agusandika on April 3rd, 2018

Gong kebyar adalah sebuah barungan baru. Gong adalah sebuah instrument pukul yang bentuknya bundar yang mempunyai moncol atau pencon di tengah – tengahnya. Kebyar adalah suatu bunyi yang timbul dari akibat pukulan alat – alat gambelan secara keseluruhan dan secara bersama – sama.Sesuai dengan nama yang diberikan kepada barungan ini Kebyar disini bermakna cepat, tiba-tiba, dan keras. Gamelan ini menghasilkan musik-musik keras yang dinamis. Gamelan ini digunakan untuk mengiringi tari-tarian atau memainkan tabuh-tabuhan yang instrumental. Secara fisik Gong Kebyar adalah pengembangan dari Gong Gede.

Secara konsep Gong Kebyar adalah perpaduan antara Gender Wayang Gong Gede dan Pelegongan. Rasa-rasa musikal maupun pola pukulan instrumen Gong Kebyar ada kalanya terasa Gender Wayang yang lincah, Gong Gede yang kokoh atau pelegongan yang melodis. Pola Gagineman Gender Wayang, pola Gegambangan dan pukulan Kaklenyongan Gong Gede muncul dalam berbagai tabuh Gong Kebyar. Gamelan Gong Kebyar adalah produk kebudayaan Bali modern. Gamelan gong kebyar yakni sebagai seni musik tradisional di Bali yang diperkirakan muncul di Kabupaten Singaraja yakni pada tahun 1915.

Desa yang di sebut-sebut sebagai asal pemunculan Gong Kebyar adalah Jagaraga (Buleleng) yang juga memulai tradisi Tari Kebyar. Ada juga informasi lain yang menyebutkan bahwa Gong Kebyar muncul pertama kali di desa Bungkulan (Buleleng). Perkembangan Gong Kebyar mencapai salah satu puncaknya pada tahun 1925 dengan datangnya seorang penari Jauk yang bernama I Ketut Mario dari Tabanan yang menciptakan sebuah tari Kebyar Duduk, Oleg Tamulilingan dan Kebyar Trompong.

Yang pertama memiliki embat yang sesuai dengan embat gamelan gong gede yaitu agak rendah seperti yang banyak terdapat di Bali Utara. kelompok kedua menggunakan embat sama dengan embat gamelan palegongan (sumbernya) yaitu agak tinggi seperti yang sebagian besar terdapat di Bali bagian selatan, Gamelan-gamelan kebyar yang murni buatan baru sebagian besar ber-embat sedang seperti yang terdapat di berbagai daerah di Bali dan diluar Bali. Kenyataan ini menunjukan bahwa belum ada standarisasi embat untuk Gamelan kebyar diBali.

Gong kebyar ditabuh untuk pertama kalinya menyebabkan terjadinya kekagetan yang luar biasa. Masyarakat menjadi tercengang dan ternak sapi yang sedang diikatkan di ladang dan di kandangnya terlepas dan lari tunggang langgang. Gong kebyar merupakan tabuhan bersama dan serentak yang diikuti oleh hampir semua tungguhan pada perangkatnya kecuali tungguhan suling, kajar, rebab, kempul, bebende dan kemong.
Bentuk kebyar merupakan salah satu bagian dari satu kesatuan gending yang letaknya bisa di depan, di tengah atau di bagian akhir. Jenis tabuhan kebyar ini sering digunakan pada iringan tarian maupun tabuh petegak (instrumental). Karena itu kebyar memiliki nuansa yang sangat dinamis, keras dengan satu harapan bahwa dengan kebyar tersebut mampu membangkitkan semangat.

Dalam perkembangannya gong kebyar munculah istilah gaya Bali Utara dan gaya Bali Selatan, meskipun batasan istilah ini juga masih belum jelas. Sebagai gambaran daerah atau kabupaten yang termasuk daerah Bali Utara hanyalah Kabupaten Buleleng. Sedangkan Kabupaten Badung, Tabanan, dan lain mengambil gaya Bali Selatan. Disamping itu penggunaan tungguhan gong kebyar di masing-masing daerah sebelumnya memang selalu berbeda karena disesuaikan dengan kebutuhan maupun fungsinya.

