KOMPOSISI TABUH KREASI

KOMPOSISI TABUH KREASI

 

Nama Penggarap: I Wayan Tedi Wirawan

 Dalam komposisi tabuh kreasi ini, Penggarap mengambil ide dari sebuah fenomena pohon mangga yang berada di desa saya sendiri yaitu desa adat Peladung, Kelurahan Padang Kerta Karangasem. Pada umumnya Pohon mangga merupakan pohon yang memiliki tumbuhan tingkat tinggi yang struktur batangnya (habitus) termasuk kelompok arboreus, yaitu tumbuhan berkayu yang mempunyai tinggi batang lebih dari 5 m. Tetapi pohon mangga di desa saya sangat berbeda dari pohon biasanya yaitu pohonnya mencapai ketinggian 60 sampai 90 meter dan juga buahnya yang lonjong memanjang kurang lebih ukurannya 20 cm. masyarakat di desa (tempat tinggal Penggarap) pada zaman dahulu sering beristirahat di bawah pohon mangga tersebut ketika selesai melakukan kegiatan sehari-hari dan buahnya sering di makan untuk kebutuhan perut lapar dan pelepas dahaga ketika panas. Setelah Penggarap wawancara dengan para tokoh penglingsir di desanya, bahwa pohon mangga yang tinggi itu menjadi insfirasi lahir nama dari desa, yaitu desa Poh Landung, dan di dalam buku sejarah berdirinya desa ini di tulis bahwa memang Pohon Mangga tinggi tersebut yang menjadi nama desa tersebut. Tetapi seiring perkembangan zaman nama Poh Landung itu di rubah sekitar tahun 1990 dan menjadi nama desa peladung dan nama desa peladung adalah penyempurnaan dari kata poh Landung.

Komposisi Tabuh kreasi ini merupakan konsep dari pohon mangga, peñata ingin mencoba mengangkat ide pohon mangga ini dengan mengolah melodi yang panjang, dimana pohon mangga ini merupakan pohon yang tinggi. Dalam hal ini peñata mencoba menuangkan ke dalam media ungkap gong kebyar. Penggambaran bentuk komposisi kreasi ini akan menggunakan rangkaian ritme, dinamika, tempo, irama dan melodi untuk menggambarkan phon mangga tersebut.

Bentuk Karya.

Pada bentuk karya tabuh kreasi ini akan memakai konsep Tri Angga yang artinya 3 konsep pokok untama dalam komposisi tabuh kreasi di Bali. Pada bagian pertama kawitan, pengawak, pengecet. Dalam karya komposisi saya ini akan memakai konsep sebuah penomena pohon mangga yang tinggi dan yang menjadi infirasi dari nama desa adat Peladung.

  • Pada bagian pertama atau kawitan Penggarap mengungkapkan karakter dari batang pohon tersebut, dimana pada bagian batang yaitu padat, keras dan besar.
  • Pada bagian pengawak saya akan mengungkapkan dengan melodi yang mengambil karakter dari atang tersebut kemudian pada otekannya akan mengambil karakter bentuk pohon yang dari bawah ke atas.
  • Pada bagian pengecet Penggarap mengungkapkan karakter dari daun pohon mangga dimana yang kita ketahui jumlah daun di setiap cabag dari pohon erseut berbeda-beda.

Pola garap komposisi ini mengacu pada bagian kawitan, pengwak, pengecet. Yang akan disatukan dalam kesatuan yang utuh dalam bentuk tabuh kreasi dan sebagai hasil tranformasi dari pohon mangga.

Perkembangan Balaganjur

Pengertian.

 

BALEGANJUR salah satu jenis aliran gambelan di Bali. Baleganjur biasanya diterapkan pada upacara keagamaan dan adat agama hindu di Bali. Baleganjur memiliki ciri khas pada penggunaan “ceng-ceng”, Istilah Baleganjur berasal dari kata Bala dan Ganjur. Bala berarti pasukan atau barisan, Ganjur berarti berjalan. Jadi Balaganjur yang kemudian menjadi Baleganjur yaitu suatu pasukan atau barisan yang sedang berjalan,yang kini pengertiannya lebih berhubungan dengan sebuah barungan gamelan.

