Tari TarunaJaya

Sejarah Tari Terunajaya

Menurut sejarah Tari Trunajaya berasal dari bali tepatnya dari Buleleng. Buleleng terletak di Pulau Bali bagian utara. Tari Trunajaya menggambarkan gerak gerik seorang pemuda yang baru menginjak dewasa. Gerakannya menggambarkan prilaku seorang remaja yang enerjik, penuh emosional dan ulahnya senantiasa untuk memikat hati seorang gadis. Tari Trunajaya termasuk tari putra keras yang
biasa ditarikan oleh penari putri. Pencipta tari Trunajaya adalah Pan Wandres dalam bentuk kebyar Legong dan kemudian disempurnakan oleh I Gede Manik. Tarian ini diciptakan pada tahun 1915. Kreasi tarian Trunajaya ini diciptakan untuk sebuah tari hiburan yang bisa dinikmati saat-saat perayaan tertentu.

Tari Trunajaya termasuk dalam kategori tari Balih-balihan atau sebagai tari hiburan. Sebagai tari hiburan tarian ini dapat dipentaskan dimana saja. Misalnya di halaman pura, di lapangan atau panggung tertutup/terbuka, dan di tempat- tempat lainnya.

Pakaian Kostum Tari Trunajaya

Pakaian memberikan ciri khas daru suatu tari. Kostum di buat semenarik mungkin agar dapat memikat daya tarik penonton. Jenis tarian Trunajaya menggunakan Kostum adat laki-laki inovatif dalam bentuk udeng – udengan sehingga wajah penari nampak bagus. Properti yang digunakan dalam tarian ini adalah “kepet”, yang sekarang ini sering disebut dengan “kipas”.

Tata busana pada Tari Trunajaya adalah sebagai berikut:
1. Kamen/kancut berwarna unggu prada dengan motif wajik
Cara penggunaan kamen pada Tari Trunajaya sama halnya seperti pemakaian kain bebancihan pada umumnya yaitu ada sisa kamen di sebelah kiri yang nantinya akan dipakai sebagai kancut.

2. Baju panjang berwarna unggu prada dengan motif mas – masan
Baju pada Tari Trunajaya ini sebenarnya hampir sama dengan tari Legong Kuntul yaitu memakai warna unggu, namun perbedaannya terdapat pada motif. Pada Trunajaya memakai motif mas – masan, sedangkan pada Legong Kuntul memakai motif bun – bunan.

3. Sabuk berwarna kuning prada
Penggunaan sabuk pada Tari Trunajaya, sama dengan penggunaan sabuk pada tari – tarian pada umumnya, yaitu dililitkan pada badan penari. Biasanya penggunaan sabuk ini dimulai dari bawah (pinggang) sampai atas (dada).

4. Memakai Ampok – ampok
Ampok – ampok yang dipakai dalam Tari Trunaja ini sama dengan ampok – ampok yang dipakai dalam tari – tarian lainnya. Ampok – ampok dipasang pada pinggang penari.

5. Memakai simping kulit
Penggunaan simping pada Tari Trunajaya sama halnya dengan penggunaannya pada Tari Legong, yaitu dipasang untuk menutupi bahu kanan dan kiri.

6. Tutup dada berwarna hitam
Tutup dada dipasang diatas simping, yang berfungsi untuk mengikat simping agar tidak lepas.

7. Memakai badong
Dalam tarian ini menggunakan badong lancip dan penggunaannya sama dengan tari lainnya yaitu dipasang pada leher penari.

8. Memakai gelang kana atas
Pemakaian gelang kana ini dipasang pada bagian atas tangan (lengan)

9. Memakai gelang kana bawah
Pemakaian gelang kana ini dipasang pada bagian bawah tangan (pergelangan tangan)

10. Udeng
Pemakaian udeng pada Tari Trunajaya berbeda dari tari – tarian lainnya. Pemakaiannya dikemas sedemikian rupa oleh penggarap sehingga mempunyai ciri khas tersendiri.

Tata Rias Tari Trunajaya

Tata rias diperlukan untuk memberikan tekanan atau aksentuasi bentuk dan garis-garis muka sesuai dengan karakter tarian. Tari Trunajaya menggunakan rias wajah putra halus. Pada Tari Trunajaya, sudah menggunakan rias pentas atau panggung dengan menggunakan Celak mata berwarna kuning, merah dan biru serta pemakaian alis yang agak tinggi dari riasan tari putri serta menggunakan taling kidang.

Hiasan kepala yang dipakai dalam Tari Trunajaya ini adalah

Memakai Udeng
Memakai garuda mungkur (dibagian belakang)
Memakai satu bunga sandat
Memakai bunga kuping (bunga merah dan bunga putih)
Menggunakan rumbing

Iringan Musik Tari Trunajaya

Musik seni tari bukan hanya sekedar iringan, tetapi merupakan patrner tari yang tidak boleh ditinggalkan, sehingga harus betul – betul digarap agar tercapai keharmonisan. Tari Trunajaya biasanya diiringi oleh gamelan Gong Kebyar. Lamanya waktu sangat berpengaruh pada lamanya iringan musik. Tari Trunajaya dapat ditarikan dengan waktu yang pendek dan panjang. Waktu yang di gunakan dalam sajian Tari Trunajaya pendek kurang lebih 11 menit dari awal sampai akhir. Waktu yang berkaitan dengan tempo (cepat dan lambat ) dibuat bervariasi, artinya tempo iringan disesuaikan dengan tempo gerak atau sebaliknya.

Urutan Gerak Tari Trunajaya

PEPESON
Rangkaian Pepeson dalam tari Trunajaya antara lain:

Berjalan kedepan dengan tangan kiri memegang kancut, tangan kanan sirang susu dan memegang kipas
Agem pokok Trunajaya. (tangan kiri mapah biu dengan jari – jari ditekuk kebawah, dan tangan kanan sirang susu)
Sledet capung
Ngoyod, sambil tangan kanan nabdab gelung
Agem kanan dan agem kiri
Nyerigsig, nyegut (tangan kiri sirang susu dan tangan kanan nepuk dada), sogok kanan-kiri, ngeseh, tayung kanan
Nyegut kiri, (tangan kanan sirang susu dan tangan kiri nepuk dada), sogok kiri-kanan,ngeseh, tayung kanan
Agem kanan, ngelayak
Tanjek 2x dengan posisi tangan agem pokok
Agem kanan, sledet
Agem kiri (tangan kiri sirang susu, tangan kanan nepuk dada), sledet
Agem kanan (tangan kanan sirang susu, tangan kiri nepuk dada), sledet
Maju kaki kiri-kanan, putar penuh
Ngeliput, agem kanan, ngeseh, sledet (2x)
Ngenjet, nyeregseg, ngepik (arah pojok kanan)
Gerakan tangan ke kanan-kiri diikuti mata nyeledet dan hentakan kaki, tangan ngeliput
Ngangsel, ngeseh, ngepik, ngocok langse
Ngegol diikiti dengan mengambil kancut serta kipas ngeliput
Tayog
Agem kanan, kaki diangkat bergantian
Milpil ke kanan dan ke kiri
Buang kipas

PENGAWAK
Rangkaian Pengawak dalam tari Trunajaya antara lain:

Agem kiri Trunajaya
Nyerigsig ke kanan, pindah agem kanan
Tayog kanan kiri, ngenjet
Nyeregseg kanan kiri, ngumbang
Bersimpuh
Tangan ke kanan- ke kiri dengan kipas ngeliput, sledet (3x)

PENGECET
Rangkaian Pengecet dalam tari Trunajaya antara lain:

Berdiri sambil ngeliput, piles kiri-kanan, agem kanan
Berjalan ke depan,tutup kipas,putar sambil membuka kipas
Ambil kancut, kipas ngeliput, ngegol, sledet, mekecos, agem kanan, sledet ( 3x)

PEKAAD
Rangkaian Pekaad dalam tari Trunajaya antara lain:

Ngenjet, nyeregseg kanan – kiri
Ngumbang sambil memegang kancut
Agem kanan, sambil memegang kancut

GENDER WAYANG

KIPRAH GENDER WAYANG DALAM SENI PERTUNJUKAN BALI

 

I Gede Suwidnya

Universitas Negeri Surabaya

Suwidnya.i [email protected]

Abstrak

Gender Wayang merupakan bagian dari musik etnik Bali yang memiliki kiprah besar dalam kaitannya dengan seni pertunjukan Bali. Dari segi bentuk, baik fisik maupun bentuk komposisinya, Gender Wayang dipandang sebagai sebuah karawitan minimalis yang multi fungsi. Seperti berfungsi sebagai ritual, hiburan, serta sarana pendidikan di Bali.

Kata Kunci (keyword): Gamelan, Gender, Wayang

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Musik etnik pada umumnya dipahami oleh sebagian besar masyarakat Indonesia sebagai sebuah musik yang dihasilkan dari suatu kebudayaan, suku, dan agama dengan jenisnya yang begitu beragam. Suku Bali yang tinggal di pulau Bali merupakan salah satu suku yang memiliki berbagai jenis instrumen atau alat musik etnik bernafas dan berbau tradisi berupa alat-alat karawitan instrumental, dengan spesifikasi kelas seperti idiofoon, aerofoon, kordofoon, dan membranofoon. Jumlah karawitan instrumental yang tersebar pada masing-masing daerah di Bali hingga kini mencapai lebih dari 20 jenis, yang disebut dengan istilah “gamelan”. Salah satu alat musik atau gamelan yang memiliki kiprah besar dalam seni pertunjukan Bali adalah gamelan Gender Wayang.

Gamelen Gender Wayang merupakan barungan gamelan Bali dalam wujud barungan alit (kelompok kecil) berlaras slendro 5 (lima) nada. Merupakan gamelan pawayangan untuk mengiringi wayang kulit dan wayang wong (wayang orang). Instrumen pokoknya terdiri dari 4 (empat) buah gender; terdiri dari sepasang gender pamade (gender ukuran besar) dan sepasang gender kantilan (gender ukuran kecil). Masing-masing berbilah 10 (sepuluh) dalam dua oktaf yang dimainkan oleh kedua belah tangan dengan mempergunakan dua buah panggul (pemukul), dimana bagian bawah dari tangan berfungsi sebagai peredam resonansi (Dibia, 1999: 108).

Jika dibandingkan dengan jenis gamelan Bali lainnya, gamelan Gender Wayang memiliki banyak kelebihan, seperti dari segi bentuk, fungsi, serta dari segi maknanya. Sehingga dari jaman dahulu hingga saat ini eksistensinya dalam seni pertunjukan tradisional Bali masih bisa dirasakan dan dapat dilihat secara kasat mata. Oleh sebab itu, dalam makalah yang sederhana ini penulis ingin mengupas “kiprah Gender Wayang dalam seni pertunjukan Bali”, yang dilihat dari segi bentuk serta fungsinya terkait dengan seni pertunjukan yang ada di Bali.

  1. Rumusan Masalah
  2. Bagaimanakah bentuk gamelan Gender Wayang?
  3. Apakah fungsi gamelan Gender Wayang kaitannya dengan seni pertunjukan Bali?
  1. Tujuan Penelitian
  2. Untuk mendeskripsikan bentuk gamelan Gender Wayang.
  3. Untuk mendeskripsikan fungsi gamelan Gender Wayang kaitannya dengan seni pertunjukan Bali.
  1. Manfaat Penelitian
  2. Manfaat teoritis

Untuk memperkaya kajian dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan seni budaya yang bernuansa tradisi.

  1. Manfaat praktis

Agar masyarakat umum mampu memahami mengenai apa yang dimaksud dengan Gender Wayang.

  1. Ruang Lingkup Penelitian

Agar tidak terjadi perluasan penafsiran terkait hal-hal yang akan dibahas dalam makalah ini, maka penulis memberikan batasan penelitian berupa:

  1. Bentuk yang akan dibahas berupa bentuk fisik gamelan dan bentuk penyajian.
  2. Fungsi gamelan dalam kaitannya dengan seni pertunjukan Bali yang berkaitan dengan kegiatan upacara agama Hindu (ritual), hiburan (tontonan), serta pendidikan.

 

BAB II

PEMBAHASAN

Untuk menganalisis serta membahas permasalahan-permasalahan yang ada dalam penelitian ini akan menggunakan beberapa teori yang telah disesuaikan dengan rumusan masalah yang ada, yaitu meliputi:

  1. Teori Struktur
  2. Langer (1988:26) menjelaskan bentuk (form) dalam arti yang sangat abstrak berarti struktur, yaitu keseluruhan sebagai hasil kata hubungan dari faktor-faktor yang saling terkait dan tergantung satu sama lain. Menurut Djelantik (2004:37) struktur atau susunan dari suatu karya seni adalah aspek yang menyangkut keseluruhan dari karya itu dan meliputi juga peranan masing-masing bagian dalam keseluruhan itu. Kata struktur mengandung arti bahwa di dalam karya seni itu terdapat suatu pengorganisasian, penataan; ada hubungan tertentu antara bagian-bagian yang tersusun itu.
  3. Teori Fungsi

Untuk mengkaji fungsi gamelan Gender Wayang teori yang digunakan adalah teori fungsi yang dikembangkan William R. Bascom. Menurut Bascom, (1965-297) menyatakan bahwa sastra lisan setidaknya mempunyai empat fungsi yaitu; Sebagai sebuah bentuk hiburan, sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan, sebagai alat pendidikan anak-anak, dan sebagai alat pemaksa dan pengawas norma masyarakat agar selalu dipatuhi kolektivnya.

  1. Bentuk Gamelan Gender Wayang

Gender Wayang jika dilihat dari bentuk karawitan instrumental dapat dilihat dari 2 (dua) unsur. Unsur yang pertama adalah bentuk fisik, dan unsur yang ke dua adalah bentuk komposisi. Jika dianalisa dari bentuk fisiknya gender adalah instrumen yang berbilah yang dibuat dari krawang (campuran tembaga dengan timah). Yang berlaraskan slendro. Tiap-tiap instrumen terdiri dari 10 (sepuluh) bilah yang digantung dengan dua helai tali yang terbuat dari kulit sapi yang disebut jangat di atas resonator bambu, ditopang oleh tumpuan kayu yang disebut cagak dengan tujuan agar masing-masing bilah yang digantung tidak bersentuhan satu sama lain.

