RSS Feed
Okt 31

Sejarah Perkembangan Gong Kebyar di Br. kesambi, Desa Kesiman kertalangu, Kecamatan Denpasar Timur Oleh : I Ketut Adi Wirawan, (2011.02.046)

Posted on Rabu, Oktober 31, 2012 in Tak Berkategori

Dalam sejarah perkembangan Gong Kebyar banjar Kesambi terdapat hal yang begitu menarik buat saya. Dulunya sebelum kami mempunyai gamelan gong kebyar, kami hanya menggunakan Gender Wayang untuk mengiringi upacara agama dan gamelan Bebatelan untuk mengiringi Ida Batara ke Pura-Pura di sekitar lingkungan Br. Kesambi. Dalam rapat (sangkep) oleh masyarakat br. Kesambi, mereka sepakat untuk membeli gamelan Gong Kebyar tetapi dengan cara membeli setengah-setengah karena pada jaman itu sangat susah mencari pekerjaan dan semua masyarakat di Bali hanya mengandalkan pekerjaan di Sawah.Pada masa-masa itu para penglingsir dan seluruh masyarakat di Br. Kesambi sangat giat mengumpulkan Padi guna untuk melengkapi gamelan Gong Kebyar tersebut karena uang dari penjualan Padi itu di gunakan untuk membeli gamelan Gong Kebyar di Br. Kesambi. Menurut Bapak I Wayan Sama, setelah gamelan ini sudah lengkap  satu barung pada tahun 1967, kemudian para penglingsir membentuk sebuah Sekaa Gong yang di beri nama “Gita Jaya” dan nama itu masih di pergunakan hingga sekarang. Di dalam proses pembelajaran pada saat itu, mereka di ajari oleh I Nyoman Nambleg(alm). Seiring dengan bejalannya waktu sekaa ini sudah bisa memainkan beberapa buah gending gamelan Gong Kebyar di antaranya : Tabuh Telu lelambatan, tabuh dua lelmbatan dan beberapa gending iringan tari.

Seiring dengan berjalannaya waktu saya selaku penerus dalam sekaa gong di Br. Kesambi ini sudah bisa menggunakan gambelan ini tanpa ikut merasakan susahnya membeli gamelan yang ada di Br.kesambi dan juga sudah bisa membuat generasi lagi dengan mengajak anak-anak umur 7 sampai 10 tahun untuk meningkatkan mutu kesenian yang ada di Br.kesambi. Dalam perkembangan dan perjalanan sekaa ini pernah terjadi sebuah peningkatan yang signifikan karena dalam Pesta Kesenian Bali pada tahun 2011, sekaa Gong “Gita Jaya” ini di tunjuk untuk menjadi Duta Kota Denpasar dalam Parade Gong Kebyar 2011, tetapi gambelan yang di gunakan adalah gamelan pemerintah Kota Denpasar karena gambelan itu biasanya sering di pakai pada saat pementasan Gong Kebyar untuk Duta Kota Denpasar.

Adapun instrumen yang terdapat didalam gamelan Gong Kebyar di Banjar Kesambi :

  1. 1 tungguh terompong
  2. 2 buah kendang
  3. 1 buah cenceng ricik
  4. 5- 10 buah suling
  5. 1 buah ugal
  6. 1 buah kajar
  7. 4 buah pemade
  8. 4 buah kantilan
  9. 1 tungguh reyong
  10.  2 buah jublag
  11.  2 buah jegog
  12.  2 buah gong
  13.  1 kempur
  14.  1 buah bende
  15.  1 buah kemong
  16.  1 buah kempli

Dengan perangkat gamelan yang telah dimiliki di banjar Kesambi, Sekaa ini mampu mewujudkan rasa bakti dengan konsep ngayah-ngayah di lingkungan Banjar bahkan di luar Banjar. Dengan perkembangan gamelan Gong Kebyar masa kini yang telah adanya tambahan instrument 1 buah ugal , dan 2 buah penyacah, di banjar Kesambi tidak terdapat instrument tersebut karena sekha Gong Gita Jaya masih mempertahankan konsep tradisi namun plawah dari gamelan tersebut  di prade untuk memperindah wajah dari gamelan itu sendiri, namun bumbung(resonator) gamelan itu di biarkan tetap terbuka dan tidak di lengkapi dengan pandil untuk tidak menghilangkan cirri khas gamelan tersebut dan tidak merusak nilai estetika gamelan tersebut guna untuk bisa di wariskan kepada generasi penerus sekaa gong “Gita Jaya

