Ogoh-Ogoh dan Hari Raya Nyepi

Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap), yang jatuh pada pinanggal pisan, Sasih Kedasa (tanggal 1, bulan ke-10). Hari Raya Nyepi sebenarnya perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Caka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun ditutup, namun tidak untuk rumah sakit. Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung (alam semesta/macrocosmos). Pada hari ini umat Hindu melaksanakan Catur Bratha Penyepian yang terdiri dari:

  1. Amati Geni (tidak berapi-api atau tidak menghidupkan listrik).
  2. Amati Karya (tidak bekerja).
  3. Amati Lelungan (tidak bepergian).
  4. Amati Lelanguan (tidak mendengarkan hiburan).

Serta bagi yang mampu, juga melaksanakan Tapa, Brata, Yoga, dan Semadhi. Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan pada kehidupan di tahun yang baru.

Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada Tilem Sasih Kesanga, umat Hindu melakukan upacara Bhuta Yadnya di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan, dan seterusnya dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Bhuta Yadnya itu masing-masing bernama Panca Sata (kecil), Panca Sanak (sedang) dan Tawur Agung (besar). Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Bhuta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya.

Mecaru diikuti oleh upacara Pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori rumah atau seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul kentongan hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Bhuta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Bali, Pengerupukan biasanya dimeriahkan dengan ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam perwujudan patung yang dimaksud, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan, biasanya dalam wujud raksasa. Dalam fungsi utamanya, Ogoh-ogoh sebagai representasi Bhuta Kala, dibuat menjelang hari Nyepi dan diarak beramai-ramai keliling desa yang diiringi dengan gambelan Balaganjur, pada sore hari dan kemudian dibakar. Tujuannya sama, yaitu untuk mengusir Bhuta Kala.

 

 

YouTube Preview Image

Tinggalkan Balasan