Foto 1 Gamelan Gender Wayang

Dok. I Gede Suwidnya

Struktur Gender Wayang jika dikaji berdasarkan teori struktur yang dipaparkan oleh Djelantik maka dapat di deskripsikan bahwa sebagai bentuk seni pertunjukan, komposisi gending-gending Gender Wayang memiliki tiga aspek penting, yaitu aspek ide, aspek bentuk, dan aspek penampilan (Bandem, 1991: 7). Ide merupakan gagasan yang merupakan konsep karya yang dibuat oleh komposer Gender Wayang yang meliputi tema, latar belakang, ruang lingkup atau batasan karya, judul, makna, tujuan, dan lain sebagainya. Sedangkan yang dimaksud bentuk adalah transformasi dari aspek ide terkait karya Gender Wayang yang diciptakan oleh seorang komposer. Aspek penampilan adalah aspek yang berkaitan dengan saat terjadinya pementasan berlangsung, seperti aspek pendukung intrinsik dan extrinsik. Pendukung instrinsik merupakan komponen yang melekat dan tidak dapat dipisahkan dari penampilan, seperti; pemain, exspresi, gaya, make up, tata kostum, teknik, dan lain sebagainya. Sedangkan pendukung yang bersifat extrinsik adalah aspek yang tidak melekat atau lepas, namun dapat membantu keindahan tema saat pentas, seperti;tata panggung, tata dekor, tata lampu, tata suara, dan sarana pendukung lainnya.

Struktur penyajian gending Gender Wayang dalam mengiringi pertunjukan wayang kulit yang lengkap dapat dibagi menjadi beberapa adegan atau pembabakan. Secara umum struktur pementasan wayang kulit Bali style Sukawati, Gianyar terdiri dari 10 babak, sama halnya dengan pakeliran Wayang Parwa gaya Kayu Mas menurut Suryatini (2009: 22). Adegan-adegan tersebut terdiri dari: (1) Pategak; penyajian gending-gending instrumental baik klasik maupun kreasi mengawali pertunjukan, sebagai sebuah pertanda pertunjukan wayang segera dimulai. (2) Pamungkah; gending yang dipergunakan untuk mengiringi dalang dalam melakukan persembahyanganatau selamatan, pemukulan keropak, memainkan kayonan, mengambil wayang dari dalam kotak dan mencabut kembali untuk melangkah ke pembabakan cerita. Gending-gending yang dimaksud berupa, taru mentik, katak ngongkek, sapi ngindang, berayut, anggit-anggitan, bayu bajra, jojor, oamang-omang, tualang lindung. (3) Petangkilan; motif gending untuk mengiringi tokoh-tokoh wayang ketika diceritakan mengadakan sidang. Motif gending petangkilan dapat dibagi menjadi tiga, seperti gending alas arum untuk karakter halus, rundah untuk karakter keras, dan candi rebah untuk karakter raksasa. (4) Pengalang; gending sebagai pendahuluan untuk pengenalan masing-masing karakter wayang dan selalu dipakai sebelum dimulainya dialog. Jenis gending pengalang ada dua, yakni pengalang ratu (untuk tokoh kesatria), dan pengalang panasar (untuk punakawan). (5) Angkat-angkatan; gending-gending yang berbentuk ostinato, terdiri dari empat atau delapan hitungan, untuk mengiringi keberangkatan laskar, perjalanan, dan sebagainya. Jenis gending yang dipakai berupa pakesahan, drestadyumna, bima kroda, kejojor, partha wijaya, buriswara, abimanyu, grebeg, srikandi, krepetan. (6) Rebong; Gending yang terkenal sebagai eksplorasi romantis, yang terdiri dari rebong pengawak yang bersifat lirih dan sendu sebagai pengiring percintaan atau kasih-kasihan, seperti Arjuna, Abimanyu, Kresna, dan lain sebagainya. Pangecet dan pengipuk rebong dipakai untuk adegan romantis dari para punakawan. (7) Tangis; Gending yang iramanya lirihdan selalu diiringi dengan sesendon sebagai narasi untuk menciptakan suasana sedih.Gending yang dipakai dalam katagori tangis yaitu masem; suasana sedih untuk semua karakter yang bermata sipit atau halus, dan bendu samara; untuk mengiringi karakter wayang bermata bulat atau keras. (8)Tunjang; Gending yang iramanya lirih dan secara khusus untuk mengiringi Bhatari Durga serta anak buahnya. (9) Batel; Gending yang berbentuk ostinato terdiri dari beberapa bagian, suasananya sangat enerjik, dinamis, serta bersemangat. Meliputi batel demung (tempo cepat) dan batel maya (tempo lambat). (10) Bugari; Gending yang disajikan untuk mengakhiri pertunjukan wayang (gending penutup) (Suharta & Suryatini, 2013: 20)

  1. Fungsi Gamelan Gender Wayang Kaitannya dengan Seni Pertunjukan Bali

Sesuai dengan teori fungsi yang diungkapkan oleh Bascom, maka dapat dipahami bahwa sebagai bagian dari karawitan instrumental, kiprah gamelan Gender Wayang jika dikaitkan dengan jagat seni pertunjukan Bali memiliki beberapa fungsi seperti:

  1. Fungsi Ritual

Gender Wayang salah satu gamelan yang diklasifikasikan ke dalam gamelan golongan tua dalam kenyataannya memiliki fungsi dan disajikan hampir pada setiap kegiatan ritual sebagai bagian dari upacara Panca Yadnya umat Hindu di Bali. Gender Wayang merupakan bagian integral dari ritual keagamaan memiliki ciri-ciri sebagai seni pertunjukan ritual kendatipun diantara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya di Bali terdapat variasi sesuai dengan konsep desa, kala, patra (tempat, waktu, keadaan). Selain sebagai seni ritual, penyajian Gender Wayang juga sebagai pendukung suasana. Sehingga dapat dijadikan suatu ciri bahwa berlangsungnya sebuah upacara (ritual). Ritual yang dimaksud meliputi; Dewa Yadnya, yaitu ritual yang berkaitan dengan pemujaan kehadapan para dewa pada hari suci keagamaan, upacara penyucian serta penyelesaian terhadap bangunan tempat pemujaan, dan upacara peringatan disucikannya bangunan tempat pemujaan. Namun pada umumnya rangkaian upacara yang mempergunakan gender wayang adalah macaru Rsi Gana, Tawur, dan Padanan. Hal tersebut dikarenakan dalam rangkaian upacara tersebut selalu dipentaskan wayang lemah dengan musik atau instrumen pengiring berupa gamelan Gender Wayang.

Manusa Yadnya yang merupakan bagian dari Panca Yadnya juga sering melibatkan Gender Wayang sebagai sebuah sarana pelengkap atau pengiring ritual yang sedang berlangsung, misalnya pada upacara pernikahan yang disinkronkan dengan upacara matatah (potong gigi), gamelan Gender Wayang selalu difungsikan sebagai pengiring pada saat pemuka agama mulai melaksanakan sampai mengakhiri ritual potong gigi tersebut. Sehingga menimbulkan kesan serta suasana yang khidmat. Selain berkaitan dengan upacara Dewa Yadnya dan Manusa Yadnya, gamelan Gender Wayang juga memiliki kaitan yang sangat erat dengan upacara (ritual) Pitra Yadnya. Seperti pada saat ngaben, tanpa adanya alunan gending (lagu) gamelan Gender Wayang prosesi ritual dirasakan kurang lengkap. Kesan sedih dan suasana berkabung menjadi kurang begitu nampak.