Struktur Gong Kebyar

Gong Kebyar merupakan salah satu perangkat/barungan gambelan Bali yang terdiri dari lima nada ( panca nada ) dengan laras pelog, tetapi tiap-tiap instrument terdiri sepuluh bilah. Gong Kebyar bagi masyarakat Bali sudah tidak asing lagi, karena hampir seluruh desa maupun banjar yang ada di Bali memiliki satu perangkat/ barungan Gong Kebyar.

Oleh karenanya gong kebyar menjadi satu barungan gambelan tergolong baru jika dibandingkan dengan jenis-jenis gambelan yang ada saat ini seperti misalnya, gambelan Gambang, Gong Gde, Slonding, Semara Pegulingan dan masih banyak yang lainnya.

Barungan gong kebyar terdiri dari :

  • Dua buah (tungguh) pengugal/giying
  • Empat buah (tungguh) pemade/gansa
  • Empat buah (tungguh) kantilan
  • Dua buah (tungguh) jublag
  • Dua buah (tungguh) Penyacah
  • Dua buah (tungguh) jegoggan
  • Satu buah (tungguh) reong/riyong
  • Satu buah (tungguh) terompong
  • Satu pasang gong lanang wadon
  • Satu buah kempur
  • Satu buah kemong gantung
  • Satu buah bebende
  • Satu buah kempli
  • Satu buah (pangkon) ceng-ceng ricik
  • Satu pasang kendang lanang wadon
  • Satu buah kajar

Di Bali ada dua macam bentuk perangkat dan gaya utama gambelan gong kebyar yaitu gambelan gong kebyar Bali Utara dan gambelan gong kebyar Bali Selatan. Kedua gambelan gong kebyar ini perbedaannya terletak pada :

-Tungguhan gangsa, Bali Utara bentuk bilah penjain dan dipacek sedangkan Bali Selatan -menggunakan bentuk bilah kalorusuk dan digantung.

-Gambelan Bali Utara kedengarannya lebih besar dari suara gambelan Bali Selatan, meskipun dalam patutan yang sama.

Dalam perkembangannya gong kebyar munculah istilah gaya Bali Utara dan gaya Bali Selatan, meskipun batasan istilah ini juga masih belum jelas. Sebagai gambaran daerah atau kabupaten yang termasuk daerah Bali Utara hanyalah Kabupaten Buleleng. Sedangkan Kabupaten Badung, Tabanan, dan lain mengambil gaya Bali Selatan. Disamping itu penggunaan tungguhan gong kebyar di masing-masing daerah sebelumnya memang selalu berbeda karena disesuaikan dengan kebutuhan maupun fungsinya.

KEPUSTAKAAN

Bandem, I Made. 2013. Gambelan Bali di Atas Panggung Sejarah. Denpasar : BP STIKOM BALI

agusandika on Maret 27th, 2018

Tari Oleg Tamulilingan dapat diuraikan Oleg dapat berarti gerakan yang lemah gemulai, sedangkan tambulilingan berarti kumbang pengisap madu bunga. Jadi, Tari Oleg Tambulilingan adalah tarian yang melukiskan gerak-gerik seekor kumbang, yang sedang bermain-main dan bermesra-mesraan dengan sekuntum bunga di sebuah taman.

-Sejarah Tari

Tari Oleg Tamulilingan merupakan karya cipta seniman besar I Ketut Maria alias I Mario yang paling populer di antara sejumlah ciptaannya. Tarian ini digarap tahun 1952 atas permintaan John Coast, budayawan asal Inggris yang sangat terkesan dengan kesenian Bali, untuk dipromosikan ke Eropa dan Amerika Serikat. Tari ini merupakan tari berpasangan ditarikan oleh seorang panari wanita dan seorang penari laki-laki. Gerakan-gerakan Tari Oleg Tamulilingan menggambarkan keluwesan seorang penari wanita, dan kegagahan penari laki-laki. Kedua penari menampilkan gerakan-gerakan bermesraan dengan penuh dinamika.

