GONG GEDE SEBAGAI BARUNGAN PENUH MAKNA MASYARAKAT BANGLI

This post was written by agussetiawan on April 11, 2018
Posted Under: Tak Berkategori

Barungan Gong Gede Sebagai Barungan Penuh Makna Masyarakat Bangli

 

Seni karawitan sebagai salah satu warisan seni budaya Bali senantiasa mengalami proses pembaharuan atau inovasi yang ditandai dengan masuknya gagasan baru dalam setiap karya karawitan yang dihasilkan.Hal tersebut merupakan wujud dari suatu proses perubahan yang diupayakan untuk mencapai keadaan yang sesuai tuntutan masyarakat modern.

Namun sebagaimana yang terjadi dalam seni karawitan Bali, akibat terklalu gencarnya para seniman muda saling berlomba untuk membuat hal yang baru, berdampak pengaruh besar terhadap seni karawitan tradisional dimana ha itu menyebabkan semakin berkurangnya minat generasi muda untuk mempelajari seni karawitan tradisional Bali seperti Gong Gede.

 

Gong Gede merupakan gamelan golongan madya yang di perkirakan telah ada pada abad ke-15 hingga abad ke-16 dan salah satu tempat di Denpasar yang memiliki barungan gamelan Gong Gede adalah Puri Pemecutan yang dulunya merupakan milik Puri Denpasar  (Arya Sugiartha, 2012:23)

Gong Gede tarmasuk barungan ageng namun langka , karena hanya ada di beberapa daerah saja. Gamelan Gong                                       Gede yang terlihat memakai sedikitnya 30 macam instrument berukuran relatif besar.Gamelan yng bersuara agung ini dipakai untuk memainkan tabuh lelambatan klasik yang cenderung formal namun dinamis, dimainkan untuk mengiringi upacara besar di Pura.(Bandem,2013:32)      dan merupakan music tradisi Bali yang memakai laras pelog lima nada atau juga disebut dengan pelog panca nada.

Tehnik permainan yang paling menonjol dari gamelan ini adalah motif kekenyongan yang terdapat pada gangsa jongkok.Tabuh yang disajikan mempunyai sifat yang agung dan hikmat dengan hokum tabuh klasik yang berlaku didalamnya sessuai dengan fungsinya sebagai pengiring upacara Dewa Yadnya.

Bentuk gamelan Gong Gede di Bali terdiri dari beberapa unsur yakni : bentuk esambelisasi ,musikalitas , dan tata penyajian yang dituangkan secara ekspresif di atas pentas.Gamelan Gong Gede tersebut merupakan seni karawitan , dimana perpaduan unsur budaya loka yang sudah terakumulasi dari masa ke masa .Unsur budaya Bali tercermin pada penggunaan instrumen dari perangkat gamelan Bali dan busana yang dipergunakan oleh para penabuh.

Keberadaan Gong Gede di Bali dapat dikatakan sedikit peminatnya dikarenakan kurang begitu populer.Daerah yang memiliki perkembangan gamelan gong gede paling banyak adalah Kabupaten Bangli , dapat dilihat dari setiap prosesi keagamaan pasti mengikutsertakan barungan gong gede.

Sejarah perkembangan gong gede di Bangli cukup menarik , bukan hanya sejarah yang di ceritakan turun menurun namun juga terdapat peninggalan sejarah yng menjadi bukti keberadaannya.

 

  • Rumusan Masalah
    • Bagaimana perkembangan gong gede di Bangli?
    • Apa factor yang menyebabkan keberadaan barungan gong gede terjaga keberadaannya
  • Pembahasan
    • Bagaimana perkembangan gamelam gong gede di Bangli?

 

Perkembangan gamelan gong gede di Bangli dapat dikatakan cukup baik karena di setiap desa adat di Bangli pasti mengusahakan akan adanya barungan gong gede pada setiap pelaksanaan upacara yadnya dan setiap sekehe yang dibentuk secara teratur dalam kepengurusan Banjar.

