanggup. Maka dari itu Nengah Murdi memutuskan untuk menjual tanah labe desa ( milik Desa)  berupa sawah  yang berluas 25are, hasil penjualan tanah tersebut akan di gunakan untuk membeli Gong kebyar dan sisanya di simpan untuk kas desa.  Walaupun ada dua atau tiga orang tidak setuju namun karena sebagian besar masyarakat setuju akhirnya Nengah Murdi menjalankan rencana untuk menjual tanah tersebut. Dari hasil penjualan tanah tersebut di dapatlah uang sebesar 50 juta, saat itu juga langsung beliau pergi ke Tihingan Klungkung untuk mempertanyakan berapa  harga satu barung gong kebyar setelah terjadi tawar menawar akhirnya dikasi harga satu barung itu sebesar 38 juta rupiah namun pelawahnya tidak di ukir atau yang disebut lelengisan. Waktu itu Nengah Murdi tidak langsung memesan tetapi beliau mengadakan rapat lagi sekali untuk menyampaikan bahwa dikasi harga 38juta untuk satu barung gong kebyar. Mendengar seperti itu masyarakat langsung setuju dan menyuruh langsung saja membelinya. Kesokan harinya Nengah Murdi bersama kasinoman langsung memesan gamelan Gong kebyar tersebut.

Setelah menunggu sekitar 2 bulan akhirnya sebarung gamelan gong kebyar itu pun selesai dan dibawakan sampai di balai banjar Desa Pekraman Peninjoan. Masyarakat sangat antosias menoton gamelan yang baru datang terebut serta mereka bertanya-tanya apa nama dari masing-masing instrument yang ada pada Gamelan Gong Kebyar terebut kepada pande yang membawakan gamelan itu. Masing-masing instrument dalam Gong Kebyar waktu itu adalah:

  • 2 buah (sepasang) Gong lanang wadon
  • 1 buah kempur
  • 1 buah bebende
  • 1 buah kemong
  • 4 buah kantil
  • 4 buah gangse pemade
  • 1 buah giying/ugal
  • 1 buah kajar
  • 2 buah (sepasang) kendang cedugan lanang wadon
  • 1 buah (tungguh) terompong
  • 1 buah (tugguh) reong
  • 1 buah kecek
  • 4 pasang ceng-ceng besar
  • 1 buah tawa-tawa

Setelah gong sudah ada tetapi sayang sekhenya belum ada. Maka dari itu Nengah Murdi membentuk sekhe dari butbutan ( mengambil) orang-orang yang hobi di bidang megambel, dan setiap satu pekarangan harus ada satu orang yang ikut dalam sekhe gong. Tapi di Desa Pekraman Peninjoan sekhe gong tidak memiliki struktur kepengurusan namun langsung di organisir dari desa pekraman tetapi sekhe gong di peninjoan ini sering di sebut Pengiring (karena di anggap mengiringi setiap Ida Betara melasti maupun kalau ada odalan). Setelah sekhe terbentuk barulah mencari pelatih-pelatih salah satunya dari Lepang Klungkung yag mengajarkan tabuh-tabuhh lelambatan klasik seperti tabuh pat semarandhana, ada juga peatih dari Demulih Bangli yang mengajarkan tabuh pat gari, prianom, tabuh telu dll. Karena keuletan blajar menabuh sehingga sekhe gong ini tidak jarang diminta untuk ngayah ke pura di banjar lain. Bahkan sekitar awal tahun 1985 di Desa Pekraman Peninjoan dapat membuat drama gong dengan Pembina tari  alm.I Nengah Murdi sendiri sedangkan pembina tabuh mencari dari luar, drama gong tersebut lumayan sukses dan di gemari bahkan jug adapt pentas ke luar banjar atau ke luar daerah seperti daerah Karangasem. Beigutal jasa alm I Nengah Murdi sebagai penggagass adanya Gong Kebyar di Desa Pekraman Peninjoan.

  • Alm. Sang Alit Suteja

Menurut wawancara dari  narasumber yang sama, alm. Sang Alit Suteja  juga berperan dalam Gong Kebyar yang ada Desa Pekraman Peninjoan.

Setelah usainya kepeminpinan alm. I Nengah Murdi di Desa Pekraman Peninjoan, drama gong pun sudah mulai lapuk bahkan boleh dibilang punah. Pada tahun 2000 saat alm. Sang Alit Suteja menjadi Bendesa Adat. Di lihat keadaan plawah Gong Kebyar  sudah sangat lapuk bahkan ada yang sudah tidak layak pakai.  Dari keadaan tersebutlah beliau melakukan rapat untuk mengganti plawah gamelan tersebut kebetulan waktu itu desa memiliki kas untuk membeli pelawah. Masyarakatpun setuju dan akhirnya pelawah gong kebyar itu di ganti dengan pelawah yang di ukir dan di prade. Setelah itu sekhe gong lebih semangat lagi  megambel dan ngayah-ngayah di pura.