Bernama John Coast (1916-1989), kelahiran Kent, Inggris, sangat terkesan dengan kebudayaan Bali. Sebelum berkiprah di Bali, ketika perang dunia kedua meletus, Coast masuk wajib militer dan sebagai perwira, sampai sempat bertugas di Singapura. Ketika Singapura keburu dikuasai Jepang, Coast yang berstatus tawanan lalu dikirim ke Thailand. Namun begitu, Coast memang berbakat seni. Ia ternyata melahirkan tulisan “Railroad of Death” pada 1946 yang kemudian mencapai best seller dalam waktu singkat. Hal itu mendorong semangatnya lagi untuk menulis buku “Return to the River Kwai” pada 1969. Di sela itu, Coast sempat berkolaborasi dengan seniman musik dan tari dari berbagai latar budaya, hingga menggelar pertunjukan konser pasca-perang. Setelah merasa aman, pada 1950 Coast meninggalkan Bangkok menuju Jakarta karena terdorong untuk mengabdi kepada perjuangan Indonesia. Dalam waktu singkat, ia mendapat kepercayaan dari Bung Karno untuk memegang jabatan sebagai atase penerangan Indonesia. Selama di Indonesia, Coast menikah dengan Supianti, putri Bupati Pasuruan. Ketika menetap di Bali, ia tinggal di kawasan Kaliungu, Denpasar.Cinta Coast pada seni budaya Bali mulai tumbuh saat tersentuh tradisi dan kehidupan masyarakat. Kesenian ternyata amat memikat hati dan obsesinya untuk mengorganisir sebuah misi kesenian ke Eropa. Selama petualangannya mengamati beberapa sekeha gong di Bali, Coast tertarik dengan penampilan sekaha gong Peliatan. Pada 1952, Coast menilai bahwa Gong Peliatan dengan permainan kendang AA Gde Mandera yang ekspresif cukup layak ditampilkan di panggung internasional. Dalam rencana lawatan ke Eropa itu, Coast ingin juga membawa sebuah tarian yang indah dan romantik, di samping beberapa tarian yang sudah sering dilihatnya.

Atas saran Mandera, Coast lalu menghubungi penari terkenal sekaligus guru tari I Ketut Maria yang kemudian akrab dipanggil I Mario. Mario yang kala itu sudah menciptakan tari Kebyar Duduk yang kemudian menjadi tari Terompong, bersedia bergabung dengan Gong Peliatan. Coast “merangsang” Mario untuk berkreasi lagi dengan memperlihatkan buku tari klasik ballet yang di dalamnya terdapat foto-foto duet “Sleeping Beauty” yaitu tentang kisah percintaan putri Aurora dengan kekasihnya Pangeran Charming. Maka terinspirasilah Mario menciptakan tari

Oleg. Inilah yang diinginkan Coast.
Untuk membawakan tari Oleg — tarian baru itu, I Mario memilih I Gusti Ayu Raka Rasmi yang memiliki basic tari yang bagus. Dalam menata iringannya, Mario mengajak I Wayan Sukra, ahli tabuh asal Marga, Tabanan. Di samping itu, dilibatkan pula tiga pakar tabuh Gong Peliatan dalam menggarap gending Oleg itu yakni Gusti Kompyang, AA Gde Mandera, dan I Wayan Lebah. Tari Oleg itu semula bernama Legong Prembon. Nampaknya Coast kurang berkenan dengan nama Legong Prembon karena kata itu sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. I Mario lantas menggantinya menjadi tari Oleg Tamulilingan Mengisap Sari dan atas kesepakatan bersama akhirnya disebut Oleg Tamulilingan atau “The Bumble Bee Dance”. Tarian ini menggambarkan dua ekor kumbang, jantan dan betina, sedang bersenang-senang di taman bunga sambil mengisap madu. Sebagai kumbang jantan pasangan Raka Rasmi, dipilihlah I Sampih yang jauh lebih tua, berasal dari Bongkasa, Badung.

Kata oleg dalam kamus bahasa Bali berarti “goyang”. Dalam tarian yang melambangkan kumbang betina itu, memang terdapat gerakan bergoyang lemah gemulai seolah-olah pohon tertiup angin. Gerakan lemah gemulai tari Oleg ini nampak pada bagian pengadeng saat penari memegang oncer yang bergantian dengan kedua tangan ditekuk silang di depan dada, sambil bergoyang ke kanan dan ke kiri. Maka dinilai, pemeran yang cocok membawakannya adalah yang berperawakan langsing semampai sebagai pemberi kesan ngoleg. Begitulah. Tarian ini lantas awalnya lebih dikenal di mancanegara daripada di Bali, karena begitu tercipta lalu dipakai ajang promosi Bali di luar. Sebelum berangkat ke Eropa, misi kesenian pemerintah RI itu terlebih dahulu pentas di Istana Merdeka untuk pamitan kepada Presiden Soekarno karena akan melawat sekitar 10 bulan mengunjungi Prancis, Jerman, Belgia, Italia, Inggris dan beberapa kota besar di Amerika Serikat. Mario tidak turut dalam rombongan itu. Namun beberapa tahun kemudian, bersama Gong Pangkung Tabanan, ia “menghipnotis” masyarakat Eropa, Kanada dan Amerika Serikat dengan berbagai improvisasi gerak tari indah dalam tari Kebyar Duduk dan tari Terompong pada acara “Coast to Coast Tour” pada 1957 dan 1962.