Selain itu pada saat otonan bayi yang lahir pada wuku Wayang haruslah mempergunakan sarana wayang kulit yang diiringi dengan gamelan Gender Wayang agar upacara otonan tersebut dikatakan lengkap. Ini terkait dengan mitos yang berkembang di Bali bahwa Bagi anak yang lahir pada wuku Wayang harus diberikan bayuh oton (ruatan) yang khusus, sebab anak tersebut dianggap salah wadi atau lahir salah, sesuai dengan nama wuku. Menurut mitologi Kalapurana, anak ini dapat disantap oleh Batara Kala. Untuk menghindarinya perlu di-bayuh dengan panglukatan sang Mpu Leger, yakni penglukatan dengan sarana tirtha Wayang. Bayuh oton bagi anak yang lahir pada wuku Wayang memerlukan jenis upakara yang jauh lebih besar dan harus menanggap Wayang serta diselesaikan oleh dalang yang ahli untuk itu. Dalang ini disebut Sang Mpu Leger. Pagelaran wayang bayuh oton biasanya mengambil cerita Bhatara Kala.Gender Wayang dalam mitos ini disebutkan sebagai media persembunyian Sanghyang Kumara yang di kejar sampai turun ke bumi oleh Bhatara Kala. Sanghayang Kumara berhasil selamat berkat bantuan Ki Dalang dan secara tidak sengaja bersembunyi di dalam resonator Gender Wayang yang dimainkan oleh pangrawit pada saat digelarnya pertunjukan Wayang (wawancara dengan Ni Ketut Suryatini, 10 Oktober 2014).

  1. Fungsi Hiburan (tontonan)

Gender Wayang sebagai suatu hiburan berkaitan erat dengan seni pedalangan, hal ini dikarenakan gending atau musik yang dihasilkan dari Gender Wayang ini mampu menghidupkan ekspresi dari kulit yang dimainkan oleh si dalang, sehingga sebagai iringannya, Gender Wayang ikut di nikmati penonton, akhirnya menghibur penonton sehingga menjadilah musik hiburan. Sebagai bagian dari karawitan instrumental yang memiliki tingkat kerumitan yang cukup tinggi dalam memainkannya, Gender Wayang mampu memberikan suatu kepuasan tersendiri kepada para pangrawit (pemain) ketika mereka mampu memainkan gamelan Gender Wayang secara maksimal saat mereka tampil di depan khalayak ramai. Fenomena ini rutin terjadi pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) yang dilaksanakan oleh pemprov Bali di taman budaya Art Centre Denpasar, ketika Gender Wayang turut serta ditampilkan sebagai pelestari seni tradisi, parade, maupun lomba.

  1. Fungsi Pendidikan

Fungsi terpenting lainnya gamelan Gender Wayang di Bali adalah sebagai media pendidikan, baik dalam endidikan formal (sekolah/perguruan tinggi) maupun pendidikan non formal (sanggar). Gender Wayang digunakan sebagai media pembelajaran dalam praktek Karawitan Bali baik yang bersifat ekstra maupun intra kurikuler. Contoh sekolah atau perguruan tinggi yang menggunakan Gender Wayang sebagai media pelajaran wajib bagi para peserta didiknya adalah SMK Negeri 3 Sukawati dan Institut Seni Indonesia Denasar. Sedangkan lembaga non formal (sanggar) yang memberikan pelatihan praktek bermain gamelan Gender Wayang pada para peserta didiknya adalah sanggar seni karawitan Gangsa Dewa, Denpasar. Digunakannya gamelan Gender Wayang dalam kegiatan pendidikan di Bali dapat mempengaruhi eksistensi serta kelestariannya. Karena secara otodidak para peserta didik diwajibkan untuk mengenal dan harus mampu memainkan gamelan Gender Wayang.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Kiprah Gamelan Gender Wayang dalam seni pertunjukan Bali sangatlah besar dan memegang peranan penting. Hal tersebut dapat dilihat dari bentuk, terutama dari bentuk komposisi yang meliputi aspek ide, aspek bentuk (intrinsik & extrinsik), serta aspek penampilan. Selain hal tersebut fungsi Gender Wayang sebagai ritual, hiburan, dan media pendidikan mampu memberikan kontribusi yang sangat besar dalam kaitannya dengan kelestarian dan eksistensi Gender Wayang sepanjang zaman.

  1. Saran

Sebagai insane seni yang bergerak dalam ranah pendidikan Seni Budaya, mari kita kenali secara lebih dekat musik-musik etnik yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Jadikan musik tradisi khususnya Gender Wayang sebagai penopang budaya populer yang seakan menjadi sebuah ancaman bagi keberlangsungan seni-seni tradisi warisan para nenek moyang Bangsa Indonesia.

 

Daftar Pustaka

Dibia, I Wayan. 1999. Selayang Pandang Seni Pertunjukan Bali. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Bascom, William R. 1965. “Four Functions of Folklore” in The Study of Folklore. Englewood Cliffs, M,J: Prentice-Hall, Inc. P. 290-294.

Djelantik, A. A. M. 2004. Estetika Sebuah Pengantar. Bandung: MSPI dan Arti.

Suryatini, Ni Ketut & Suharta. 2013. Proses Pembelajaran Gamelan Gender Wayang Bagi Mahasiswa Asimg di ISI Denpasar, Institut Seni Indonesia Denpasar.

Daftar Informan

Nama              : Ni Ketut Suryatini, SSKar., M.Sn

Alamat             : Perumahan Lembu Sora, Denpasar, Bali

Pekerjaan        : PNS (Dosen Institut Seni Indonesia Denpasar)

HUT KOTA GIANYAR

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Secara garis besar seni dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi dengan kekuatan-kekuatan adi kodrat, sarana ekspresi dan sublimasi bagi manusia untuk menyatakan tanggapan dan tafsirannya terhadap alam dunia dan kehidupan, sarana untuk melepas desakan-desakan energi maupun nafsu denga cara yang terkendali, dan sarana khusus sebagai atribut bagi golongan masyarakat. (Sukerta, 2010 : 14).
Gamelan Bali merupakan bagaian penting dari kehidupan masyarakat Bali yang sudah diwarisi sejak zaman yang lampau. Untungnya kebanyakan dari bentuk gamelan itu masih hidup sampai sekarang, yang kehidupannya di dukung oleh vitalitas agama Hindu Dharma. Tak ada satu pun upacara keagamaan di Bali yang sempurna tanpa ikut sertanya gamelan (Bandem,2013 : 15).Fungsi barungan gambelan Bali untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menggunakan konsep desa kala patra, yaitu tergantung dari situasi dan kondisi dari masyarakat atau daerah setempat.
Gamelan blaganjur kendatipun mungkin berasal dari musik keprajuritan atau musik iringan perang, hingga akhir dekade 1970-selanjutnya, gamelan Blaganjur kendatipun kendatipun masih eksis digunakan pada setiap prosesi ritual, juga tak luput dari hukum perubahan baik bentuk garap, nuansa musikal, yang tentunya disebabkan orientasi fungsi dan penggunaan.Kini kita tidak hanya mendengar Gambelam Baleganjur saat berlangsungnya prosesi ritual. Di daerah-daerah tujuan wisata, hampir setiap hari dipentaskan Gambelan Baleganjur untuk menyambut tamu-tamu yang baru datang. Demikian juga dengan kaum muda Bali dewasa ini sangat menggemari Gambelan Baleganjur, digunakan untuk apa saja yang berkaitan dengan pendukung kemeriahan seperti mengiringi pawai olah raga,gerak jalan, tarik tambang, hingga mengiringi lomba layang-layang. Kedatangan para pejabat pemerintah seperti gubernur, bupati, dalam rangka kunjungannya ke suatu daerah atau datangnya tim penilai lomba-lomba tertentu juga disambut dengan Gambelan Baleganjur.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana deskripsi singkat tentang hut Kota Gianyar ?
2. Bagaimana deskripsi singkat tentang Baleganjur kecamatan Tampaksiring ?
3. Apa saja review tentang Baleganjur kecamatan Tampaksiring ?
4. Bagaimana tanggapan kami terhadap hut kota Gianyar ?
Tujuan penulis
1. Agar pembaca tahu mengenai hut Kota Gianyar
2. Agar pembaca tahu mengenai skaa Baleganjur dari kecamatan Tampaksiring
3. Agar pembaca memahami tentang baleganjur kecamatan Tampaksiring
4. Agar pembaca bisa memberi tanggapan terhadapan terselenggaranya hut Kota Gianyar

PEMBAHASAN

Deskripsi Tentang Hut Kabupaten Gianyar
Seperempat abad lebih, tepatnya 247 tahun yang lalu, 19 April 1771, ketika Gianyar dipilih menjadi nama sebuah keraton, Puri Agung yaitu Istana Raja (Anak Agung) oleh Ida Dewa Manggis Sakti maka sebuah kerajaan yang berdaulat dan otonom telah lahir serta ikut pentas dalam percaturan kekuasaan kerajaan-kerajaan di Bali. Sesungguhnya berfungsinya sebuah keraton yaitu telah ditentukan oleh syarat sekala niskala yang jatuh pada tanggal 19 April 1771 adalah tonggak sejarah yang telah dibangun oleh Raja Gianyar pertama, Ida Dewata Manggis Sakti memberikan syarat kepada kita bahwa proses menjadi dan ada itu bisa ditarik kebelakang (masa sebelumnya) atau ditarik kedepan (masa sesudahnya). Berbagai banyak gaya kepemimpinan dan seni memerintah dalam sistem otonomi telah terparti di atas lembaran sejarah Kabupaten Gianyar. Proses dinamika otonomi cukup lama sejak 19 April 1771 sampai 19 April 2018 ini, sejak dari kota keraton dibangun menjadi pusat pemerintahan kerajaan yang otonomi sampai sebuah kabupaten, nama Gianyar diabadikan. Sampai saat ini telah berusia 247 tahun, para pemimpin wilayah kotanya, dari Raja (kerajaan) sampai Bupati (kabupaten), memiliki ciri dan gaya serta seni memerintah sendiri-sendiri di bumi seniman. Seniman yang senantiasa membumi di Gianyar dan bahkan mendunia. Perayaan hut Kota Gianyar dilaksanakan dengan meriah setiap tahunnya. Seperti di tahun ini, perayaan hut Kota Gianyar sangat disambut antusias oleh masyarakat Kota Gianyar. Berbagai atraksi seni banyak ditampilkan dalam cara ini, seperti parade Baleganjur se- kecamatan Kota Gianyar dan masih banyak lagi lomba-lomba yang di adakan. Perayaan HUT Kota Gianyar diadakan di lapangan Astina Gianyar dan open stage bale budaya Gianyar. Rangkain acara HUT Kota Gianyar dimulai dari tanggal 6 april 2018 sampai tanggal 22 april 2018.

Deskripsi biografi narasumber atau komposer Baleganjur kecamatan Tampaksiring
Nama : Ngakan Putu Putra Ardana
Umur : 16 tahun
Pendidikan : SMK N 3 Sukawati
Asal : Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar

Deskripsi singkat tentang Baleganjur kecamatan Tampaksiring
Menurut informasi yang saya tanyakan dari komposer, inti dari garapan ini adalah untuk memperkenalkan budaya yang ada di Tampaksiring khususnya yang ada di desa Pejeng, agar masyarakat luas dapat lebih mengetahui budaya yang ada di desa Pejeng kecamatan Tampaksiring ini. Siat sampian itu adalah tarian sakral yang dipentaskan 1 tahun sekali, ada dua pura di Bali yang mementaskan tarian siat sampian yaitu di pura penataran sasih dan di pura samuan tiga. Upacara ini dilakukan dengan cara berpegangan tangan satu sama lainnya, kemudian bergerak laksana ombak. Setelah upacara ini, para laki-laki dan wanita tersebut langsung mengambil sampian (rangkaian janur untuk sesajen) dan saling melempar dengan satu sama lainnya. Siat sampian itu merupakan lambang senjata Dewa Wisnu, dan senjata ini digunakan untuk memerangi Adharma (kejahatan). Filosofi yang diambil dari tradisi ini adalah untuk mengenyahkan Adharma atau kejahatan dari muka bumi. Pada intinya siat sampian bermakna untuk menyucikan Bhuana Agung (alam semesta). Konon dulunya tarian ini adalah tarian untuk memanggil hujan bagi masyarakat pejeng.
Mengenai tentang tehnik komposer memakai teknik yang umum pada gamelan blaganjur. Namun menurut komposer, di suatu garapan siat sampian ini komposer juga menggunakan teknik yang baru. Mengenai tehknik yang baru yang komposer gunakan cukup banyak seperti pengubahan dari gegilakan gong, dan pengubahan tempo menjadi 3/4 dan komposer mempunyai style sendiri yaitu dapat dilihat pada bagian pengecet yaitu slow motion.Di garapan ini juga sangat memperlihatkan kecepatan dan kesulitan tehnik ceng-ceng, banyak juga berisi geguletan kendang dan kekilitan riong yang saling bersautan satu sama lain.
Mengenai proses penggarapan siat sampian ini dimulai dari tanggal 18 Januari 2018 sampai dengan pentasnya tanggal 12 april. Pada perjalanan proses ini komposer menemukan hambatan-hambatan yang cukup beragam. Mulai dari penabuh yang sering datang terlambat dan juga ada penabuh yang tidak datang saat latihan. Metode yang digunakan oleh komposer mengatasi itu adalah dengan cara menyuruh penabuh yang datang terlambat untuk merapikan alat-alat yang digunakan untuk latihan. Bukan karna alasan itu juga, penabuh adda juga yang sakit pada waktu latihan.
Mengenai tentang kategori yang di tentukan Kabupaten yaitu penabuh anak-anak dari umur 10-16 tahun komposer menerima dengan baik kategori terasebut. Karena menurut komposer kalau kategori anak-anak sangatlah baik, karena banyak bilang istilah balinya “umur mone sedeng mangan”itu biasanya yang komposer dengar , dengan umur yang masih muda ini, kita khususnya masyarakat Gianyar dapat mencetak/membibit penabuh dari usia dini. Menurut komposer masyarakat juga mendukung antusias anak-anak berkreasi sejak dini.
Tanggapan kami terhadap pelaksanaan lomba Baleganjur serangkaian HUT Kabupaten Gianyar adalah acara ini sangat bagus, karena dengan diadakannya lomba Baleganjur ini para seniman khususnya di kabupaten gianyar bisa berkreasi dan ada ruang untuk menuangkan ide-ide kreatif mereka. Khususnya di kecamatan Tampaksiringsaya melihat pementasannya lumayan bagus, Begitu juga dengan kecamatan yang lain. Dari segi tehnik dari semua kecamatan sudah merata.