 

Dalam sejarahnya di Bangli bahwa gamelan gong gede tersebut sudah ada pada tahun 1204 masehi tepatnya di Desa Batur Kintamani , pada tahun 1835 Raja Majapahit memberikan 2 instrumen gong , satu buah kempul , dan satu buah bende kepada pengempon pura yang ada di Desa Sinatara(Pura Batur).Setibanya di bali, gong yang suara dan ukurannya lebih besar disimpan di pura ulun danu batur , dan gong yang suara dan ukurannya yang lebih kecil di ambil oleh Raja Bangli.Lama kelamaan gong tersebut disumbangkan kepada Desa Sulahan.Sedangkan lempul dan bende tetap disimpan di Pura Batur di bawah kaki gunung Batur.

 

 

Instrumen yang ada pada waktu berada di Pura Batur di kaki Gunung Batur adalah Terompong Ageng(gede),  Terompong Alit(kecil), empat buah gangsa jongkok penunggal, empat gangsa jongkok pengangkep ageng , empat buah gangsa Jongkok Pengangkep alit(curing), empat buah Penyacah, empat buahJjublag, satu buah Riong Ponggang ,satu buah Kempul, satu pasang Gong ,dan beberapa pasang ceng-ceng kopyak.Instrumen tersebut dibuat oleh pande gamelan desa Sawan Kabupaten Buleleng , pelawahnya dibuat oleh undagi desa Banyuning Kabupaten Buleleng,sedangkan proses pembuatannya dilaksanakan di pura Batur.

 

Keunikan barungan gong gede di bangli juga dapat dilihat dari sisi penataan , dimana posisi jegogan berada paling depan dengan diikuti oleh jublag dan penyacah di belakangnya serta pemain ceng-ceng kopyak bermain di tengah barungan , berbeda halnya dengan posisi barungan gong gede yang berada di Denpasar yaitu penataan gamelan diawali oleh instrument pengangkep alit(curing), pengangkep ageng diikuti jublag dengan penyacah dan di akhiri oleh jegogan , serta pemain ceng-ceng kopyak yang bermain di sisi luar barungan.

 

Gamelan gong gede yang ada di bangli khususnya di pura Batur dibuatkan tempat penyimpanan secara permanen seperti apa yang kita dapat saksikan sampai sekarang. Barungan gamelan gong gede tersebut sangat disakralkan oleh masyarakatnya dan juga disebut dengan istilah due lingsir. Maka pada tahun 1998 dibuatkan duplikat beberapa instrumen yang namanya bebonangan , oleh pande gamelan siddha karya banjar Babakan desa blahbatuh Gianyar (wayan pager) sehingga di pura batur ada istilah tedun bebonangan yang artinya gamelan bebonangan . tedun terompong artinya gamelan gong gede yang komplit(pande mustika:2010)

 

Barungan gong gede di Bangli di desa Batur hanya boleh di mainkan oleh para pria saja , bahkan untuk wanita memijakan kakipun di bale gong tempat barungan tersebut tidak diperkenankan , menurut warga hal tersebut dilakukan untuk menjaga kesucian dari barungan gong gede tersebut,bahkan sekehe pria yang memainkan barungan tersebut juga terlebih dahulu harus nunas tirta pengelukatan setelah prosesi tersebut para pemain baru akan diperkenankan untuk menabuh.

 

Timbulnya gamelan gong gede di desa Batur , belum dapat diketahui secra pasti. Hal mana disebabkan oleh kurangnya data-data yang memuat tentang gamelan tersebut,baik yang berupa lontar , prasasti maupun tulisan lainnya. Sebagai corak kebudayaan yang sifatnyanya oral tradisi ,mereka berikan hanya bersifat perkiraan informasi dari mulut ke mulut orang tertua terdahulu. Mereka mengatakan bahwa gamelan tersebut sudah diembannya sejak dahulu atau mereka mengatakan gamelan warisan dari leluhurnya(tetamian).

 

Berbeda halnya dengan di desa Sulahan meskipun banyak cerita sejarah yang mengaitkan gamelan gong gede di Sulahan dengan Batur namun pengaruh keberadaan gong gede di daerah ini cenderung lebih sedikit di karenakan barungan gong gede di Sulahan  sudah sangat jarang dimainkan karena generasi muda lebih tertarik dengan gamelan gong Kebyar. Gamelan gong gede di Sulahan hampir sama dengan di Batur yaitu terdiri dari instrumen terompong, riong, ponggang , kajar, bende ,kempul, gong, gangsa jongkok penunggal ,gangsa jongkok pengangkep ageng, gangsa jongkok pengangkep alit, jublag, jejogan , kendang , dan ceng-ceng kopyak.