-Perkembangan Tari

Tari Oleg Tamulilingan dianggap sebagai Tari Klasik, karena menampilkan gerakan-gerakan dasar tari Bali, yang belum mendapatkan (mengalami kreasi). Perkembangan tari Bali benar-benar diperhatikan.Minat para penari Bali terhadap Tari Oleg Tamulilingan cukup besar. Walaupun tarian ini cukup sulit di tarikan. Penari wanita Oleg Tamulilingan sangat memerlukan kelenturan tubuh, keluwesan tangan dan dasar tari Bali yang cukup kuat. Sedangkan penari laki-lakinya juga memerlukan kelenturan tubuh dan keluwesan.Tari Oleg Tamulilingan ini juga sering dijadikan materi lomba tari bali. Perkembangan Tari Oleg dalam beberapa periode belakangan memang mengalami perubahan gerak Perkembangan ini dilakukan oleh Sekaa Gong Belaluan, Denpasar, di bawah komposer terkenal I Wayan Berata, sebelum tahun 1960. Selanjutnya terjadi pula perkembangan pada perbendaharaan gerak tarinya. Jika diamati dengan cermat, perubahan itu bisa berakibat buruk. Pengenalan gaya Mario menurut Agung Suparta lebih memicu kreativitas generasi muda terhadap bentuk-bentuk “pemberontakan” Mario pada masanya. “Dalam tari Oleg Tamulilingan, bisa dilihat simbol-simbol pemberontakan gerak yang dilakukan Mario dalam seni tari Bali,” tutur seorang pengamat seni muda Tabanan, Putu Arista Dewi.

Gaya asli Mario memang seharusnya dikenali secara cermat. Banyak puncak-puncak pencapaian gerak dari Mario yang sulit ditandingi seniman masa kini. Misalnya dari segi properti, kipas, panggul terompong dan kancut dalam tarian ciptaan Mario bukan hanya berfungsi sebagai alat semata, namun menyatu dan saling mendukung dalam gerak tubuh penari. “Oleh sebab itu gaya Mario perlu dilestarikan, sebelum punah dan sulit melacak asal-usulnya,” ujar Ayu Trisna Dewi Prihatini, pengelola sekaligus Pemilik Sanggar Tari Ayu di Tabanan. Dosen Karawitan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar, I Made Arnawa, S.S.Kar menambahkan, lomba tari Oleg secara berkesinambungan akan mampu membuktikan sejauhmana ciptaan Mario ini telah direvisi dan diaplikasikan oleh koreografer penerus. I Gusti Ayu Raka Astuti asal Kedaton, Denpasar, yang mantan pengajar tari Oleg Tamulilingan di Kokar (kini SMK 3 Sukawati) Bali, bertutur soal itu.Katanya, ketika ia menarikan Oleg yang telah direvisi di hadapan I Mario sang pencipta Oleg, ternyata Mario sendiri tidak bereaksi alias mendiamkannya saja. Sebelumnya, Raka Astuti diajar tari Oleg yang “asli” gaya Mario oleh guru tari asal Lebah, Denpasar, I Wayan Rindi.

Di situ Raka Astuti melakukan perubahan pada bagian papeson. Saat akan bergerak di samping, dirasakan agem nampak lukus — kurang enak. Bila bergerak ke samping kiri, tangan kanan digerakkan di depan dada menuju ke arah samping kiri. Menurut Raka Astuti, gerakan itu akan menutupi muka dan mengakibatkan olah tubuh tidak kelihatan.Menghindari hal itu, maka ia membuat olah gerak baru, bila akan ke samping kiri maka tangan kiri yang digerakkan lebih dahulu ke kiri dan olah tubuh akan nampak dengan gerakan badan nyeleyog ke kiri. Masih dalam papeson, sebelum menghadap ke samping kanan ataupun kiri, ada tambahan gerakan angsel kado. Demikian pula pada perbendaharaan gerak lainnya terdapat pembaruan-pembaruan lain. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1961. Inilah yang kemudian mengantarkan Raka Astuti sebagai salah seorang penari Oleg Tamulilingan yang memiliki gaya tersendiri.Dalam koreografinya, sebelum penari “kumbang jantan” atau muanin Oleg memasuki arena, Oleg Tamulilingan sebagai simbol “kumbang betina” menari sendirian. Jadi ini merupakan tari solo. Hal ini memberi ruang lahirnya berbagai style Oleg sesuai dengan kemampuan dan ciri pribadi masing-masing penarinya.

-Fungsi Tari

Tari Oleg Tamulilingan merupakan tari bebalian atau hiburan. Kalau dipentaskan di pura, tari ini hanyalah sebagai hiburan tidak terkait dengan upakara di pura. Tari ini juga sering dipentaskan untuk hiburan bila ada acara-acara baik di hotel-hotel maupun di instansi pemerintah.Sebagai ajang lomba untuk melestarikan Tari Oleg Tamulilingan yang baru ini di selenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tabanan telah menggelar Lomba Tari Oleg Tamulilingan dan Kebyar Terompong yang terbuka untuk peminat di seluruh Bali, guna mengenang dan mendiang Mario. Bupati Tabanan, Nyoman Adi Wiryatama menyambut baik penyelenggaraan lomba ini. Ratusan remaja dari delapan kabupaten/kota di Bali sempat mendaftarkan diri sebagai peserta, namun panitia hanya menyediakan tempat bagi 40 pasang penari Oleg dan 16 penari Kebyar Terompong. Jumlah peserta kali ini lebih banyak jika dibandingkan dengan lomba serupa tahun lalu hanya diikuti 20 peserta. Kompetisi tari Bali yang berlangsung 25-27 Maret lalu di Gedung Mario Tabanan ini juga menjadi hiburan segar bagi masyarakat, selain tujuan utamanya sebagai ajang peningkatan kreativitas seni di daerah “lumbung beras” Bali itu. Generasi muda terlihat antusias mengikuti lomba tari Oleg yang menjadi wadah untuk membuktikan kemampuan dan penguasaan tari serta memperebutkan hadiah total senilai Rp 37 juta. “Tari Oleg itu lembut namun punya tingkat kesulitan tinggi, mendorong saya ingin menjadi penari Oleg terbaik di Bali,” tutur Wiwik (18), peserta dari Karangasem. Niat luhur dari Disbudpar dalam mempertahankan gaya tari rancangan Mario patut dihargai, ungkap I Gusti Agung Ngurah Supartha, salah seorang tim juri dalam lomba tersebut. Mantan Kepala Taman Budaya Denpasar itu melihat dalam perkembangan Tari Oleg dan Kebyar Terompong belakangan ini muncul semacam rasa waswas bahwa “Oleg asli ciptaan Mario” bisa punah “ditelan gelombang” tari baru yang tak tentu arah dan akar budayanya.

-Ragam Gerak

Tari Oleg Tamulilingan ini di awali dengan keluarnya penari wanita dengan gerakan ngegol perlahan sedangkan kedua tangan memegang selendang ke atas lalu memungkah lawang agem kanan, nyeledet, menganggukan kepala. Keluwesan penari wanita diperlihatkan dengan nyeleog perlahan-lahan lalu agem kiri. Kaki penari wanita harus bisa mempermainkan lancingan agar lacingan tidak melilit kaki.Gerakan duduk metimpuh di ikuti gerakan tangan dan seledet mata yang amat dinamis. Gerakan metimpuh ini diakhiri dengan gerakan badan nyeleog ke kanan nyeleog kiri, berdiri agem kanan. Mata nyeledet kanan, pecuk alis menganggukan kepala. Pindah agem kiri, pecuk alis menganggukan kepala. Berjalan ngegol, kaki ngenteb, lalu tangan nyilang di dada dengan ngegol perlahan. Berganti dengan tangan kanan dan tangan kiri memegang selendangke atas ngegol, gerakan ini diulangan tiga kali.

Selanjutnya gerakan duduk metimpuh,gerakan tangan ngejet, seledet kanan,seledet kiri. Diakhiri dengan gerakan tangan kiri ditaruh di lutut dan tangan kanan ditaruh di pinggang. Saat penari wanita duduk, masuklah wanita penari laki-laki. Tangan kiri memegang kancut, tangan kanan memegang atau memainkan kipas, kaki melangkah perlahan kanan dan kiri, agem kanan pecuk alis menganggukan kepala, nyeledet kanan elog-elog. Sementara penari wanita berdiri lalu ngehadap ke penari laki-laki (berhadap-hadapan). Dilakukan pertukaran tempatsebanyak dua kali.