 

Sejarah Baleganjur.

 

Gamelan Baleganjur pada awalnya difungsikan sebagai pengiring upacara ngaben atau pawai adat dan agama.Tapi dalam perkembangannya ,sekarang peranan gamelan ini makin melebar. Kini gamelan baleganjur dipakai untuk mengiringi pawai kesenian,ikut dalam iringan pawai olah raga,mengiringi lomba laying-layang,dan ada juga yang dilombakan.

Baleganjur adalah sebuah ensamble yang merupakan perkembangan dari gamelan bonang atau bebonangan. Baik dari segi instrumentasinya maupun komposisi lagu-lagunya.

Bonang atau bebonangan adalah sebuah barungan yang terdiri dari berbagai instrument pukul(percussive) yang memakai pencon seperti reong,trompong kajar ,kempli, kempur, dan gong. Gamelan bonang memakai dua buah kendang yang dimainkan memakai panggul cedugan. Dalam lontar Prakempa disebutkan bahwa gamelan bonang dipakai untuk mengiringi upacara ngaben. Sama kasusnya dengan gamelan baleganjur yang pada umumnya dipakai untuk mengiringi upacara ngaben.

 

Instrumen Baleganjur.

 

Instrumen dalam Baleganjur terdiri dari :

1 buah kendang lanang

1 buah kendang wadon

4 buah reong dengan nada (Dong,Deng,Dung,Dang)

2 Ponggang dengan nada (Dung,Dang)

8-10 buah cengceng

1 buah kajar

1 buah kempli

1 buah kempur

1 pasang gong(lanang’wadon)

1 buah bende

 

Pengelompokan.

 

Baleganjur dalam pelaksanaannya dibagi menjadi 2 jenis gending (alunan lagu) sesuai dengan fungsinya secara umum.

  1. Baleganjur Upacara.

Merupakan baleganjur yang digunakan dalam upacara adat agama hindu. Baleganjur ini memiliki gending dan tempo yang cenderung datar, karena bersifat “nuntun yadnya” sebagai pelengkap dari suatu yadnya.

  1. Baleganjur kreasi.

Merupakan baleganjur yang digunakan untuk menghibur atau “balih-balihan” yang biasa sebagai ajang menunjukan kemampuan dan tehnik tinggi dari penabuh (pemusik). Gendingnya pun lebih rumit dan memiliki tehnik tinggi.

 

Daftar pustaka

http://ademassurianta.blogspot.co.id/2015/10/baleganjur-dan-penjelasannyadicekgan.html

UPAYA PELESTARIAN UPAYA PELESTARIAN GAMELAN SELONDING

UPAYA PELESTARIAN UPAYA PELESTARIAN GAMELAN SELONDING

 

  • ABSTRAK.

Gamelan Selonding merupakan alat musik tradisional dan merupakan salah satu warisan seni kearifan local. Usianya sangat tua dan pada umumnya dipakai sebagai pengiring kegiatan upacara keagamaan. Tidak semua desa yang ada di Bali memiliki gamelan ini. Perlu diupayakan pelestariannya dengan pemikiran dan terobosan agar Gamelan Selonding dapat juga dipakai sebagai Tabuh Kreasi, dengan catatan tidak menggunakan tabuh-tabuh pengiring kegiatan keagamaan yang sudah ada.

 

Kata kunci: Gamelan Selonding, Pelestarian, dan Terobosan.

 

Gamelan Selonding merupakan salah satu bagian dari gamelan Bali dan merupakan seni musik tradisonal yang diperkirakan hidup sejak zaman Bali Kuno. Gamelan Selonding merupakan salah satu warisan seni kearifan lokal (local genius) dari leluhur. Usianya lebih tua dari gamelan-gamelan yang kini populer dipakai kesenian maupun dalam upacara Adat dan Agama. Hal ini mungkin disebabkan oleh lahir, tumbuh, hidup dan berkembangnya Gamelan Selonding di pusat-pusat keagamaan pada zaman Bali Kuna.