 

Terdapat juga sejarah yang berbeda di desa Sulahan mengenai keberadaan gong gede di percayai gamelan gong gede tersebut adalah warisan leluhur yang mula-mula di buat di banjar Sulahan pada abad ke-XIX Masehi kira-kira pada tahun 1850 atas kehendak masyarakat banjar Sulahan. Namun barungan gede tersebut dirasa belum lengkap ,sehingga pada tahun 1927 beberapa instrumen dilengkapi oleh I Dewa Agung Aji Kembangan. Seiring dengan berjalannya waktu , keberadaan gong gede di desa Sulahan ini bias lengkap menjadi satu kesatuan barungan gamelan gong gede. Dari awal keberadaan gong gede di banjar Sulahan kecamatan Susut Bangli sampai sekarang ,masyarakat desa Sulahan khususnya dan masyarakat Bangli pada umumnya, keberadaan gong gede ini sangat di sakralkan sebagai warisan leluhur dan salah satu aset yang paling berharga yang terdapat di kabupaten Bangli. Oleh karena itu barungan gamelan gong gede ini difungsikan hanya untuk mengiringi tarian sakral , seperti tari rejang dewa, tari pendet, tari baris bedil, tari baris polisi, tari baris gede , tari mabuanganda . Masyarakat banjar Sulahan sangat menghargai dan bersyukur akan keberadaan gamelan gong gede di desa mereka. Dalam pemeliharaan gamelan gong gede di banjar Sulahan ini,adalah semua banjar adat Sulahan yang jumlahnya 275 kepala keluarga .Dari jumlah ini dipilih orang-orangnya yang memiliki bakat dibidang menabuh sebanyak 65 orang dihimpun dijadikan suatu perkumpulan yang dinamakan sekaa gong gede Sekar Sandat. Sekaa ini mempunyai sistem organisasi tertentu yang diatur oleh awig-awig(ardika,2014).

 

Di kabupaten Bangli keberadaan barungan gong gede tidak sulit ditemukan bahkan di setiap banjarpun barungan gong gede sangat mudah ditemukan sebagai pelengkap upacara keagamaan di antaranya br.Selat Peken , br.Selat Kaja Kauh , br.Kawan , br.Nyuhan , Tegal , Bebalang serta masih banyak lagi diseputaran kota Bangli , selain untuk pelangkap upacara keagamaan barungan gong gede juga dipakai untuk mengiringi tari wali seperti topeng sidakarya , baris gede , rejang dewa , serta tari pendet.

 

Permainan gamelan gong gede yang cukup sederhana memberi warna tersendiri dalam seni karawitan Bali, dalam permainanya lebih ditekankan kekompakan atau disebut(incep) dalam istilah balinya sering dipakai untuk menyebutkan hasil tetabuhan yang kompak dan rapi tabuh yang incep biasanya dihasilkan oleh sekehe yang memiliki tehnik menabuh yang baik seperti menggebug(memukul) dan metekep(menutup), dan di tunjang oleh rasa kebersamaan yang tinggi pula(rai,2001:61).

 

1.3.2 Apa yeng menyebabkan gamelan gong gede tatap terjaga keberadaannya?

Terjaganya keberadaan gong gede di bangli sangat     dipengaruhi oleh budaya masyarakat setempat untuk tetap mejalankan tradisi pemilihan sekehe gambel yang secara teratur dilaksanakan oleh setiap banjar yang memiliki barungan gong gede disamping hal tersebut kebiasaan mempergunakan barungan ini sebagai pelengkap upacara yadnya menjadi factor berikutnya kebiasaan mendengar dan kebiasaan melihat warga setempat menjadikan barungan gong gede memiliki tempat dihati masyarakat bangli karena tanpa kehadiran barungan ini di tengah upacara keagamaan terasa ada yang kurang tutur warga setempat.