Penari wanita ngegol sambil memegang selendang keatas, sedangkan penari laki-laki mengajar penari wanita. Gerakan-gerakan ini menirukan gerak-gerakan kumbang yang sedang memadu kasih. Ragam gerak tari Oleg Tamulilingan benar-benar dapat memperlihatkan kemesraan dari sepasang remaja yang sedang memadu kasih.

Tektekan Kediri-Nangluk Merana, demikian nama event tersebut akan berlangsung selama sebelas hari mulai dari tanggal 17 sampai dengan 27 Maret 2017 atau hari pengerupukan. Event tahunan ini akan dikemas dalam bentuk parade. Bahkan, pada tanggal 25 dan 26 Maret 2017, event akan digelar khusus di depan Pura Puseh Desa Pakraman Kediri. Sedangkan penutupannya akan berlangsung pada 27 Maret 2017 yang rutenya mencapai Bundaran Kediri.

Bendesa Adat Desa Pekraman Kediri Anak Agung Ngurah Gede Panji Wisnu menjelaskan selama sebelas hari itu, seluruh warga desa pekraman Kediri mulai dari anak-anak sampai dewasa akan berkeliling desa sambil memainkan bunyi-bunyian dari berbagai sumber. Mulai dari kulkul atau kentongan, sampai dengan okokan atau alat musik berbentuk klonongan sapi berukuran besar. Bahkan ada pula yang memodifikasi dengan lantunan bleganjur.

tradisi tektekan di wilayah desa Pekraman Kediri merupakan warisan turun temurun. Bahkan sampai saat ini tidak tercatat tentang sejarah kemunculannya. Namun konon, para tetua pernah menceritakan jika sebelumnya tradisi ini muncul bersamaan dari gerubug atau wabah yang terjadi di Kediri. saat itu warga banyak mengalami sakit, ada yang meninggal, dan hasil tani gagal karena diserang hama.

Karena merasa khawatir akan musibah yang terjadi saat itu, para tokoh masyarakat dan pemangku, sepakat untuk memohon petunjuk dengan melakukan persembahyangan di Pura Puseh yang ada di desa pekraman setempat. Saat itulah mereka mendapatkan petunjuk jika wabah tersebut bisa dihilangkan hanya dengan cara bunyi-bunyian. Dan atas petunjuk itulah, warga Kediri selama beberapa hari turun keliling desa dengan melakukan tektekan.

Hingga akhirnya terbukti segala wabah yang menyerang desa pekraman menghilang. Dan sejak saat itulah tradisi tektekan memiliki fungsi niskala untuk mengatasi nangkluk merana. Dan pelaksanaannya tidak bisa diprediksi karena tergantung ada atau tidaknya wabah di desa tersebut.

Namun seiring perkembangan jaman, atau tepatnya mulai tahun 2014 tradisi tektekan mulai berfungsi menjadi sebuah seni hiburan dalam bentuk seni tabuh. Bahkan desa setempat sepakat menggelar tradisi ini sebagai atraksi tahunan tepatnya saat umat Hindu akan merayakan hari raya Nyepi.

Selama pelaksanaan tradisi tektekan di desa pekraman Kediri, aparat desa setempat juga menghimbau agar pengguna jalan bisa mencari jalur alternatif lain. “Kami sudah melalukan koordinasi dengan pihak kepolisian khususnya tentang pengamanan dan pengalihan arus lalu lintas,” pungkasnya.

