PERBEDAAN RENGGANIS, CEKEPUNG DAN GENJEK

  1. RENGGANIS

Dari namanya dapat dibedakan menjadi dua yaitu Reng yang artinya gema/suara dan Ganis yang artinya manis. Kesenian ini berasal dan sampai saat ini masih bisa dijumpai di Bali Utara. Dari bentuknya rengganis ini memiliki kemiripan dengan kesenian yang lainnya. Kesenian Rengganis murni bersumber dari suara manusia tanpa ada penambahan instrumen dan dimana setiap peserta rengganis masing-masing membawa peran atau bagiannya masing – masing. Dan yang membuat kesenian rengganis ini memiliki ciri khas adalah adanya suatu pola yang membentuk jalinan suara dari masing – masing peserta tersebut yang mirip menyerupai sebuah kotekan dimana terdapat polos dan sangsih. Di dalam rengganis juga terdapat orang yang menyanyikan kidungan dan kekawin. Dan kini kesenian Rengganis sudah jarang dipentaskan mungkin karena peminat kesenian ini sudah jarang di kalangan masyarakat.

 

  1. CEKEPUNG

Cekepung adalah sebuah teater daerah Bali (dan Lombok) yang dilakukan oleh sejumlah pemeran pria dengan bermain rebab, suling, menari, berwawantaka dan bernyanyi. Cekepung merupakan akulturasi budaya anatara budaya sask (Lombok) dengan budaya Bali.

Sampai saat ini bahwa arti kata “cekepung” belum diketahui secara pasti. Menurut dugaan bahwa nama cekeoung ini timbul dari gejala bahasa yang disebut onomatopea (peniruan bunyi). Interprestasi ini muncul disebabkan karena bunyi-bunyi yang dominan dalam teater ini ialah “cek” dan “pung” serta diperdengarkan berulang-ulang sehingga teater ini disebut “cekpung”. lama kelamaan ucapan “Cekpung” berubah menjadi “Cekepung” dengan adanya tambahan suara “e” antara “cek” dan “pung”. Suara “cek” adalah ritme ritme yang terdapat dalam tari Kecak dan suara “pung” adalah peniruan ritme dalam gamelan Bali.

Menurut dugaan bahwa Cekepung timbul di Lombok, karena cerita yang digunakan sebagai tema pertunjukan lebih banyak menggunakn bahasa sasak (bahasa suku Lombok).

Pecahnya perang Bali dan Lombok pada abad ke 18, yaitu tepatnya pada tahun 1760 ketika raja Karangasem sepenuhnya menguasai Lombok Barat, menyebabkan banyak tentara Bali yang menetap di Lombok. Tentara-tentara hidup rukun di tengah-tengah orang sasak (Lombok). Mereka sering mengadakan upacara sematan bersama, Karena gembiranya, mereka memasukkan instrumen rebab dan suling sebagai pengganti melodi dan pantun yang dinyanyikan, sehingga terciptalah teater cekepung seperti sekarang.

 

  1. GENJEK

Genjek merupakan seni seni karawitan Bali yang menggunakan vokal sebagai sumber bunyi utamanya. Sepuluh hingga dua puluh orang pemain duduk membentuk sebuah atau setengah lingkaran, menyanyi disertai gerakan-gerakan tubuh dan sekaligus komando, satu orang sebagai pemegang ritme, sementara yang lainnya membuat jalinan ritmis suara-suara sa, pak, sriang, cek, de, tut, ces, jos, dan sir. Jalinan yang harmonis berbagai jenis warna suara itulah membentuk sebuah masuik yang diberi nama Genjek.

Tema yang digunakan dalam lagu genjek biasanya mengenai kegembiraan, ada juga yang bersifat romantis, rayuan, nasehat, dan sindiran atau dapat dikatakan tema lagu genjek merupakan penggambaran dari fenomena kehidupan. Secara musikal gejek menggunakan lagu-lagu Bali sederhana yaitu sejenis gegendingan.