PENUTUP
Kesimpulan
Sampai saat ini telah berusia 247 tahun, para pemimpin wilayah kotanya, dari Raja (kerajaan) sampai Bupati (kabupaten), memiliki ciri dan gaya serta seni memerintah sendiri-sendiri di bumi seniman. Seniman yang senantiasa membumi di Gianyar dan bahkan mendunia. Perayaan hut Kota Gianyar dilaksanakan dengan meriah setiap tahunnya. Seperti di tahun ini, perayaan hut Kota Gianyar sangat disambut antusias oleh masyarakat Kota Gianyar. Berbagai atraksi seni banyak ditampilkan dalam cara ini, seperti parade Baleganjur se- kecamatan Kota Gianyar dan masih banyak lagi lomba-lomba yang di adakan. Perayaan HUT Kota Gianyar diadakan di lapangan Astina Gianyar dan open stage bale budaya Gianyar. Rangkain acara HUT Kota Gianyar dimulai dari tanggal 6 april 2018 sampai tanggal 22 april 2018.
Salah satu tokoh/composer skaa baleganur dalam parade baleganjur se-kecamatan Kota Gianyar yaitu kecamatan Tampaksiring mengatakan , inti dari garapan ini adalah untuk memperkenalkan budaya yang ada di Tampaksiring khususnya yang ada di desa Pejeng, agar masyarakat luas dapat lebih mengetahui budaya yang ada di desa Pejeng kecamatan Tampaksiring ini. Siat sampian itu adalah tarian sakral yang dipentaskan 1 tahun sekali, ada dua pura di Bali yang mementaskan tarian siat sampian yaitu di pura penataran sasih dan di pura samuan tiga.
Mengenai proses penggarapan siat sampian ini dimulai dari tanggal 18 Januari 2018 sampai dengan pentasnya tanggal 12 april. Tanggapan kami terhadap pelaksanaan lomba Baleganjur serangkaian HUT Kabupaten Gianyar adalah acara ini sangat bagus, karena dengan diadakannya lomba Baleganjur ini para seniman khususnya di kabupaten gianyar bisa berkreasi dan ada ruang untuk menuangkan ide-ide kreatif mereka.
Saran
Saran kami untuk acara peringatan HUT Kota Gianyar yang berikutnya agar dilaksanakan lebih meriah lagi dari yang sekarang. Dan tentunya acara ini agar bisa lebih melibatkan seniman muda untuk mengekspresikan bakatnya.
Kritik
Seharusnya pemerintah lebih bisa memberikan penghargaan kepada tokoh seniman asli Gianyar yang sudah memberikan kontribusinya untuk kota Gianyar.

Ogoh-ogoh sang yang suratma

Kata Pengantar
Rasa syukur yang kami sampaikan ke hadiran Ida Sang Hyang Widhi Wasa,karena berkat kemurahan-Nya peper kecil ini dapat kami selesaikan sesuai yang diharapkan.Dalam peper ini saya memaparkan sebuah karya yang berjudul “Ogoh-ogoh Lahirnya Sang Hyang Boma ” suatu cerita yang saya angkat dalam suatu garapan seni karawitan yang memeriahkan Upacara Agung Kesanga atau pengerupukan pada Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1938.
Peper ini saya buat untuk memenuhin tugas mata kuliah Seni Pertunjukan Indonesia I.peper kecil ini, dan membantu pembaca dalam memahamin cerita-cerita Lahirnya Sang Hyang Boma .Terimakasi untuk semua bantuan semua pihak yang dapat membantu untuk menyelesaikan peper ini. Saya menyadari bahwa peper ini jauh dari kata sempurna oleh karena itu kritik serta saran sangat saya harapkan agar dilain kesempatan dapat menyusun suatu peper atau makalah menjadi baik.

A. Pendahuluan
Hari Raya Nyepi adalah hari raya humat Hindu yang di rayakan setiap Tahun Baru Saka. Hari raya nyepi yang jatuh pada sasih tilem kesanga yang di percaya merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudra yang membawa intisarin amerta udara hidup. Untuk review itu humat hindu melakuan pemujaan suci kepada mereka. Nyepi berasal dari kata sepi ( sunyi atau sepi). Hari raya yang di mulai sejak tahun 78 masehi.tidak seperti perayaan tahun baru masehi, tahunBaru Caka di bali di mulai dengan menyepi.Tidak beraktipitas seperti biasa, semua aktipitas di tiadakan termasuk pelayanan umum,seperti bandara internasional itu juga ditutup,tapi tidak review rumah sakit.Tujuan humat Hari raya nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk review menyucikan bhuana Agung(alamm semesta,makrokosmos) dan bhuana Alit ( alam manusia,mikrokosmos)sebelum hari raya nyepi, terdapat beberapa rangkaian Upacara yang dilkukan Umat Hindu, khususnya di daerah adalah daerah Bali.dan memiliki serangkainupacara, yang pertama yaitu Melasti,Pengerupukan,Puncak nyepi dan Ngembak Geni.

B. Deskripsi tentang Cerita Ogoh-Ogoh yang berjudul Sang yang Suratma.

Diawali dari kisah percakapan Dewa Brahma dan Dewa Wisnu, membicarakan tentang Kesaktiannya dan kehebatanNya masing-masing.
Beliau berdua berkata bahwa tidak ada yang bisa menyamai kehebatannya atau kesaktianNya apalagi sampai ada yang bisa melebihinya.
Beliau juga mengatakan, bahwa seisi tiga alam ini (Bhur Bwah dan Swah) adalah karenaNya.

Pada saat itu dengan tiba-tiba muncul dihadapan Beliau sebuah Lingga yang tingginya tidak seberapa, yang membuat Beliau berdua merasa heran dan bertanya-tanya dalam hati “ Apa ini aneh sekali? Oleh karena itu Dewa Brahma ingin menekan puncak Lingga tersebut memakai tangan kiri, tapi lingga itu semakin tinggi. Karena penasaran, Dewa Brahma kembali mencoba mengambil puncak lingga tersebut, namun lagi-lagi gagal, puncak lingga tidak ditemukan karena semakin meninggi.
Melihat Dewa Brahma tidak bisa mengambil Puncak Lingga tersebut, Dewa Wisnu akhirnya bangun dari duduknya dan mengoyang-goyangkan lingga tersebut, niatNya untuk menjatuhkan dan bahkan ingin mencabut linggga tersebut. Namun Dewa Wisnu pun gagal, Lingga tersebut tetap berdiri tegak dan kukuh.

Kejadian ini yang menyebabkan muncul rasa penasaran dan marah yang tidak bisa dibendung, Akhirnya Dewa Brahma berubah wujud menjadi Burung Sikep (burung besar). Beliau terbang ke udara dan sesampainya nanti di udara akan dikibaskan lingga tersebut memakai sayapnya yang besar dan lebar.

Begitu pula Dewa Wisnu, berubah wujud menjadi Babi Besar seperti Gunung Himawan besarnya, untuk masuk kedasar tanah agar bisa ditemukan dasar lingga tersebut. Tetapi usaha yang dilakukan oleh Dewa Wisnu dan Dewa Brahma sia-sia. Kemarahan yang kian memuncak, dasar tanah lalu dihancurkan dengan gigi dan taring-taring yang tajam dan membuat alam ini seperti mau pralaya karena gempa yang maha dasyat.
Bersamaan dengan itu lalu muncul Hyang Pretiwi (Dewi Basundari) yang sangat cantik serta memikat hati yang melihatnya.. Melihat kecantikan Dewi Basundari menyebabkan timbul asmara (rasa cinta) Dewa Wisnu. Kepada Dewi Basundari.
Tetapi cinta Dewa Wisnu bertepuk sebelah tangan, karena Dewi Basundari (Hyang Pertiwi) tidak tertarik karena masih dibayang-bayangi oleh wajah Dewa Wisnu yang berupa babi besar.
Karena keinginannya / rasa cinta Dewa Wisnu dengan Dewi Basundari yang begitu besar, akhirnya Dewi basundari dipaksa dan diperkosa, yang menyebabkan Hyang Pertiwi (Dewi Basundari) hamil. Dan lama-kelamaan melahirkan bayi berupa Danawa (Raksasa) yang diberi nama Sang Boma ,

Itulah secara singkat pemaparan synopsis Ogoh-ogoh ST.DWI KERTA ADI SAKTI .Br Puseh
Om Santih, Santih, Santi
C. Penjelasan Baleganjur yang Mengeringi.

Penjelasan tentang baleganjur yang mengiringin, saya membuat balaganjur yang pada umumnya yaitu dengan menggunakan 4 reong bermelodi dong,deng,dung,dan dang. Dan 8 cakep cenceng 2 kedang lanang dan wadon dan 4 tawe-tawe atau tambur dan gong kempur dan bebende,saya menggunakan Intrumen itu karena di perlukan.

D. Peran dan Keikutan serta dalam kegiatan.

Keikutan serta saya dalam kegiatan ini adalah saya sebagai yang penggarap iringan baleganjur ini serta ikut ambil posisi dalam seke yaitu sebagai pemgang intrumen tambur atau. Kegiatan isi sangat berguna bagi saya utuk mencari pengalam di bidang menggarap sebuah kompesisi baleganjur. Dan saya bangga dapat merbagi ilmu kepada teman-teman saya dirumah yang kurang bisa bermain gambelan dan menjadi bisa.

E. Bukti dan Dokumentasi kegiatan.

1.Persiapan sebelum Ogoh-Ogoh

2. Proses membuat lagu

3. Gambar ogoh-ogoh ST DEKAS

4. Gambar Ogoh-ogoh saat mau
diarak keliling desa

F. Kesimpulan Dari Kegiatan.
Dari serangkaian kegitan ini saya dapat simpulkan bahwa saya mendapatkan sebuah pengalaman untuk menggarap sebuah baleganjur pada hari raya pengerupukan ini , selain mendapatakan wawasan yang banyak dari cerita yang menarik yang dibuat oleh teman-teman saya , saya juga semakin mengerti cerita jaman dulu yang orang lain belum tentu masih ingin mengetahuinya . Sebagi seseorang yang berkecimpung di dunia seni saya berkewajiban untuk membudayakan seni yang ada dibali yang masih jarang orang lain ingin mengetahuinya .

G. Daftar Pusaka
Cerita ini diambil dari judul Kekawin Bomantaka 1

Barong Pujungan

KATA PENGANTAR

OM SWASTIASTU

Puji dan syukur saya panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas asung kerta wara nugraha beliaulah saya bisa menyelesaikan tugas ini yang membahas sejarah Barong di desa Pujungan  dengan singkat dan tepat pada waktunya.

Karya ilmiah ini disusun dalam bentuk makalah yang membahas mengenal salah satu tarian yang ada di Bali, dengan tujuan dapat memberikan gambaran mengenai tarian ini.

Saya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini. Makalah ini sudah diusahakan secara maksimal, tetapi penulis menyadari sepenuhnya bahwa apa yang saya sajikan ini jauh darisempurna, mengingat kemampuan saya terbatas. Untuk itu semua saran dan kritik yang bertujuan untuk membangun sangat saya harapkan. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR.. 1

DAFTAR ISI 2

B A B   I 3

P E N D A H U L U A N.. 3

1.1 Latar Belakang. 3

1.2 Rumusan Masalah. 3

1.3 Tujuan Penulisan. 3

1.4 Manfaat Penulisan. 4

B A B   II 5

P E M B A H A S A N.. 5

2.1 Tari Barong. 5

2.2 Pekembangan Tari. 6

2.3 Fugsi Tarian Barong. 6

2.4 Kostum Barong. 7

BAB III 8

P E N U T U P. 8

3.1 Kesimpulan. 8

3.2 Saran-Saran. 8

 

 

 

BABI

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.

Salah satu cerita yang saya dapat dari narasumber yang bernama I Wayan Sugara, pada kesempatan ini saya mengangkat sejarah awal adanya Barong di Desa Pujungan, yang masih dugunakan sampai sekarang. Tapel Barong di desa Pujungan bila di bandingkan dengan tapel Barong lainnya, ternyata tapel yang berada di desa Pujungan memiliki hal yang unik dimana Tapelnya hanya dari kayu dan diberi hiasan cat saja tidak seperti tapel lainnya yang diberi hiasan emas atau perak, berdasarkan hal inilah saya tertarik, sehingga saya pilih sebagai obyek sejarah,sebagaimana termuat dalam judul paper saya ini.

Sebelum saya sampai kepada masalah pokok, kiranya perlu saya jelaskan mengenai tari Telek.

Didalam kamus Bali-Indonesia juga disebutkan bahwa Barong dibutuhkan dua pemain laki-laki.

Dengan demikian jenis kesenian yang dimaksud disini adalah jenis seni tari yang memakai tapel, yang berkarakter halus.

 

1.2 Rumusan Masalah.

Dari uraian di atas terdapat beberapa permasalahn yang dapat dirumuskan lain sebagai berikut:

  1. Bagaimana awal kisah terbentuknya Barong di desa Pujungan?
  2. Bagaimana perkembangannya?
  3. Apa fungsi Barong tersebut?

 

1.3 Tujuan Penulisan.

Adapun tujuan penulisan dari tugas ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui awal terbentuknya tapel Barong di desa Pujungan.
  2. Untuk mengetahui perkembangannya.
  3. Untuk mengetahui fungsi Barong tersebut.

