agusandika on April 23rd, 2018

Gong Kebyar adalah barungan gamelan Bali sebagai perkembangan terakhir dari Gong Gede, memakai laras pelog lima nada, yaitu : nding, ndong, ndeng, ndung, ndang. Yang awal mulanya tidak mempergunakan instrumen terompong. Selanjutnya Gong Kebyar dapat diartikan suatu barungan gamelan gong yang didalam permainannya sangat mengutamakan kekompakan suara, dinamika, melodi dan tempo. Ketrampilan mengolah melodi dengan berbagai variasi permainan dinamika yang dinamis dan permainan tempo yang diatur sedemikian rupa serta didukung oleh teknik permainan yang cukup tinggi sehingga dapat membedakan style  Gong Kebyar yang satu dengan yang lainnya. Dan kali ini kita akan membahas sejarah Gong Kebyar yang ada di br. Cekik ds. Berembeng kec. Selemadeg kab. Tabanan.

Banjar Cekik merupakan salah satu banjar yang ada di desa Berembeng kecamatan Selemadeg kabupaten Tabanan. Menurut bapak Nengah Mawen , sejarah gamelan di banjar Cekik ini pertama kalinya sekitar tahun 1943 dan kala itu kita masih belum merdeka dan dijajah. Awalnya di banjar Cekik hanya memiliki sekee joged dan gamelan joged. Dan pada tahun 1946 masyarakat di banjar Cekik berinisiatif untuk membeli gamelan Gong Kebyar. Namun, pada saat itu masyarakat hanya memiliki dana yang sangat minim. Banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat demi memiliki Gamelan Gong Kebyar yaitu, menghimpun diri untuk mengisi waktu luang dengan membuat sekha demen , khususnya yang senang menabuh gamelan. Untuk bisa membeli gamelan, kelompok itu menyisihkan upah yang di dapat dari penjualan padi. Sekitar tahun 1952 dana terkumpul, dan masyarakat Cekik membelinya dari pande di Tiingan Klungkung, nama pande nya adalah Pak Sweca. Dengan perangkat gamelan yang telah dimiliki di banjar Cekik, sekha mampu mewujudkan rasa bakti dengan konsep ngayah-ngayah di lingkungan Desa bahkan di luar Desa. Dan pada saat Hari raya galungan yang bertepatan dengan purnama ada upacara di kahyangan Dalem banjar Cekik, sekhe gong di banjar Cekik mengiringi Ratu Ayu mesolah, dan tradisi ini trus turun temurun hingga ke generasi saya.Informasi sejarah gamelan di banjar Cekik ini saya dapat dari bapak Nengah Mawen, dan penglingsir penglingsir lainnya di banjar Cekik yang saya wawancarai pada hari jumat, 17 nopember 2017.

Gong kebyar yang ada di br cekik ini memiliki fungsi yang sangat banyak. Sebagai penunjang jalan nya upacara agama yang ada di Tri Kahyangan untuk mengiringi tarian sakral maupun untuk menabuh lelambatan ,  dan juga di Pura-Pura ibu yang ada di br. Cekik. Bisa juga untuk mengiringi tari kekebyaran di setiap ada acara politik untuk menyambut tamu-tamu kehormatan.

 

 

agusandika on April 19th, 2018

KOMPOSISI GENDING PALEGONGAN

Pada umumnya orang Bali telah mengetahui atau telah mengenal apa yang dimaksud dengan istilah ”Legong”. Terkenalnya istilah legong ini kemungkinan besar disebabkan oleh pengaruh lingkungan atau langsung dapat menyaksikan pertunjukannya. Tetapi sebenarnya kata “Legong” ini berasal dari kata “leg” kemudian mendapat kata tambahan “Gong” sehingga menjadi “Legong”. Leg itu berarti lemes, lemuh dan Gong artinya Gambelan/music. Jadi “Legong” artinya suatu gerakan tari yang indah, lemes, halus dan diiringi oleh gambelan Gong.

Sesuai dengan bentuknya masing-masing, yang mengkhusus dari barungan gambelan di Bali, maka lagu atau gending dari setiap jenis gambelan mempunyai pula susunan komposisi tersendiri yang merupakan ciri khasnya. Demikian pula halnya lagu Palegongan mempunyai bentuk menyendiri dengan ciri-ciri khasnya seperti berikut:

  • Mempunyai permainan melodi yaitu pada gender rambat.
  • Mempunyai struktur kendang untuk bagian pengawak.
  • Mempunyai susunan komposisi gending yang memberi peluang untuk ada keseimbangan antara seni vocal.

Bilamana seni Palegongan tidak disertai dengan tandak akan terasa kurang mantap. Maka tandak juga merupakan sebagai ciri keasliannya. Macam-macam gending yang mengringi tari Legong adalah pelayon, Lasem, Jobog, Kuntir, Candrakanta, Kuntul, Guak macok, Legod bawa, Tangis, Kupu-Kupu Tarum, Semarandana, Gadung melati, Karang olang, Beramara, Raja cina. Dan lagu Palegongan ini diintikan menjadi tiga pokok antara lain: Pengawit, Pengecet, Pekaad. Setelah adanya inti tersebut kemudian kemudian dilengkapi dengan jenis-jenis melodi sebagai perbendeharaan susunan tari yang diiringinya. Misalnya pengalihan, pengawak, gabor, bapang, lelonggoran, pengipuk, batel, batelmaya, pengetog, pemalpal, dan tangis.

 

Contoh komposisi lagu pelayon :

  1. Pengalihan (gineman)
  2. Pengawit
  3. Pengawak
  4. Pengecet
  5. Bapang Longgor
  6. Pemalpal
  7. Pekaad

 

Tabuh pisan, tabuh dua, dan tabuh telu tidak hanya terdapat di dalam gending lelambatan, tetapi di dalam gending Palegongan juga terdapat. Tabuh pisan, tabuh dua, dan tabuh telu dalam gending lelambatan diukur dari jumlah kempur dalam satu gong. Sedangkan di gending Palegongan diukur jumlah banyak kemong dalam satu gong di dalam gending bagian Pengawak.  Jika terdapat satu kemong dalam satu gong disejajarkan dalam tabuh pisan, contohnya tabuh sisya dalam penyalonarangan. Jika terdapat dua gong dalam satu gong dapat disejajarkan dengan tabuh dua, contohnya gending Telek. Jika terdapat tiga kemong dalam satu gong dapat disejajarkan dengan tabuh telu, contohnya gending Legong Kuntul, Legong Lasem, dan Legong Kuntir. Jadi penamaan tabuh pisan, tabuh dua, dan tabuh telu hanya untuk konteks dalam pembelajaran saja. Palegongan hanya sebagai konsep dasar untuk mengiringi tari Legong. Sehingga mendapat imbuhan pa-an dalam indicator kata Legong sebagai penegas bahwa Palegongan adalah gending atau tabuh untuk mengiringi tari Legong.

agusandika on April 19th, 2018

Ogoh-Ogoh dan Hari Raya Nyepi

Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap), yang jatuh pada pinanggal pisan, Sasih Kedasa (tanggal 1, bulan ke-10). Hari Raya Nyepi sebenarnya perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Caka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun ditutup, namun tidak untuk rumah sakit. Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung (alam semesta/macrocosmos). Pada hari ini umat Hindu melaksanakan Catur Bratha Penyepian yang terdiri dari:

  1. Amati Geni (tidak berapi-api atau tidak menghidupkan listrik).
  2. Amati Karya (tidak bekerja).
  3. Amati Lelungan (tidak bepergian).
  4. Amati Lelanguan (tidak mendengarkan hiburan).

Serta bagi yang mampu, juga melaksanakan Tapa, Brata, Yoga, dan Semadhi. Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan pada kehidupan di tahun yang baru.

Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada Tilem Sasih Kesanga, umat Hindu melakukan upacara Bhuta Yadnya di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan, dan seterusnya dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Bhuta Yadnya itu masing-masing bernama Panca Sata (kecil), Panca Sanak (sedang) dan Tawur Agung (besar). Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Bhuta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya.

Mecaru diikuti oleh upacara Pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori rumah atau seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul kentongan hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Bhuta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Bali, Pengerupukan biasanya dimeriahkan dengan ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam perwujudan patung yang dimaksud, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan, biasanya dalam wujud raksasa. Dalam fungsi utamanya, Ogoh-ogoh sebagai representasi Bhuta Kala, dibuat menjelang hari Nyepi dan diarak beramai-ramai keliling desa yang diiringi dengan gambelan Balaganjur, pada sore hari dan kemudian dibakar. Tujuannya sama, yaitu untuk mengusir Bhuta Kala.

 

 

YouTube Preview Image
agusandika on April 5th, 2018

Pura Pancering jagat, merupakan salah satu pura yang terdapat di Desa Trunyan, Kabupaten Bangli.  Bila anda mengunjungi puran ini, akan terdapat sebuah patung dengan ukuran yang besar dan cukup tinggi yang bernama Bhatara Datonta atau Bhatara Ratu Pancering Jagat. Patung Bhatara Datonta ini merupakan salah satu peninggalan pada jaman batu besar. Patung ini menggambarkan ekspresi seorang bhatara dengan ekspresi yang sangat dashyat, tangan kirinya bergantung longgar pada sisi kiri tubuhnya, tangan kanannya tertekuk di atas bahu mengarah ke belakang, posisi membawa kapak alat vitalnya mencolok ke bawah, tetapi lembut. Tepat di bawah alat vital itu ada sebuah lubang yang menggambarkan alat kelamin wanita. Keduanya dianggap simbol vital kekuatan laki dan perempuan. Simbol ini diduga bentuk awal dari lingga dan yoni, kekuatan Dewa Siwa dan Dewi Uma dalam tradisi Hindu. Bhatara Ratu Pancering Jagat memiliki sebanyak 21 orang unen-unen dalam bentuk topeng yang dinamakan Barong Brutuk. Konon tarian sakral barong brutuk yang kita kenal saat ini berasal dari sejarah ini. Tarian barong brutuk merupakan tarian sakral yang biasa ditarikan ketika Hari Odalan di Pura Ratu Pancering Jagat. Tarian ini ditarikan oleh penari pria yang biasanya diambil dari anggota sekaa teruna.

Sebelum menarikan barong-barong sakral itu para taruna harus melewati proses sakralisasi selama 42 hari. Selama proses sakralisasi, para taruna itu dilarang berhubungan dengan para wanita di kampungnya. Kegiatan lain yang dilakukan semasa menjalani proses penyucian, yaitu mengumpulkan daun-daun pisang dari desa Pinggan yang digunakan sebagai busana tarian Brutuk. Daun-daun pisang itu dikeringkan dan kemudian dirajut dengan tali kupas (pohon pisang) dijadikan semacam rok yang akan digunakan oleh para penari Brutuk. Masing-masing penari menggunakan dua atau tiga rangkaian busana dari daun pisang itu, sebagian digantungkan di pinggang dan sebagian lagi pada bahu, di bawah leher. Bahkan yang tak kalah uniknya, penari yang akan menarikan tarian ini diharuskan untuk menggunakan dalaman (celana dalam) yang  dibuat dengan menggunakan tali pisang.

Para penari Brutuk yang menggunakan busana daun pisang kering itu, dan hiasan kepala dari janur seorang berfungsi melakoni peran  Raja Brutuk, seorang sebagai Sang Ratu, seorang sebagai Patih, seorang sebagai kakak Sang Ratu, dan selebihnya menjadi anggota biasa. Tarian Brutuk ini menggambarkan konsep dikotomi dalam kehidupan masyarakat Trunyan, yaitu dua golongan masyarakat, laki-laki dan perempuan.

Upacara Brutuk dimulai dengan penampilan para unen-unen tingkat anggota. Mereka mengelilingi tembok pura masing-masing tiga kali sambil melambaikan cemeti kepada penonton, peserta upacara. Cemetinya membuat bunyi melengking dan membangkitkan rasa takut penonton. Mereka takut disambar dan kena cemeti Sang Brutuk. Ketika Sang Raja, Ratu dan Patih, dan kakak Sang Ratu tampil dalam pementasan, seorang pemangku berpakaian putih mendekati keempat penari itu dan langsung menyajikan sesajen, seperangkat sesaji penyambutan dan diiringi doa-doa keselamatan bagi masyarakat Trunyan. Keempat ningrat Brutuk itu juga mengelilingi pura sebanyak tiga kali, melambaikan cemeti mereka dan kemudian bergabung dengan para Brutuk yang lain. Penonton, peserta upacara mulai mendekati para penari Brutuk itu, mengambil daun-daun pisang yang lepas, digunakan sebagai sarana kesuburan. Para menonton yang berhasil memperoleh daun-daun pisang busana Brutuk itu, akan menyimpannya di rumah dan kemudian baru disebar di area persawahan ketika mulai menanam padi. Mereka mengharapkan keberhasilan panen. Disitu drama mencapai klimaksnya, ayunan cemeti diperkeras, memecuti para penonton yang “mencuri” bagian dari busananya.  Ritual tarian ini berlangsung satu hari penuh. Dimana pada tahapan terakhir diadakan pertunjukan ritual yang   dipimpin oleh pemangku dengan beberapa sesajen. Setelah  diberikan sesajen para penari brutuk kembali menari dengan gerakan –gerakan kuno nya seperti menari dengan meniru tingkak laku ayam hutan liar dan lain-lain.

Sumber : www.balipost.co.id

YouTube Preview Image
agusandika on April 3rd, 2018

Tari ini mengisahkan rangkaian peristiwa yang terjadi pada zaman pemerintahan Prabu Erlangga di Kahuripan (Jawa Timur) pada abad IX. Ia menceritakan perbuatan si janda sakti dan guru ilmu hitam dari Dirah bernama Calonarang yang menyerang kerajaan Daha yang menyebakan jatuhnya banyak korban jiwa manusia tak berdosa. Untuk menghentikan perbuatan janda berputrikan Ratna Mangali ini, Prabu Erlangga minta bantuan kepada seorang brahmana dari Lemah Tulis bernama Empu Bharadah, yang dengan kekuatan ilmu putihnya berhasil mengalahkan Calonarang. Adapun bagian-bagian cerita Calonarang yang lazim dipentaskan adalah: Katundung Ratna Mangali, Iyeg Rarung, Kautus Empu Bahula, dan Pangesengan Baingin. Masyarakat Bali juga memasukkan cerita Balian Batur, Basur, Sudarsana, Patih Prabangsa, dan Dayu Datu, yang sedikit banyak menyangkut ilmu hitam, sebagai lakon Pa-calonarang-an. Sendratari Calonarang adalah salah satu kesenian Bali yang termasuk dalam katagori kesenian untuk kepentingan ritual yang sakral (wali) tentu saja tidak setiap saat dipentaskan, biasanya pada saat-saat tertentu saja sebagai sarana untuk “melukat” (membersihkan desa).

Dramatari ritual magis yang melakonkan kisah-kisah yang berkaitan dengan ilmu sihir, ilmu hitam maupun ilmu putih, dikenal dengan Pangiwa/Pangleyakan dan Panengen. Lakon-lakon yang ditampilkan pada umumnya berakar dari cerita Calonarang, sebuah cerita semi sejarah dari zaman pemerintahan raja Airlangga di Kahuripan (Jawa timur) pada abad ke IX. Karena pada beberapa bagian dari pertunjukannya menampilkan adegan adu kekuatan dan kekebalan (memperagakan adegan kematian bangke-bangkean, menusuk rangda dengan senjata tajam secara bebas) maka Calonarang sering dianggap sebagai pertunjukan adu kesaktian (batin). Dramatari ini pada intinya merupakan perpaduan dari tiga unsur penting, yakni Babarongan diwakili oleh Barong Ket, Rangda dan Celuluk, Unsur Pagambuhan diwakili oleh Condong, Putri, Patih Manis (Panji) dan Patih Keras (Pandung) dan Palegongan diwakili oleh Sisiya-sisiya (murid-murid). Tokoh penting lainnya dari dramatari ini adalah Matah Gede dan Bondres.

Dramatari Calonarang, yang hingga kini masih tetap digemari oleh masyarakat Bali, kini telah berkembang menjadi tiga varian: Calonarang Klasik, Calonarang Prembon, dan Calonarang Anyar. Ketiganya masih tetap menampilkan lakon-lakon yang berkaitan dengan masalah ilmu hitam (pangeliyakan), masing-masing varian menyajikan lakon Calonarang menggunakan berbagai elemen-elemen seni, dengan struktur pertunjukan serta fokus estetik yang berbeda-beda.

Calonarang Klasik, yang diperkirakan muncul sekitar akhir abad XIX di daerah Gianyar Barat (Batubulan, Singapadu, Sukawati), dibentuk oleh unsur-unsur Bebarongan, Pegambuhan, dan Palegongan (tiga jenis seni pertunjukan klasik yang berkembang baik di Kabupaten Gianyar). Unsur Babarongan diwakili oleh barong ket, rangda, dan celuluk; Pegambuhan oleh condong, putri, patih manis (Panji) dan patih keras (Pandung); dan Palegongan oleh sisia-sisia. Peran-peran penting lainnya yang lahir dari dramatari ini sendiri adalah matah gede (wanita tua) dan bondres (orang-orang desa yang berwatak lucu). Pertunjukan Calonarang bisa diiringi dengan Gamelan Semar Pagulingan, Bebarongan, maupun Gong Kebyar. Sebagai pengiring pertunjukan Calonarang ini digunakan gamelan (Semarandana), yang ditambah dengan keyboard, gitar, dan jembe. Di sela-sela pertunjukan terdengar sound effect yang dimainkan dengan keyboard.

Setelah mengetahui tentang tari Calonarang diharapkan kita semua khususnya generasi muda senantiasa melestarikan tari Calonarang agar tidak tenggelam. Sebagai generasi muda kita harus lebih mengenal tentang seni dan kebudayaan, baik seni tradisional maupun seni modern. Karena pada saat ini kita sebagai generasi muda dituntut ikut serta aktif dalam perkembangan dunia yang semakin pesat. Untuk itu kita sebagai generasi muda harus tetap menjaga keaslian dari seni dan budaya itu sendiri.