Setiap lagu genjek dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama sekaligus mengawali adalah lagu berlirik beberapa bait yang dibawakan oleh seorang pemain, dilanjutkan dengan lagu tanpa lirik oleh beberapa orang pemain yang disebut toreng. Sementara toreng tetap bernyanyi, pemain yang lain menyertai dengan membuat jalinan ritmis sesuai dengan jenis bunyi yang telah ditetapkan. Dalam kesenian genjek ini sudah masuk beberapa instrumen, seperti penting, suling, gong pulu, kendang, gerantang dan guntang.

Kesenian genjek ini konon lahir dari kebiasaan berkumpul, ngerumpi disertai minum tuak dan apabila keadaan setengah mabuk, nyanyian Genjek keluar dengan lancar, mereka pun bernyanyi bersama membuat jalinan irama dan melodi yang cukup menarik. “Daripada mabuk disertai berbicara ngawur tak karuan, lebih baik mabuk disalurkan lewat megenjekan (wawancara dengan I Nyoman Taler dan Nang Pahit, 2 juli 1999).

Namun eiring dengan berjalannya waktu, seni ini berkembang dan dilakukan oleh mereka yang tidak dalam pengaruh minuman tersebut. Kata-kata yang diperdengarkan pun semakin bervariasi yang diambil dari bahasa sehari-hari masyarakat seperti: perasaan jatuh cinta/kagum dengan seorang wanita, masalah sehari – hari dan yang lainnya. Harapan seni ini nantinya bisa dijadikan sebagai ajang bercerita tanpa harus menyinggung orang lain dan utamanya tanpa minuman keras yang biasa menyertainya.

 

 

 

PERKEMBANGAN INSTURMENTASI GENDING TABUH KREASI KEBYAR DI PKB TAHUN 2005

Dewasa ini Pesta Kesenian Bali merupakan suatu ajang kesenian tahunan yang dicetuskan Pemerintah Provinsi Bali yang sangat membawa dampak yang besar bagi perkembangan gamelan Gong Kebyar dan gending-gending Kebyar di Bali. Melalui event Kesenian yang besar tersebut, seniman dan kesenian-kesenian dari masing-masing daerah bisa mendapatkan ruang dan tempat dalam mengekspresikan, mengembangkan, dan melestarikan kesenian-keseniannya tersebut. Dan salah satunya Festival/Parade Gong Kebyar merupakan ajang yang paling berpangaruh terhadap perkembangan Gamelan Gong Kebyar dan gending – gending Kekebyaran di Bali diluar ajang lainnya pada Pesta Kesenian Bali tersebut. Dari awal tercetusnya Pesta Kesenian Bali tersebut, Gong Kebyar merupakan kesenian yang paling eksis dan ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Dan seiring hal tersebut Gending Kebyar pun semakin mengalami perkembangan dari tahun ke tahun khususnya pada lagu-lagu instrumental khususnya Tabuh Kreasi Kebyar. Dari tahun ke tahun Tabuh Kreasi Kebyar di PKB telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, dapat dilihat dari segi teknik permainan, isi-isian gending, pola-pola pukulan instrumen, dan perkembangan instrumentasi pun kerap terjadi pada karya-karya Tabuh Kreasi Kbeyar seperti penambahan instrumen-instrumen yang lain seperti Rebana, Tawa-Tawa, Ceng-Ceng Kopyak, Kulkul dan lain sebagainya diluar dari ansambel Gong Kebyar tersebut menjadi salah satu faktor berkembangnya karya-karya Tabuh Kreasi Kebyar tersebut. Khsusnya penambahan instrumen pada karya-karya Tabuh Kreasi Kebyar pada ajang PKB terjadi karena dari tahun ke tahun pemikiran-pemikiran para komposer Bali terus menerus berkembang dan rasa haus akan pembaruan-pembaruan yang semakin meningkat, membuat para komposer-komposer tersebut dari tahun ke tahun mencoba untuk mengeksplorasi hal-hal baru atau fenomena-fenomena baru yang mungkin dapat masuk kedalam sebuah karya Tabuh Kreasi Kebyar tersebut, misalkan penambahan instrumentasi yang juga telah menjadi bagian dari eksplorai para komposer dalam menciptakan sebuah karya Tabuh Kreasi Kebyar. Dewasa ini penambahan instrumen seakan menjadi tren di kalangan para komposer khususnya dalam penciptaan suatu karya Tabuh Kreasi Kebyar tersebut. Pada PKB tahun 2005, penambahan instrumen juga menjadi bagian terhadap suatu karya Tabuh Kreasi Kebyar khususnya pada karya yang dibawakan oleh Sekaa Gong Jenggala Kori Agung Duta Kabupaten Klungkung yang berjudul Tabuh Kreasi Blabar, dimana kata Blabar mengacu pada fenomena bencana alam yang bermakna banjir bandang (banjir besar yang bergemuruh). Dan dari hal tersebut, komposer pun mencoba melakukan penambahan instrumen untuk menjadi bagian pada karya tersebut, dimana hal tersebut dilakukan untuk menguatkan, memberi nuansa, karakter dan jiwa pada karya tersebut agar dapat benar-benar sesuai dengan ide dan konsep yang diambil. Kendang Bali merupakan instrumen yang dipilih sebagai tambahan instrumen yang dilakukan pada gending Tabuh Kreasi Blabar tersebut, dan terdapat 5 buah instrumen kendang yang dimainkan oleh para pemain Gangsa dan Giying (Ugal), dimana sisi bagian kanan kendang tersebut dihadap keatas dan dimainkan menyerupai instrumen Jimbe dari Afrika. Dari ide tentang sebuah fenomena alam tersebut, komposer mencoba melakukan penambahan instrumen kendang sebagai suatu gagasan utama dari karya tersebut untuk benar-benar bisa mendapatkan makna sesungguhnya dari kata Blabar tersebut, namun dibalik itu semua sang komposer masih tetap mempertahankan Tri Angga dalam membentuk karya tersebut dengan tetap menggunakan pola-pola tradisi seperti kotekan, ubit-ubitan, dan tentunya kebyar yang menjadi karakter dari karya tersebut dan ditata dengan unsur-unsur musikalitas seperti dinamika, melodi, ritme, dan irama.