 

1.4 Manfaat Penulisan.

Beberapa manfaat yang bisa diambil dari penulisan paper ini adalah:

  1. Menambah wawasan mahasiswa mengenai sejarah Tapel Barong di desa Pujungan.
  2. Menambah wawasan mahasiswa mengenai sejarah Terbentuknya.
  3. Menambah wawasan mahasiswa mengenai perkembangannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BABII

PEMBAHASAN

2.1 Tari Barong.

Tari Barong yang merupakan salah satu jenis tari tradisional,dimana asal usulnya tidak diketahui secara pasti, hal ini disebabkan oleh kurangnya data yang mengungkapkan asal mula terbentuknya barong ini, dan saya mengatahui cerita ini berkat satu narasumber yang bernama I Wayan Sugara dari desa Pujungan, dia menceritakan dari awal kisah ada orang yang bernama Nang Rebab dari desa itu sendiri yang memiiliki anak banyak dan anehnya setiap dia memiliki anak pasti akan meninggal dan tidak diketahui apa sebabnya, kejadian it uterus menimpa Nang Rebab dan sampai dia tidak memiliki anak satupun karena semuanya meninggal, setelah lama kemudian karena Nang Rebab tidak tahan dengan semua kejadian yang terus menimpanya dia pergi ke kuburan kecil (setre alit) dia menunggui pohon yang sangat besar di kuburan tersebut yang disebut pohon jabon dengan kedaaan yang emosi , karena dia emosi dia menebang pohon tersebut satu hari satu malam dengan sendirian karena pohonnya sangat besar, setelah pohon itu tumbang dia mempunyai niat membuat tapel Barong dengan kayu yang sudah tumbang tersebut yang sudah dibentuk balok oleh dirinya sendiri dan dibantu oleh saudaranya yang saya tidak ketahui namanya , tetapu dalam proses pembuatan tapel ini niatnya membuat itu ragu-ragu (lagi dikerjakan lagi tidak) dan dalam beberapa hari tapel itupun selesai dibuat tapi masih bewarna polos, dan dia menaruh tapel itu di sebelah Balai Banjar Masyarakat Desa Pujungan, dan walaupun tapel itu belum di berwarana tapi kata narasumber saya tapel itu sudah sering di pakai (Tedun) dan setelah itu Nang Rebab memiliki niat menaruh tapel itu di Pura Dalem Desa Pujungan dan atas kesepakatan masyarakata desa Pujungan , dan sampai saat initapel tersebut masih di Pura Dalem tersebut tapi sekarang sudah ada dua tapel karena tapel yang dulu itu sudah banyak yang rusak kayunya dan umurnya sudah cukup lama, maka dari itu dibuatkan tapel yang satunya, kejadian ini berkisar pada tahun 1917.

 

 

 

 

 

2.2 Pekembangan Tari.

Tari Barong ini merupakan tarian tradisional yang cukup terkenal di Bali. Dalam perkembangannya, tarian ini sekarang tidak hanya dipertunjukan untuk masyarakat lokal dalam acara tertentu saja, namun juga ditampilkan dalam berbagai acara kepariwisataan. Selain sebagai bagian daya tarik wisata, hal ini juga merupakan suatu wujud usaha masyarakat Bali dalam melestarikan tradisi dan budaya mereka., meskiipun kita sudah mengetahui bahwa sekarang ini sudah banyak tercipta gerak-gerak  baru, namun tari Barong sendiri yang sudah tercipta cukup lama, hingga sekarang masih ada juga yang menarikannya., sampi sekarang ini masyarakat di desa tersebut masih mempercayai bahwa tari Barong itu sendiri mampu menangkal berbagi wabah penyakit muncul di desa tersebut. Tarian ini ditarikan setiap ada upacara agama di Desa Pujungan sekali dan di tarikan pada saat tertentu.

 

2.3 Fugsi Tarian Barong.

Menurut Keputusan Seminar Seni Tari Sakral dan Provan Bidang Seni Tari memutuskan, bahwa tari-tarian Bali dapat diklasifikasi menjadi tiga golongn, antara lain:

Seni Tari Wali (sakrall, religuis dance) adalah seni tari yang di lakukan di pura-pura dan di tempat yang ada hubungannya dengan upacara agama sebagai pelaksana upacara dan upakara agama yang pada umumnya tidak membawa lakon.

Seni Tari Bebali (ceremonial dance), adalah seni tari yang berfungsi sebagi pengiring upacara dan upakara di pura-pura serta pada umunya membawakan lakon.

Seni Tari Bali-Balihan (secular dance), adalah segala jenis Tari Bali yang mempunyai unsur-unsur dasar dari seni tari yang tidak tergolong tari wai atau bebali dapat dimasukkan ke dalam kelompok tari balih-balihan/tontonan.

Tari Barong ini selain sifatnya yang sakral juga bisa menjadi hiburan bagi masyarakat. Untuk Tari Barong yang ditampilkan sebagai bagian dari upacara di Pura, biasanya dilakukan dengan serius. Karena berhubungan dengan makna spiritual yang ada sehingga dilakukan secara sakral. Sedangkan Tari Barong yang ditampilkan untuk hiburan, biasanya diselingi dengan adegan-adegan yang lucu. Selain itu ada juga penampilan atraktif dari penari seperti pertunjukan ilmu kekebalan yang membuat decak kagum para penonton.

 

 

2.4 Kostum Barong.

Kostum yang digunakan setiap jenis Tari Barong berbeda-beda, karena setiap jenis barong memiliki perwujudannya sendiri-sendiri. Untuk kostum barong ket, merupakan perpaduan antara singa, harimau, dan lembu. Kostum barong ket ini biasanya digunakan oleh dua orang penari, sama halnya dengan barongsai namun bentuk kostumnya berbeda.

 

Pada bagian badan dihiasi dengan ornamen dari kulit, potongan kaca atau cermin, dan bulu-bulu yang terbuat dari serat tanaman jenis pandan atau bulu gagak. Sedangkan pada bagian kepala menggunakan topeng yang terbuat dari kayu. Kayu yang digunakan untuk membuat topeng Tari Barong ini merupakan kayu khusus yang biasanya diambil dari tempat angker. Karena itulah kostum Tari Barong dianggap benda yang sakral.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

P E N U T U P

 

3.1 Kesimpulan.

Sebagai penutup dari uraian dalam paper ini, saya akan memberikan beberapa kesimpulan serta saran-saran sebagai berikut :

  1. Barong yang berada di desa Pujungan saat ini masih dipergunakan, dan itu adalah sesuhunan desa kerana di desa Pujunga hanya desa yang punya sebuah Barong dan di sakralkan tidak seperti di daerah lainnya setiap banjar memiliki Barong.

 

3.2 Saran-Saran.

Dalam rangkaian pembinaan dari pada kesenian ini saya mempunyai beberapa saran anatara lain

  1. Untuk melestarikan kesenian, khususnya tari Barong ini perlu kiranya disiapkan kader-kader dari generasi muda yang nantinya dapat melanjutkan kelestarian tari Barong tersebeut.
  2. Kepala masyarakat desa Pujungan, saya menyarankan agar di dalam pengembangan tarian ini, hendaknya keaslian terebut tetap dijaga, dipertahankan sebagai sesuatu warisan budaya yang dapat memperkaya khasanah kebudyaan kita.