agusandika on Maret 22nd, 2018

PENDAHULUAN
Pada masa sekarang ini, wacana multikulturalisme menjadi isu penting dalam upaya pembangunan kebudayaan di Indonesia. Wajah persilangan budaya merupakan hal yang tak bisa terelakan bagi sebuah negara yang beradab. Indonesia menjadi indah karena wajah persilangan yang sudah ada menghias kebudayaan Indonesia itu sendiri. Tata cara hidup, kesenian, bahasa merupakan hal-hal yang sangat dekat perpaduan. Namun, yang paling nampak indah dalam perpaduan dua budaya atau lebih adalah pada seni. Seni rupa, seni lukis, seni ukir, seni tari, kesemuanya merupakan wajah abadi yang memamerkan adanya sebuah perpaduan yang indah.
Jika orang Bali pandai menari, menabuh gong, kendang, bermain seruling, kecak itu adalah hal yang biasa dijumpai. Sepertinya menjadi kaum muda Bali identik dengan pemuda berkesenian yang menjunjung kekhasan kekayaan budayanya. Tarian Bali yang memiliki koreo agak rumit dan taksu (jiwa) ini menjadi tantangan bagi orang bukan asli Bali untuk menarikannya dengan sempurna. Menari Bali, baik tarian lelaki maupun wanitanya, tidak cukup hanya dengan mengenakan busana dan tata rias serupa penari Bali. Ada hal yang lebih penting dalam menarikannya, yaitu jiwa atau orang Bali menyebutnya dengan taksu. namun, bukan tidak mungkin bagi mereka pemuda lain untuk menarikan tarian Bali dengan “rasa” Balinya.
Apabila sebuah tarian yang dikenal oleh seluruh orang Bali, tetapi penarinya bukan pemuda Bali asli, tetapi “rasa” Balinya sangat kentara. Ini adalah simbol sebuah silang budaya yang sukses. Tidak menghakimi, melainkan ikut menjaga keluhuran tari Bali sebagai warisan leluhur. Dua budaya yang bertatap secara tidak sengaja, menghasilkan gerakan indah dari sang penari yang indah pula.
Tari Baris di Bali banyak jenisnya. Tari ini merupakan perlambang seorang kesatria atau prajurit gagah perkasa yang siap bertempur di medan laga. Menari Baris dengan tata busana dan gerakan yang cukup menghebohkan membuat siapapun yang melihat memiliki gejolak, semangat, dan keberanian dalam dirinya. Salah satu jenis tari Baris yang dimiliki Bali berdasarkan atas persilangan budaya adalah Tari Baris Cina atau dikenal dengan Tari Baris Tionghoa, sebuah tarian yang berbeda dengan tari Baris biasa. Para penari yang menarikan tari Baris Cina ini telah piawai melebihi pemuda Bali. Penari Baris Cina ini telah memilih jiwanya untuk menarikan sebuah budaya, sebuah rangkulan di tengah perbedaan.
Lebih memesonanya lagi, tari ini dibawakan oleh sekelompok pemuda Tionghoa yang sudah lama menetap dan mencintai budaya Bali. Sungguh mengagumkan. Dalam buku Evolusi Tari Bali, pakar etnonusikologi dan pengamat tari Bali, Profesor I Made Bandem, memperkirakan tari Baris Cina tumbuh sekitar tahun 835 M, saat Prasasti Blanjong dituliskan. Rekam jejak kesenian Tionghoa di Bali juga dapat kita saksikan dalam beberapa peninggalan, seperti Gong Beri yang disucikan di Pura Baris Ratu Tuan, Renon. Ketika zaman berubah, kesenian warisan budaya kaum Tionghoa ini tetap bertahan sesuai dengan semangat perubahan masyarakat setempat.
Baris Cina merupakan salah satu tarian sakral yang lahir, tumbuh, dan dilestarikan di Denpasar, tepatnya di Kelurahan Renon. Tidak banyak yang mengenal Baris Cina secara utuh, ada yang tahu nama Baris Cina, namun menganggap tarian tersebut serupa dengan Tari Baris lain yang juga berkembang di Bali. Bagi mereka yang pernah melihat secara langsung, akan diliputi berbagai pertanyaan, bagaimana dan darimana asal-usul tarian yang jika dilihat tampilan luarnya sama sekali tidak menggambarkan tampilan sebuah tarian yang lahir di Bali pada umumnya.