Mengenai pengembangan instrumen yang terjadi pada karya-karya Tabuh Kreasi Kreasi Kebyar dewasa ini, semua itu dapat terjadi karena adanya pemikiran-pemikiran dari para komposer yang bisa berdampak baik terhadap karya yang bersangkutan, namun bila pengembangan instrumen tersebut diberikan porsi yang berlebihan, semua itu bisa saja menghilangkan karakter kebyar yang merupakan ciri khas dari gamelan Gong Kebyar tersebut.

CINTA

Cinta adalah sebuah ungkapan perasaan seseorang kepada seseorang yang dicintainya. Cinta merupakan anugerah dari Tuhan kepada sepasang manusia untuk saling mencintai, saling memiliki dan saling melengkapi. Cinta tidak dapat dipaksakan, cinta hanya dapat tumbuh karena adanya perasaan yang sama pada setiap pasangan. Kedatangan cinta juga kadang tidak disengaja. Cinta memang merupakan suatu ungkapan, tetapi bukan saja hanya ungkapan pada bibir saja melainkan harus dilandasi dengan ungkapan pada perbuatan. Seseorang bisa menemukan arti cinta yang sebenarnya dengan mencintai pasangannya dengan ketulusan hati, dan tidak menodai cinta tersebut dengan hal-hal yang bisa menyakiti masing-masing. Seseorang harus mencintai pasangannya dengan menerima segala kekurangan maupun kelebihan pasangannya.

Seseorang mengalami jatuh cinta karena adanya ketertarikan antara sepasang pasangan berlawanan jenis yang saling menyukai, menyayangi dan ingin memiliki. Cinta itu adalah kondisi dimana seseoang bisa melihat sisi terburuk dari pasangannya, tetapi ia masih tetap bisa mencintai dengan sepenuh hati. Cinta tidak harus menuntut, membandingkan, egois, ataupun menjatuhkan pasangan. Cinta harus bisa menumbuhkan arti dan makna pada kehidupan. Cinta itu bukan apa yang dipikirkan oleh akal, tetapi cinta itu adalah apa yang dirasakan oleh hati seseorang.

