Arti Kata “Wayang Lemah”

This post was written by agusjunaedi on April 23, 2019
Posted Under: Tak Berkategori

Dalam bukunya yang berjudul Cudamani, karangan I Gusti Agung Gd. Putra Dikatakan bahwa pertunjukan wayang dipentaskan yaitu untuk meredam kemurkaan Bhatara Siva dan Bhatari Uma yang telah merubah wujud menjadi Sang Kala Yutisarana (Siva), dan Sang Kala Kalikamaya bagi Dewi Uma. Beliau berdua dengan saktinya menyebar bencana didunia ini. Sehingga manusia menjadi ketakutan, melihat periilaku Bhatara Guru yang sangat aneh, maka Sanghyang Trisemaya (Brahma, Wisnu, dan Isvara) segera membagi diri menjalankan siasat/tugas atas permohonan Bhagawan Sidayoga, untuk menyelamatkan dunia ini dari vibrasi negatif dari Dewa Siva dan Dewi Uma. Di atas tanah dihadapan bangunan agung dibuatlah panggung untuk Sang Hyang Trisemaya. Dipasanglah kelir wayang, Bhatara Isvara menjadi dalang, dibantu dengan Sang brahma dan wisnu sebagai juru gambel/pengrawit. Pementasan tersebut menceritakan tentang perilaku Sang Bhatara Kalih, yaitu Sang Hyang Kala Rudra dan Bhatari Panca Durga. Dalam pementasannya Bhatara Isvara melantunkan lagu/vokal pedalangan yang sangat indah dan merdu, serta tarian wayang yang menakjubkan. Pertunjukan tersebut membuat Bhatara Guru dan Dewi Uma menjadi senang, sehingga dunia terhindar dari kehancuran. Demikianlah permulaan adanya wayang. Mengingat akan mitologi tersebut maka sampai saat pentas wayang selalu dipentaskan pad setiap pelaksanaan upacara agama khususnya di Bali. Seperti Wayang Lemah, Wayang Sudamala, dan Wayang Sapuh Leger yang semuanya sangat disakralkan oleh masyarakat Bali.

Video wayang lemah.

Ketika berbicara tentang Wayang Lemah, hal tersebut mengingatkan kita pada arti kata Wayang Lemah. Dari pengamatan para penekun Seni Pewayangan pada masyarakat Bali, masih sangat kangka bahkan belum ada yang menuliis tentang Wayang Lemah secara rinci. Sehingga bahan atau literatur tentang wayang masih sangat sulit ditemukan, jikalaupun ada masih bersifat sangat umum. Dalam hal mengadakan pembahasan Wayang Lemah ini, penulis akan berusaha secara maksimal memberikan keterangan dengan berdasarkan sumber yang ada dan beberapa informasi dari pelaku seni pewayangaan serta dari pengalaman penulis didalam melakoni seni pedalangan sehari-hari di masyarakat.

Wayang Lemah terdiri dari dua kata dasar yaitu wayang dan lemah. Menurut W. Simpen A. B. dalam buku Serba Neka Wayang Kulit Bali (1974) yang diterbitkan oleh Listibya propinsi Bali, menyatakan pengertian wayang adalah sebagai berikut :

Kata Wayang berarti bayang atau bayanga. karena pengaruh warga aksara, maka wayang menjadi “bayang”, wesi menjadi besi, watu menjadi batu. huruf “W” dan “B” adalah huruf Ostiya (huruf bibir). Tontonan wayang adalah suatu perwujudan atau lukisan pelaku dari suatu cerita yang diperagakan. Dengan demikian, mudahlah orang mengerti / tahu tentang isi cerita itu.

Dalam Kamus Indonesia Kecik, yang disusun ole E.St.Harapan , kata wayang berarti permainan atau pertunjukan benda atau orang tentang hikayat

Dalam Bausastra Jawa oleh W.J.S Purwadarmitnta, kata wayang berarti “ringgit”, papetaning wong dengan kayu, walulang untuk mewujudkan suatu cerita.

Di Dalam Woordenboek Kawi – Balinesch – Nederlandsch Geossarium oleh Dr. H.H. Juynbol, Kata Wayang berarti Ringgit (een tooneelstnnk opvoeren). Kata Ringgit berasal dari bahasa jawa kuno/ kawi yang artinya “gerigi”. Maringgit artinya bergerigi, (yudabakti,2004;58).

Jadi sesuai dengan beberapa pendapat para ahli, maka penukius dapat menyimpulkan arti kta wayang adalah suatu bayangan yang diwujudkan dalam ggarapan kuliy/walulang atau kayu yang berbentuk bergerigi (ringgit) dengan tujuan untuk membawakan sebuah cerita.

Kata “Lemah” dalam bahasa kemasyarakatan di Bali diartikan sangat bervariasi, sehingga menimmbulkan pandangan yang berbedaa. Untuk menghindari perbedaan arti yang terlalu menjolok, maka penulis akan cuplikan beberapa pendapat dari para penulis yang mengandrungi seni Pewayangn, sebagai terurai dibawah ;

Menurut Drs.Ketut Rota, kata “Lemah” berasal dari bahasa Bali , yaitu Lemah yang berarti Siang/ Hari Galang, dan Lemah diduga berasal dari kata jawa kuno yaitu Lemah yang berarti Tanah.

Jadi dpat diberikan arti sementara bahwa kata “Wayang Lemah” megandung arti sebuah pementasan wayang yang dilaksanakan pada siang hari. Serta tempt pentasnya diletakkan ditas tanah atau lantai. Tujuan pementasan ini yaitu untuk (ngelemahang / menjabarkan) isi cerita dalam pentas yaitu ditempat ypacara dilaksanakan.

Kembali Disebutkan didalam tulisan Drs.Ketut Rota dalam bukunya yang berjudul “Pewayangan Bali Sebuah Pengantar” bahwa wayang lemah semestiny dipentaskan pada siang hari sejalan dengan adanya yajna yang diiringinya, karena fungsi utamanya adalah mengiringi Panca Yajna. Akan tetapi bila Yajna dilaksanakan pada malam hari, pentas wayang ini tetap dipentaskan pada malam itu, karena fungsinya mengiringi jalannya yajna. Berkaitan dengan hal tersebut, seolah-olah kata Wayang Lemah yang berarti wayang dipentaskan pada siang hari tidk relavan dengan praktek pentas yang dilakukan (malam hari). Karena Wayang seharusnya dipentaskan pada siang hari mengalami perubahan waktu pentas. Alasannya disebabkan oleh perubahan situasi seperti pengerjaan upacaranya belum selesai tepat pada waktunya atau Pendeta yang muput belum datang. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya perubahan waktu pentas. Namun hal ini tidak mengurangi makna dan fungsi Wayang Lemah yang sebenarnya. Karena yang dipentingkan adalah kesakralannya.

Ciri-ciri pentas wayang lemah adalah sebagai berikut : tidak memakai kelir sebagai tabirnya, akan tetapi memakai dua tiang dari kayu dadap (taru sakti) ditengahnya terbentangkan benang tukelan berwarna putih berisi sebelas uang kepeng (pis bolong) yang kedua ujungnya dibelitkan pada dahan dadap yang ditancapkan pada pohon pisang (gedebong)

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address

Previose Post: