Gong Kebyar adalah barungan gamelan Bali sebagai perkembangan terakhir dari Gong Gede, memakai laras pelog lima nada, yaitu : nding, ndong, ndeng, ndung, ndang. Yang awal mulanya tidak mempergunakan instrumen terompong. Selanjutnya Gong Kebyar dapat diartikan suatu barungan gamelan gong yang didalam permainannya sangat mengutamakan kekompakan suara, dinamika, melodi dan tempo. Ketrampilan mengolah melodi dengan berbagai variasi permainan dinamika yang dinamis dan permainan tempo yang diatur sedemikian rupa serta didukung oleh teknik permainan yang cukup tinggi sehingga dapat membedakan style  Gong Kebyar yang satu dengan yang lainnya. Dan kali ini kita akan membahas sejarah Gong Kebyar yang ada di br. Cekik ds. Berembeng kec. Selemadeg kab. Tabanan.

Banjar Cekik merupakan salah satu banjar yang ada di desa Berembeng kecamatan Selemadeg kabupaten Tabanan. Menurut bapak Nengah Mawen , sejarah gamelan di banjar Cekik ini pertama kalinya sekitar tahun 1943 dan kala itu kita masih belum merdeka dan dijajah. Awalnya di banjar Cekik hanya memiliki sekee joged dan gamelan joged. Dan pada tahun 1946 masyarakat di banjar Cekik berinisiatif untuk membeli gamelan Gong Kebyar. Namun, pada saat itu masyarakat hanya memiliki dana yang sangat minim. Banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat demi memiliki Gamelan Gong Kebyar yaitu, menghimpun diri untuk mengisi waktu luang dengan membuat sekha demen , khususnya yang senang menabuh gamelan. Untuk bisa membeli gamelan, kelompok itu menyisihkan upah yang di dapat dari penjualan padi. Sekitar tahun 1952 dana terkumpul, dan masyarakat Cekik membelinya dari pande di Tiingan Klungkung, nama pande nya adalah Pak Sweca. Dengan perangkat gamelan yang telah dimiliki di banjar Cekik, sekha mampu mewujudkan rasa bakti dengan konsep ngayah-ngayah di lingkungan Desa bahkan di luar Desa. Dan pada saat Hari raya galungan yang bertepatan dengan purnama ada upacara di kahyangan Dalem banjar Cekik, sekhe gong di banjar Cekik mengiringi Ratu Ayu mesolah, dan tradisi ini trus turun temurun hingga ke generasi saya.Informasi sejarah gamelan di banjar Cekik ini saya dapat dari bapak Nengah Mawen, dan penglingsir penglingsir lainnya di banjar Cekik yang saya wawancarai pada hari jumat, 17 nopember 2017.

Gong kebyar yang ada di br cekik ini memiliki fungsi yang sangat banyak. Sebagai penunjang jalan nya upacara agama yang ada di Tri Kahyangan untuk mengiringi tarian sakral maupun untuk menabuh lelambatan ,  dan juga di Pura-Pura ibu yang ada di br. Cekik. Bisa juga untuk mengiringi tari kekebyaran di setiap ada acara politik untuk menyambut tamu-tamu kehormatan.

 

 

Tinggalkan Balasan