Generasi muda sekarang banyak yang tidak tahu Gamelan Selonding, malah mereka bingung melihat alat musik tersebut. Hal ini dapat dimaklumi dipahami karena alat musik tradisional ini tidak dimiliki oleh semua desa yang ada di Bali. Terlebih di zaman moderen yang ditandai dengan kehidupan ingin serba praktis, instan, dan gengsi banyak generasi muda yang enggan untuk belajar menabuhkan Gamelan Selonding ini dan tidak mau repot untuk mempelajarinya. Mereka lebih memilih memainkan hand phone, lebih tertarik menggebrak drum dan memetik dawai gitar yang lagi popular dan ngetop.

Berdasarkan latar belakang inilah maka sangat penting Gamelan Selonding untuk dilestarikan.

 

  • Jenis Gamelan Bali.

Sebelum membahas Gamelan Selonding, sekilas sangat penting diketahui tentang jenis Gamelan (alat karawitan instrument) Bali. Di Bali cukup banyak terdapat jenis gamelan, yang tiap kelompoknya memiliki kekhususan masing-masing. Bapak Nyoman Rembang dalam prasarannya yang disampaikan pada seminar Gambuh-Bali (tahun 1973) di Denpasar mengemukakan bahwa dugaan sementara perkembangan Gamelan itu dikelompokkan ke dalam 3 kelompok:

Kelompok I : disini dimaksudkan barungan gamelan yang diperkirakan sudah berkembang dengan baik sebelum abad ke-X Masehi, yang meliputi :

  • Barungan Gambang.
  • Barungan Saron.
  • Barungan Gelunggang (Selonding bahan kayu).
  • Barungan Selonding-Besi.
  • Barungan Gong-Beri.
  • Barugan Gong-luwang.
  • Barungan Genggong.
  • Barungan Gender-Wayang.
  • Barungan Angklung Klentangan.

 

Dalam hubungan ini fungsi gamelan dari klompok I diutamakan pemakaiannya, tetapi Gamelan kelompok II atau III juga dapat dipakai sebagai sarana kebaktian umatnya untuk membawakan suasana kidmat, megah, kesucian, cemerlang dan keagungan perayaan upacara persembahyangan itu sendiri.

Jika kemeriahan perayaan dikaitkan dengan tarian, maka tari-tarian Sakral (suci) seperti Baris, Rejang, Pendet, Pesraman-Sesutrian adalah merupakan tari-tarian yang disuguhkan dalam rangkaian upacara dan ini tentu diiringi dengan musik, disini tugas rangkap Gamelan sebagai karawitan berdiri sendiri dengan iringan-tari.

Disinilah arti fungsi Gamelan dalam hubungan pelaksanaan Agama di Bali mengambil bagian yang menonjol.

Dalam hubungan Adat (krama-desa) di Bali alat gamelan ini banyak dipakai tatkala mengiringi mayat ke kuburan, upacara potong gigi, perkawinan, kelahiran bayi, sesuai dengan tempat setempat menurut adat yang berlaku.

 

  • Barungan Gamelan Selonding (Tenganan).

Alat-alatnya:

  1. Sepasang gong masing-masing 4 bilah.
  2. Sepasang kempul masing-masing 4 bilah.
  3. Satu tungguh pe-enem memakai 4 bilah.
  4. Satu tungguh petuduh memakai 4 bilah.
  5. Satu tungguh nyong-nyong alit memakai 8 bilah.
  6. Satu tungguh nyong-nyong ageng memakai 8 bilah.

Gending-gendingnya:

Jenis gending geguron.

  1. Ranggatating.
  2. Kulkul badung.
  3. Darimpog.
  4. Kebegerit.
  5. Dewa / Dananjaya.
  6. Blegude (untuk menutup upacara).
  7. Ranggawuni (untuk iringan penyimpenan Bhatara bagus selonding)

 

Jenis gending petegak:

  1. Nyanjangan (untuk perjalanan).
  2. Rejanggucek (mula-mula untuk tarian).
  3. Rejang-ileh.

 

Jenis gending untuk tari:

  1. Gending rejang untuk rejang.
  2. Rejang dauh tukad.
  3. Duren-duren ijo.
  4. Lente.
  5. Embung kelor.
  6. Kare-kare (untuk tari perang pandan).

 

Jenis gending berasal dari gambang:

  1. Pamungkah.
  2. Selambur.
  3. Kesumba.
  4. Pangrus.
  5. Puh raras tanjung.
  6. Puh oragkanal.
  7. Wargasari.
  8. Cupak.
  9. Megatkung.
  10. Sadiwiji.
  11. Puh kebodungkul.
  12. Puja darma.
  13. Puja parwata.
  14. Puja samara.
  15. Sudamala.
  16. Sida puja.
  17. Srinandi.
  18. Puh sondong.
  19. Puh mayura.
  20. Puh basung.
  21. Puh manukaba.
  22. Nyaagang
  23. Ramawangi.
  24. Rangga calon.
  25. Sih tan pegat.
  26. Bangkungarig.
  27. Puh prananyarang.
  28. Puh jagir.
  29. Wasi.

 

  • Fungsi Gamelan Selonding.

Jika diperhatikan secara umum, fungsi Gamelan Selonding adalah  sebagai wujud persembahan kepada Sang Pencipta, juga berfungsi sebagai hiburan yang dipersembahkan kepada Sang Raja atau masyarakat penggemar pendukung. Fungsi yang lebih sekuler ini wajar bila menerima imbalan jasa atau upah.

Demikian pula jika ditinjau dari segi kelompok, Gamelan Selonding termasuk salah satu Gamelan yang termasuk kelompok I. Itu berarti bahwa Gamelan Selonding sebagai gamelan pengiring kegiatan keagamaan.

Tetapi apabila Gamelan Selonding hanya berfungsi sebagai wujud persembahan kepada Sang Pencipta dan sebagai hiburan yang dipersembahkan kepada Sang Raja atau masyarakat penggemar pendukung semata, sudah pasti peminat terhadap Gamelan Selonding termasuk gending-gendingnya akan terjadi degradasi. Dengan demikian perlu adanya upaya pelestarian agar keberadaannya tidak punah.

 

  • Upaya Pelestarian Gamelan Slonding.

Konsepsi pelestarian Gamelan Selonding, diupayakan perlindungan dari kemusnahan dengan cara konservasi, dan restorasi pada wujud fisiknya dan penghayatan serta penerusan bagi yang berwujud astrak.

Upaya yang perlu dilakukan adalah:

1). Bagaimana supaya jangan terkesan Gamelan Selonding hanya untuk kegiatan upacara.

2). Perlu ada pemikiran dan terobosan baru agar Gamelan Selonding dapat juga dipakai sebagai Tabuh Kreasi, dengan catatan tidak menggunakan tabuh-tabuh pengiring kegiatan keagamaan yang sudah ada.

 

  1. Simpulan.

Gamelan Selonding adalah gamelan yang sudah tua usianya, dan pada umumnya masih digunakan sebagai pengiring kegiatan keagamaan. Agar tetap lestari perlu pemikiran dan terobosan baru sebagai Tabuh Kreasi dengan tidak menggunakan tabuh-tabuh pengiring kegiatan keagamaan yang sudah ada.

 

Daftar Pustaka.

Madra Aryasa, I WM., 1976 / 1977. Perkembangan Seni Karawitan Bali.Proyek Sasana Budaya Bali, Denpasar.

Tusan, Pande Wayan, 2002, Selonding: Tinjauan Gamelan Bali Kuna Abad X – XIV. Citra Lekha Sanggraha, Karangasem.

CAKEPUNG

CAKEPUNG

 

 

Latar Belakang.

Kebudayaan  ialah  salah satu aspek yang terpenting dalam kehidupan manusia. Salah satu unsur kebudayaan yaitu Kesenian. Kesenian pada masyarakat Jawa, Kalimantan, Sumatera, Bali, dan Nusa Tenggara merupakan satu kompleks unsur yang tampak amat digemari oleh warga masyarakatnya, sehingga tampak seolah-olah mendominasi seluruh kehidupan masyarakatnya.

Bali adalah salah satu suku bangsa yang terdapat di Indonesia. Suku bangsa bali memiliki potensi alam dan kebudayaan yang sangat tinggi,sehingga Bali tidak hanya dikenal di dalam negeri saja,melainkan sampai ke luar negeri Bahkan orang-orang awam dari luar negeri mengira bahwa Indonesia terletak di pulau Bali. Salah satu kebudayaan yang kaya yaitu adalah seni tarinya, contohnya seni tari cakepung  yang merupakan tari tradisional adalah tari yang telah melampaui perjalanan perkembangan cukup lama,dan senantiasa berfikir pada pola-pola yang mentradisi.

 

 

 

PEMBAHASAN.

 

Pengertian Tari Cakepung.

Cakepung adalah sebuah teater bertutur daerah Bali dan Lombok yang dilakukan oleh sejumlah pelaku pria yang bermain rebab, suling sambil bernyanyi dan mendendangkan ritme-ritme gamelan yang rumit.

Di dalamnya terkandung nilai – nilai sosial yakni hiburan, informatif dan pendidikan. Termasuk unsur seni yang cukup lengkap karena memiliki aspek – aspek seni tari , dialog, sastra dan  musik. Pemainnya dari kalangan tua – muda 10 – 15 orang. Duduk bersila melingkar atau membentuk huruf  U, kostum yang dikenakannya belum ada pedoman yang pasti, tergantungsekeha (perkumpulan) itu sendiri, mengingat di Karangasem ada beberapa sekeha. Ada yang mengenakan baju atau sebaliknya, tetapi tetap mengenakan kain dan destar serta hiasan lainnya.

Irama lagu cakepung pada mulanya seua terdiri atas tiruan bunyi alat – alat gamelan tradisional yang disuarakan melalui mulut para pemainnya seperti: kendang, ricik, petuk, dan gong. Dan bahkan disertai dengan meminum minuman tuak untuk lebih memanaskan suasana permainan. Mengingat seni ini harus dimainkan penuh semangat seperti tari cak. Kelahiran seni ini spontanitas dari pendukung/penciptanya pada suasana bersenang–senang sambil minum tuak.

Selanjutnya perkembangan cakepung di Karangasem telah diberikan ilustrasi dengan iringan irama musik di tradisional lainnya seperti seruling dan rebab. Bahkan sekeha cakepung Galang Kangin bermarkas di Batanhaa,Amlapura. Mengemasnya lagi dengan iringan seperangkat musik penting (baca ”penting” seni Musik Langka di Bali). Sedangkan adanya tempat minuman tuak berupa waluh dan cekel pada pertunjukkan cakepung dihadapan penonton hanya lah simbol saja dari suasana suka ria seperti pada embrionya. Kurang etis kalau pertunjukkan itu disertai minum – minuman tuak yang mengakibatkan mabuk.

Umumnya sekeha – sekeha cakepung di Karangasem, pertunjukkannya dimulai dari memperdengarkan suara seruling sebagai pengambil nada awal, yang kemudian diikuti oleh juru tembang melagukan tembang pendahuluan dari lontar yang dibaca. Pada akhir tembang semua pemain mengikuti suku–suku terakhir dari tembang tersebut yang disebut nyokong. Setelah diadakan pembacaan satu bait dari pupuh tersebut , mulailah diperagakan cakepung. Lontar yang dibaca tersebut, salah seorang diantaranya sebagai penerjemah ke dalam bahasa Bali populer. Terjemahan tersebut perlu dilakukan, karena lontar itu berbahasa Sasak, dengan ceritera yang diambil dari lontar monyeh (ceritera panji), disamping itu pula konsumsi penonton lebih banyak masyarakat Bali.

 

Sejarah Tari Cakepung.

Tentang istilah nama kesenian ini selain cakepung banyak yang memberikan nama lain, seperti cakepung/cepung. Cakepung berasal dari kata cakep dan pung. Cakep atau cakup artinya bersatu. Yang dimaksud adalah keharmonisan dalam tabuh dan irama. Sedangkan pung berarti tiruan dari suara gong. Cakepung,nama ini diduga dari suara yang dominan yaitu cek dan pung. Sedangkan cepung berasal dari kata encep dan pung. Encep berarti perpaduan dari pada tabuh, irama, dan tari yang harmonis dan rapi. Serta pung berarti tiruan suara gong. Jadi cepung artinya, irama, tabuh, dan tari yang berakhir dengan rapi (Naskah Sarasehan Karya Wiata Budaya Kowilhan II).