 

Para sekehe tabuh yang berkewajiban ikut serta dalam memainkan gamelan gong gede di Bangli bukanlah orang-orang yang memang benar-benar berkecimpung dalam bidang seni karawitan, namun karena tanggung jawablah mereka berusaha untuk memenuhi kewajibannya dengan cara megurup panggul dan meguru kuping yang merupakan beberapa bagian dari system  pembelajaran karawitan bali(saba,2006:60)

 

Gamelan gong gede di bali ,sabagai salah satu wujud budaya , yang kehadirannya masih didukung oleh masyarakat bali khususnya masyarakat bangli .Berfungsi sebagai persembahan dalam berbagai keperluan pada kehidupan masyarakatnya, yaitu sebagai persembahan untuk keperluan dewa yadnya .Gamelan gong gede di bangli merupakan integral dari ritual keagamaan yang memiliki ciri-ciri sebagai ritual. Pada prinsipnya eksistensi gamelan gong gede menunjukan ciri-ciri seni ritualistic seperti itu. Selain sebagai ritual , penyajian gamelan gong gede juga pendukung suasana yang dapat dijadikan salah satu ciri sedang berlangsungnya upacara keagamaan.

 

Dalam hubungannya dengan masyarakat berfungsi sebagai pengemban seni(karawitan), barungan gong gede hamper setiap kegiatan upacara oleh krama yang melaksanakan piodalan di desa pekraman yang belum memiliki gamelan gong gede , sekehe gambel yang melaksanakan tugasnya tidak menerima upah dalam bentuk uang atau lebih dikenal dengan sebutan ngayah.

 

Barungan gamelan gong gede di pandang sangat penting karena dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara moral dan spiritual sehingga terwujud rasa keseimbangan. Keseimbangan yang mencakup persamaan dan perbedaan dapat terefleksi dalam beberapa dimensi .Refleksi keseimbangan yang banyak ditemukan dalam kesenian bali adalah refleksi estetis yang dapat menghasilkan bentuk simetris yang sekaligus asimetris atau jalinan yang harmonis sekaligus disharmonis yang lazim disebut rwa bhineda .Dalam konsep rwa bhineda terkandung pula semangat kebersamaan ,adanya saling keterkaitan , dan kompetisi mewujudkan intraksi dan persaingan .Konsep rwa bhineda oleh seniman pengrawit dituangkan dalam gamelan bali.Hal ini dapat diamati pada system pelarasan ngumbang-ngisep dan instrumen yang berpasangan(lanang wadon).

 

Istilah ngumbang-ngisep dalam pelarasan gamelan bali adalah dua buah nada yang sama yang secara sengaja dibuat dengan selisih frekuensi yang sedikit berbeda .Kalau kedua naa tersebut di bunyikan secara bersamaan maka akan timbul ombak yang menurut estetika karawitan bali merupakan salah satu keindahan ,sedangkan istilah lanang wadon dipakai untuk menentukan satu pasang kendang dan satu pasang gong yang memiliki ukuran nada yang berbeda(rai,2001:129)

 

1.4 Kesimpulan

 

1.4.1 Di Kabupaten bangli keberadaan gong gede tidak sulit    ditemukan bahkan disetiap banjar pun gamelan ini masih sangat mudah ditemukan, sejarah perkembangan gong gede diBangli cukup menarik ,bukan hanya sejarah yang di ceritakan turun-temurun namun juga terdapat bukti peninggalan yang membuat gamelan gong gede tetap terjaga keberadaanya.

1.4.2 Terjaganya gamelan gong gede di Bangli dapat dikatakan cukup baik karenaa disetiap desa adat di Bangli pasti mengusahakan akan adanya berungan gong gede , disamping hal tersebut partisipasi masyarakat dalam menjaga barungan tersebut agar tetap lestari dengan cara secara rutin melaksanakan regenerasi penabuh sangatlah baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSAKA

 

Arya Sugiartha. I Gede,2012 (kreatifitas music bali) Institut Seni Indonesia Denpasar

Saba.I Ketut,2006 (bheri) Institut Seni Indonesia Denpasar

Rai S.I Wayan,2001 (gong) Bali Mangsi

Bandem. I Made,2013(gamelan bali di atas panggug sejarah)

Pande Mustika. Gede,2010(makala seminar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address