2.Perkembangan Gamelan Gong Kebyar Di Desa Pekraman Peninjoan Saat Ini.

Perkembangan Gong Kebyar di Desa Peninjoan  memiliki perkembangan yang pasang surut, puncak kejayaannya adalah pada tahun 2011 lalu bahwa sekhe gong anak-anak Sanjiwani Desa Pekraman Peninjoan mewakili Kabupaten Bangli dalam event  Parade Gong Kebyar anak-anak  Pesta Kesenian Bali (PKB). Itu semua bermula tahun 2009 dari dana pesraman kilat program pemerintah Provinsi Bali di Desa peninnjoan membentuklah sekhe gong anak-anak, yang di prakarsai oleh Sang Anom Subadra ( Bendesa pada saat itu). Mulailah sekhe gong anak-anak ini berlatih dari nol dengan susah payah yang pelatihnya bernama Dewa Nida. Mungkin karena suatu alasan di tengah perjalanan latihan beliau berhenti menjadi pelatih, itu membuat sekhe gong anak-anak semangatnya menurun bahkan latihan dapat berhenti hingga berbulan-bulan. Menanggapi hal itu oleh Bendesa pada waktu itu saya di printahkan untuk menghadap ke dinas Kebudayaan dan Pariwisata kab. Bangli utuk mendapatan pelatih yang bisa membibing anak-anak istilah balinya ngempu agar kedepanya bisa mengikuti  ajang bergengsi Parade Gong Kebyar anak-anak.

Setelah mendapat perintah, saya dan ayah saya langsung menghadap ke Dinas Budpar Kab. Bangli, dari petunjuk di sana saya di suruh menghubungi AA Gd Dalem dari tatiapi Gianyar yang saat itu bekerja menjadi guru di SMK Seni Bangli. Kemudian saya langsung menemui beliau , dengan sedikit bujukan akhirnya beliau bersedia menjadi Pembina Sekhe gong anak-anak di Desa Peninjoan. Dengan mencari duase(hari baik) sekhe gong anak-anak- sanjiwani mulai berlatih lagi, pertama yang di berikan adalah iringan tari telek, dan berlanjut ke gending-gending lain. Dengan berjalannya waktu skhe gong anak-anak sanjiwani pun dapat memainkan beberapa gending dan bisa ngayah-ngayah di pura.

Awal tahun 2011, karena sekhe gong anak-anak sanjiwani di lirik mampu  dan sudah memenuhi syarat untuk mewakili Kabupaten ke ajang parade gong kebyar anak-anak  PKB, akhirnya di pilihlah sekhe gong anak-anak Sanjiwani mewakili Bangli ke ajang tersebut. Dari dana yang ada karena merasa gong di desa masih kurang dibelikanlah lagi kekurangannya yaitu 2 buah Penyahcah dan 9 suling meliputi 8 suling besar dan 1 suling kecil sehingga Gong Kebyar di desa pekraman peninjoan saat ini sudah sangat lengkap.

Dari latihan secara susah payah selama 4 bulan sekhe gong anak-anak Sanjiwani tampil di panggung terbuka Ardha Candra art center Denpasar mebarung melawan duta dari Kab. Badung, dengan materi: Tabuh Kreasi Pepanggulan “Jagir Kintamani” , tari legong Guak Macok, Tari Kreasi baru yang berjudul Tari Tirta Sanjiwani, dan dolanan yang berjudul  mebuncul-bunculan. Usai penampilan tersebut sekhe gonganak-anak sanjiwani mendapatkan banyak pujian dari kalangan masyarakat maupun seniman bahwa penampilannya sangat baik tanpa adanya kekurangan dan disuruh agar dapat mempertahankan sekhe ini supaya tetap aktif sehingga bisa menjadi pewaris sekhe gong di Desa Pekraman Peninjoan.

Begitulah sejarah Gong Kebyar Di Desa Pekraman Peninjoan sampai saat ini bisa memiliki instrument yang lengkap bahkan juga sudah menpunyai generasi sekhe gong, yakni sekhe gong anak-anak sanjiwani. Mengenai struktur organisasi, karena skhe gong di desa pekraman Peninjoan langsung berada di bawah desa pekraman sehingga sekhe gong tidak memiliki organisasi yang khusus.

Demikianlah sejarah Gong Kebyar di Desa Pekraman Peninjoan yang bisa saya sampaikan, mohon maaf apabila ada kekurangan yang tentunya tidak saya sengaja.

  • Daftar informan
  1. I Made Degdeg, 75 tahun  (mantan kelian di Desa Pekraman Peninjoan)
  2. I Nyoman Purnayasa, 45 tahun ( Mantan Bendesa Adat Desa Pekraman Peninjoan sekaligus tokoh kesenian di Desa Pekraman Peninjoan)

 

 

Oktober 16th, 2013 at 11:01 am