Mengenai sejarah kesenian ini, menurut beberapa kalangan seni masyarakat di Karangasem seperti Gusti Bagus Jaya (42), seniman lontar yang juga pemain cakepung mengatakan cakepung di ciptakan di lombok oleh orang – orang Bali. Kemudian disebarkan ke Bali. Hal itu, disamping di dasari oleh lontar monyeh yang dibaca dalam pertunjukan cakepung, juga menyeberangnya Kerajaan Karangasem ke Lombok pada abad ke – 17. menurut Nengah Rangki, seniman asal Lombok cekepung Karangasem dan Lombok tidak Jauh berbeda. Hal itu, ia dapat dilihat sewaktu pernah tampil sama – sama di TMII Jakarta th. 1980. waktu itu cakepung Karangasem yang tampil diwakili Wayan Darmi dan kawan-kawan.

Kini sekaa cakepung di Karangasem terus dikembangkan, dan sering tampil pada pesta Kesenian Bali seperti sekeha di Budakeling. Bahkan salah satu sekeha yang ada di Amlapura yaitu Galang Kangin, yang bermarkas di Batanhaa, pimpinan Gusti Bagus Jaya, dijadikan konsumsi tetap untuk wisatawan mancanegara di Candidasa dan Puri Karangasem (bekas Istana Raja Karangasem). Demikian pula beberapa tahun lalu, pernah pejabat Pemda TK. II Karangasem ikut terjun langsung sebagai artis cakepung

Nilai-Nilai Budaya Bali Dalam Pertunjukan Tari Cakepung.

Seni pertunjukan tari cakepung walaupun dilakukan oleh sejumlah pemain laki-laki, tetapi penontonya berkenan hadir dari semua jenis dan semua umur. Tujuan pertunjukan cakepung selain berfungsi sebagai tari pergaulan, juga merupakan syukuran atas keberhasilan anggota masyarakat dalam bidang pertanian dan puji penghargaan terhadap para leluhur. Pertunjukan cakepung baik mengenai proses maupun jenis-jenis pupuh atau lagu yang dipergunakan sebagai inti sarinya adalah mengandung butir-butir nilai budaya antara lain seperti nilai kesusilaan, seni dan keindahan, sosial, keagamaan, ekonomi dan nilai pendidikan.

 

 

 

PENUTUP.

 

  1. Kesimpulan.

Cakepung adalah sebuah teater bertutur daerah Bali dan Lombok yang dilakukan oleh sejumlah pelaku pria yang bermain rebab, suling sambil bernyanyi dan mendendangkan ritme-ritme gamelan yang rumit.

Mengenai sejarah kesenian ini, menurut beberapa kalangan seni masyarakat di Karangasem seperti Gusti Bagus Jaya (42), seniman lontar yang juga pemain cakepung mengatakan cakepung di ciptakan di lombok oleh orang – orang Bali. Kemudian disebarkan ke Bali. Hal itu, disamping di dasari oleh lontar monyeh yang dibaca dalam pertunjukan cakepung, juga menyeberangnya Kerajaan Karangasem ke Lombok pada abad ke – 17.

Pertunjukan cakepung baik mengenai proses maupun jenis-jenis pupuh atau lagu yang dipergunakan sebagai inti sarinya adalah mengandung butir-butir nilai budaya antara lain seperti nilai kesusilaan, seni dan keindahan, sosial, keagamaan, ekonomi dan nilai pendidikan.

  1. Saran.

Dengan mengenal lebih banyak Tarian adat di seluruh provinsi di Indonesia mudah-mudahan membuat kita lebih mencintai negeri kita ini.

Semoga seluruh masyarakat Indonesia dapat terus menjaga dan melestarikan seni tari serta menemukan cara-cara terbaru untuk mengatasinya agar tarian suatu daerah di Indonesia dapat terjaga sampai generasi selanjutnya.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA.

 

 

Tembi News.2009.Cakêpung. Ansambel Vokal Bali.Tersedia pada

http://arsip.tembi.net/bale-dokumentasi-resensi-buku/cakepung-ansambel-vokal-bali.Diakses pada tanggal 7 Nopember 2017.