Tujuan dari cinta adalah membahagiakan pasangannya. Dalam mencintai seseorang, janganlah ingin menjadi yang terbaik, tetapi berusahalah menjadi yang paling ikhlas. Karena menjadi yang terbaik akan memaksakan seseorang untuk berpura-pura sedangkan jika menjadi yang paling ikhlas akan mengajarkan seseorang untuk bersederhana. Deskripsikanlah cinta pada pasangan masing-masing dengan perasaan tulus dan bahasa cinta. Cinta adalah anugerah, maka janganlah pernah menyia-nyiakan cinta dari orang-orang yang ada disekitarmu dan orang yang menyayangimu.

10 BAHAN MAKANAN DAN MINUMAN FUNGSIONAL KHAS DAERAH BESERTA MANFAATNYA

  1. CINCAU

Cincau dapat dijadikan bahan dari minuman es campur atau es cincau

Manfaat dari cincau adalah :

  • Dapat dijadikan sebagai antioksidan alami
  • Mengobati demam
  • Mengobati penyakit diabetes
  • Mencegah radang lambung
  • Mencegah tumor dan kanker
  • Menguatkan otot
  1. KACANG HIJAU

Kacang hijau dapat dijadikan bahan dari bubur kacang ijo

Manfaat kacang hijau adalah :

  • Mencegah kanker
  • Mengidealkan berat badan
  • Menurunkan kolesterol
  • Mengobati penyakit diabetes
  • Mencegah penyakit jantung
  • Menangani keluhan pasca menopause
  1. TAPE

Tape dapat dijadikan bahan dari es campur maupun kue, seperti misalnya kue pasung di Bali

Manfaat tape adalah :

  • Menghangatkan badan
  • Menguatkan sistem syaraf dan otot
  • Melancarkan fungsi pencernaan
  • Mencegah anemia
  • Mencegah darah tinggi
  1. LABU

Labu dapat dijadikan bahan dari kue, seperti misalanya kue di Bali yg diberi nama Klepet tabu

Manfaat labu adalah :

  • Melancarkan sistem percernaan
  • Menjaga kesehatan tulang
  • Mencegan penyakit kanker
  • Mencegah penyakit hipertensi
  • Menjaga kesehatan kulit

SEJARAH SINGKAT GONG LUANG DESA TANGKAS KLUNGKUNG

Menurut Informan I Komang Sukarya dari Desa Tangkas ini mengatakan bahwa leluhurnya I Nyoman Digul(alm) dan Jero Mangku Ranten(alm), dahulu pernah belajar sekaligus menjadi anggota Sekehe Gong Luang di Puri (Kerajaan) Klungkung. Menurut informasi beliau,barungan gamelan Gong Luang tersebut kemungkinan berasal dari Majapahit mengingat akrabnya hubungan antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Klungkung dan barungan tersebut bila dilihat seperti mirip dengan gamelan Jawa. Namun ketika pecah perang Puputan Klungkung tahun 1908, barungan Gong Luang milik kerajaan tersebut dirampas oleh Belanda saat peperangan terjadi. Selanjutnya masyarakat hingga saat ini tidak mengetahui dimana barungan Gong Luang itu berada karena tidak ada jejaknya sama sekali.

Sedangkan barungan Gong Luang yang ada di Tangkas sekarang adalah buatan baru dalam upaya untuk menggali kembali eksistensi dari Gong Luang tersebut sekitar tahun 1928, yang mana barungan gamelan ini dikerjakan di Desa Tihingan. Nada – nada, bentuk, saih dari Gong Luang yang baru ini dibuat semaksimal mungkin mendekati gamelan aslinya dan juga barungan instrumennya dibuat sesuai barungan gamelan Gong Luang yang pernah ada di Puri Kerajaan Klungkung atas jasa Jero Mangku Ranten(alm). Dan kini barungan gamelan Gong Luang yang ada di Desa Tangkas dikenal sebagai salah satu barungan Gong Luang yang khas dan berbeda dari gamelan-gamelan Gong Luang yang ada daerah lain. Gamelan Gong Luang di desa Tangkas tersebut sekarang masih eksis setiap perayaan-perayaan Upacara besar Dewa Yadnya di Kabupaten Klungkung khususnya. (Wawancara:dengan Komang Sukarya tanggal 08,10,2017)