Tari Baris Cina disakralkan oleh warga penyungsungnya di Kelurahan Renon, Denpasar. Sebagai tarian sakral, Baris Cina hanya dipentaskan di Pura Baris Cina itu sendiri. Membahas Baris Cina, maka sekaligus terkait dengan gamelan pengiringnya yaitu Gong Beri. Menurut masyarakat setempat, Gong Beri tersebut dibawa oleh para leluhur mereka ketika pindah dari Blanjong menuju kawasan Renon. Ketika itu Gong Beri hanya terdiri dari dua buah Gong yaitu Ber dan Bor. Kemudian ditambahkan beberapa jenis instrumen, seperti kendang, tawa-tawa, ceng-ceng dan sebagainya. Menurut Prof. Dr. I Wayan Rai S., MA, yang pernah meneliti Gong Beri dan Baris Cina, menemukan bahwa Gong Beri, Ber dan Bor, berasal dari daratan China. Dalam penelitiannya mengenai Gong, persamaan dari Gong Beri masih ditemukan di Thailand yang hingga kini digunakan dalam upacara perkawinan. Jarak yang begitu jauh antara dua atau beberapa negara, ternyata bertemu dalam lingkaran budaya yang menyatukannya. Begitu ditabuh, perangkat gamelan tersebut menimbulkan bunyi-bunyian yang membakar semangat. Persis seperti musik perang. Apalagi sebelum keseluruhan orkestra dimainkan, musik diawali dengan kumandang sungu (alat musik tiup dari kerang) yang terkesan seperti peperangan.
Tarian Baris Cina tercipta ketika Gong Beri telah ditambahkan berbagai instrument lain dan menjadi satu barungan. Diawali dengan adanya warga yang trance atau kerauhan dan berbicara bahasa China, maka dipilihlah nama Baris Cina sebagai nama tariannya. Bahasa yang diucapkan oleh penari saat trance semacam dialek dalam pementasan kesenian dari daerah Punan di China.
Tari Baris Cina terdiri atas dua kelompok penari yang semuanya laki-laki. Setiap kelompok terdiri atas sembilan penari, termasuk satu orang komandan. Di sinilah para penari mempertontonkan kegagahannya sebagai seorang penari kesatria. Satu kelompok mengenakan pakaian hitam yang disebut Baris Selem, sedangkan kelompok lainnya berpakaian putih yang disebut Baris Putih. Keduanya melambangkan rwa bhineda, hitam putih, yaitu dua kutub berseberangan yang selalu ada di alam semesta ini. Dalam terminologi Thionghoa, disebut dengan Yin-Yang.
Setiap pementasan Tari Baris Cina selalu diawali dengan upacara yang dipimpin oleh seorang pemangku setempat. Setelah upacara dilaksanakan, para penabuh Gong Beri mulai memainkan satu buah lagu dilanjutkan dengan penampilan penari dari kelompok Baris Selem. Sesi kedua, merupakan giliran kelompok Baris Putih mempertunjukkan kepiawaian mereka dalam memainkan jurus-jurus pedang mereka. Sesi terakhir, merupakan bagian di mana kedua kelompok penari berhadapan dan siap untuk bertarung. Pada sesi puncak inilah para penari akan mengalami trance yang biasanya berlanjut dengan menarikan keris dan mereka yang trance akan menusuk dirinya. Ajaibnya tidak satupun dari mereka yang terluka.
PENUTUP
Tari Baris Cina ini merupakan simbol pasukan kerajaan Bali yang sejak dulu dikawal oleh para prajurit yang tangguh dan gagah berani. Gerakan tarian ini lebih menyerupai gerakan pencak silat atau kung fu. Hampir tak ada jejak pepakem (gerak dasar) tari Bali dalam tarian itu. Busana yang dikenakan para penarinya pun unik. Mereka mengenakan setelan celana panjang dan baju berlengan panjang dan berselempang kain. Di pura tertentu, penarinya juga mengenakan kacamata hitam ala juragan Tionghoa. Sebagai penutup kepala, mereka mengenakan topi bundar, bukan udeng atau gelungan sebagaimana yang dikenakan oleh penari tarian maskulin Bali pada umumnya. Senjata yang dibawanya pun bukan keris, melainkan pedang. Sangat unik, bukan?
Seni itu tidak pernah salah. Penduduk asli Bali dan penduduk keturunan Tionghoa bisa menari bersama di Bali, bahkan di China. Perpaduan ini menimbulkan rasa tidak ingin meninggalkan, namun tetap memelihara peradaban ini sebagai cerminan Indonesia yang damai dan penuh kasih. Tarian Baris Cina ini mengajarkan pada kita semua, bahwa perbedaan itu indah. Menarilah terus saudaraku. Kabarkan pada dunia bahwa kita damai meski dalam perbedaan.
Daftar Pustaka: https://www.google.co.id/amp/s/panbelog.wordpress.com/2015/02/22/baris-cina-dan-gong-beri/amp/
Bandem, I Made. 2013. Gambelan Bali di Atas Panggung Sejarah. Denpasar : BP STIKOM BALI

YouTube Preview Image