 

 

Komang Pasek Antara.2014. KESENIAN CAKEPUNG DI CIPTAKAN DI LOMBOK.Tersedia pada

http://komangpasekantara.blogspot.co.id/2014/02/kesenian-cakepung-di-ciptakan-di-lombok.html.Diakses pada tanggal 7 Nopember 2017.

 

I MADE BANDEM, FREDRIK UEGENE deBOER.2004 .Kaja dan Kelod Tarian Bali dalam Transisi

Iringan Tari

Iringan Tari

 

PENDAHULUAN.

1.1 Latar Belakang.

Bali merupakan daerah yang terkenal dengan beragam kebudayaan yang dimana masyarakat Bali masih melestarikan kebudayaannya. Kebudayaan yang saya bahas pada paper ini yaitu tentang kebudayaan tentang iringan Tari dan kesenian gamelan Bali. Tarian Bali pada saat ini memiliki perkembangan yang sangat pesat di Bali hampir di setiap plosok-plosok daerah terpencil Bali sudah memiliki suatu maskot tentang daerah Mereka masing-masing guna untuk melestarikan kesenian Tari tersebut. Pada kesempatan ini saya menciptakan suatu musik iringan Tari Kreasi yang memakai gamelan Bali untuk musiknya. Pada kesempatan  Pada umumnya Gamelan Bali di golongkan menjadi tiga bagian yaitu: Golongan Tua, Golongan Madya, Golongan Baru, dimana galeman gong kebyar merupakan gamelan golongan baru, Gong Kebyar merupakan perkembangan dari Gong Gede yang pertama ada di daerah Bali Utara yaitu Kabupaten Buleleng tepatnya di Jagaraga pada Tahun 1914.  Pada kesempatan ini saya membuat suatu komposisi karya musik iringan tari dimana pada kesempatan ini media yang saya pakai yaitu Gamelan Gong Kebyar. Gamelan Gong Kebyar merupakan Gamelan Bali yang posisinya saat ini sangat eksis di masyarakat seluruh Bali.

 

 

1.2 Tujuan dan Manfaat.

Iringan Tari yang saya ciptakan pada kesempatan ini bertujuan untuk menggali pontensi- potensi muda dalam berkarya dan juga memotivasi unuk terus krekreativita dimana yang kita ketahui bahwa Bali terus mengalami perkembangan dengan keseniannya. Karya ini merupakan awal dari pembelajaran saya dalam mencoptakan suatu karya musik iringan Tari, semoga karya ini bermanfaat bagi masyarakat Bali khususnya di daerah Desa saya sendiri dan berguna untuk kesenian hiburan di Desa saya.

 

 

PEMBAHASAN.

 

2.1 Deskripsi Karya.

Pada kesempatan ini saya menciptakan suatu karya musik iringan Tari yang memakai media ungkap Gamelan Gong Kebyar. Musik Iringan Tari yang saya ciptakan yaitu tari Kreasi Putri yang mengambil ide dari sikap seorang perempuan yang memasuki masa remaja, dimana yang saya ketahui dari masa kecil menuju ke masa dewasa mulai dari umur 15 tahun sampai 20 tahun. Banyak hal yang saya dapat amati tentang seorang yang memasuki pada masa remaja yaiu dari segi, sifat, sikap, tingkah laku keseharian, dan egois. Cerita tersebut yang menjadi ide dalam bentuk komposisi musik saya ini, dan disamping itu cerita yang saya ambil ini merupakan keseharian para perempuan yang saya ketahui di setiap dimana saya bergaul baik di daerah kabupaten di Bali dan lebih mengkhusus di Desa saya tersendiri. Pada masa remaja itu perempuan mengalami perubahan baik dari segi apapun dan menjadi penentu di dalam masa depannya. Pergaulan menjadi pusat kehidupan yang akan kita tentukan nanti.

2.2 Gagasan.

Gagasan utama dalam bentuk komposisi musik ini adalah sikap keseharian perempuan, dimana yang paling saya amati perempuan tersebut adalah sifat, sikap, tingkah laku, egois. Keempat sifat ini yang paling mendorong saya membuat komposisi musik Iringan Tari dan saya juga merasa kwatir jika perempuan di pada masa remajanya itu salah pergaulan, karena jika salah pergaulan maka disana akan banyak merugikan banyak orang dan yang paling utama dirugikan adalah orang tuanya. Perempuan pada masa remaja hanya sekedar mengetahui masa senang dan sedih saja tanpa memikirkan gimana sebab akibat dari pergaulan yang mereka lakukan.

2.3 Gagasan Karya.

Gagasan karya musik Iringan Tari saya ini merupakan beberapa keseharian perempuan pada masa remaja yang mempunyai perubahan sikap, tingkah laku, sifat, dan egois. Masyarakat Bali sering mengistilahkan perempuan pada masa remaja yaitu dengan sebutan beger, ngelincak. Perempuan yang saya ambil kisah kesehariannya adalah Ni Kadek Widnyani Dewi, perempuan ini merupakan contoh sikap yang saya amati hampir selama 6 bulan dan saya bandingkan dengan perempuan lain yang ada di Desa saya hampir sama semua sikap perempuan pada masa ini. Jadi karya musik Iringan Tari yang di ciptakan saya memberi judul NGELINYAR DEWI. Secara umum kata ngelinyar itu adalah sikap perempuan yang sering keluar rumah dan jarang diam di rumah baik melakukan tugas atau mengikuti kegiatan pada masa remaja dan kata dewi itu merupakan contoh dari sikap perempuan yang paling saya amati, dari hal tersebut saya menuangkan ke dalam sebuah suatu karya musik Iringan Tari.

2.4 Bentuk Karya.

Bentuk komposisi musik Iringan Tari ini masih memakai pakem tradisi yaiu pada bagain awal terdapat kawitan, pepeson, transisi, pengawak, transisi, pengecet, transisi, pekaad. Komposisi musik ini banyak terdapat pola tradisi yang masih memakai ketukan 8 dalam mencari kempur dan klentong tetapi untuk mencari gong saya menggunakan ketukan 4.

  • Pola pada bagian pepeson saya menggunakan lepas dari ketukan yang artinya mencirikan karakter perempuan yang lepas dari kebiasaan pada keterbatasan yang dilakukan. Bagian pepeson terdapat juga untuk mencari pukulan klentong dan kempur 8 dan mencari pukulan gong itu ketukan 4 yang artinya sikap perempuan pada umumnya kadang-kadang benar kadang-kadang salah sikapnya di dalam masyarakat dan orang tua. Pada pukulan gangsa dan jegogan dalam pepeson terdapat teknik permainan selonding yang mencirikan karakter musik Karangasem.
  • Pola pada bagian transisi pepeson menuju pengawak terdapat pola yang sama untuk mencari pukulan klentong kempur dan gong.
  • Pada bagain pengawak terdapat pola kekendangan legod bawa, karakter pada bagian pengawak ini merupakan merenung tentang kepribadian perempuan untuk masa depan.
  • Pada bagian pengawak menuju pengecet terdapat pola pukulan tradisi pada penyacah, jublag jegog, kajar, dan gong, dan pada pukulan gangsa dan reong yang out bit yang artinya karakter perempuan mulai berkembang dengan kebiasaan yang tidak biasa dilakukan tetapi masih tetap dengan memegang teguh nasehat dari orang tua.
  • Pada bagian pengecet disini banyak pola yang saya gunakan yaitu teknik permainan angsel reong yang mencirikan kebahagian dan permainan yang menggembirakan tetapi masih pada kebiasaan pada umumnya.
  • Pada bagian pengecet ke pekaad terdapat pola transisi kebyar, pada bagian ini saya menggunakan teknik permainan gangsa, kantil dan reong hitungan tiga tetapi penyacah jublag kajar gong dan jegog bermain genap, maksudnya yaitu penari mampu bermain bebas etapi masih tetap dengan atas-batas tertentu tanpa merubah keiasaan yang terlalu jauh
  • Pada again pekaad saya menggunakan teknik biasa tetapi ada jeda-jeda tertentu sehingga yang saya maksud disini adalah penari mampu berjalan lurus sesuai keinginan tanpa ragu-ragu dan inget batasan dimana kita bergaul dan melakukan sesuatu yang sewajarnya