  Informasi sejarah gamelan Gong Kebyar di Banjar Kesambi ini saya dapat dari Bapak I Wayan Sama selaku warga, di Banjar Kesambi, Kesiman Kertalangu yang saya wawancarai pada Hari Rabu, 3-Oktober-2012

Okt 30

sejarah gamelan gong kebyar di Br. kesambi

Posted on Selasa, Oktober 30, 2012 in Tak Berkategori

   Dalam sejarah perkembangan Gong Kebyar banjar Kesambi terdapat hal yang begitu menarik buat saya. Dulunya sebelum kami mempunyai gamelan gong kebyar, kami hanya menggunakan Gender Wayang untuk mengiringi upacara agama dan gamelan Bebatelan untuk mengiringi Ida Batara ke Pura-Pura di sekitar lingkungan Br. Kesambi. Dalam rapat (sangkep) oleh masyarakat br. Kesambi, mereka sepakat untuk membeli gamelan Gong Kebyar tetapi dengan cara membeli setengah-setengah karena pada jaman itu sangat susah mencari pekerjaan dan semua masyarakat di Bali hanya mengandalkan pekerjaan di Sawah.Pada masa-masa itu para penglingsir dan seluruh masyarakat di Br. Kesambi sangat giat mengumpulkan Padi guna untuk melengkapi gamelan Gong Kebyar tersebut karena uang dari penjualan Padi itu di gunakan untuk membeli gamelan Gong Kebyar di Br. Kesambi. Menurut Bapak I Wayan Sama, setelah gamelan ini sudah lengkap  satu barung pada tahun 1967, kemudian para penglingsir membentuk sebuah Sekaa Gong yang di beri nama “Gita Jaya” dan nama itu masih di pergunakan hingga sekarang. Di dalam proses pembelajaran pada saat itu, mereka di ajari oleh I Nyoman Nambleg(alm). Seiring dengan bejalannya waktu sekaa ini sudah bisa memainkan beberapa buah gending gamelan Gong Kebyar di antaranya : Tabuh Telu lelambatan, tabuh dua lelmbatan dan beberapa gending iringan tari.

                  Seiring dengan berjalannaya waktu saya selaku penerus dalam sekaa gong di Br. Kesambi ini sudah bisa menggunakan gambelan ini tanpa ikut merasakan susahnya membeli gamelan yang ada di Br.kesambi dan juga sudah bisa membuat generasi lagi dengan mengajak anak-anak umur 7 sampai 10 tahun untuk meningkatkan mutu kesenian yang ada di Br.kesambi. Dalam perkembangan dan perjalanan sekaa ini pernah terjadi sebuah peningkatan yang signifikan karena dalam Pesta Kesenian Bali pada tahun 2011, sekaa Gong “Gita Jaya” ini di tunjuk untuk menjadi Duta Kota Denpasar dalam Parade Gong Kebyar 2011, tetapi gambelan yang di gunakan adalah gamelan pemerintah Kota Denpasar karena gambelan itu biasanya sering di pakai pada saat pementasan Gong Kebyar untuk Duta Kota Denpasar.

Adapun instrumen yang terdapat didalam gamelan Gong Kebyar di Banjar Kesambi :

  1. 1 tungguh terompong
  2. 2 buah kendang
  3. 1 buah cenceng ricik
  4. 5- 10 buah suling
  5. 1 buah ugal
  6. 1 buah kajar
  7. 4 buah pemade
  8. 4 buah kantilan
  9. 1 tungguh reyong
  10.  2 buah jublag
  11.  2 buah jegog
  12.  2 buah gong
  13.  1 kempur
  14.  1 buah bende
  15.  1 buah kemong
  16.  1 buah kempli

Dengan perangkat gamelan yang telah dimiliki di banjar Kesambi, Sekaa ini mampu mewujudkan rasa bakti dengan konsep ngayah-ngayah di lingkungan Banjar bahkan di luar Banjar. Dengan perkembangan gamelan Gong Kebyar masa kini yang telah adanya tambahan instrument 1 buah ugal , dan 2 buah penyacah, di banjar Kesambi tidak terdapat instrument tersebut karena sekha Gong Gita Jaya masih mempertahankan konsep tradisi namun plawah dari gamelan tersebut  di prade untuk memperindah wajah dari gamelan itu sendiri, namun bumbung(resonator) gamelan itu di biarkan tetap terbuka dan tidak di lengkapi dengan pandil untuk tidak menghilangkan cirri khas gamelan tersebut dan tidak merusak nilai estetika gamelan tersebut guna untuk bisa di wariskan kepada generasi penerus sekaa gong “Gita Jaya”

 

Informasi sejarah gamelan Gong Kebyar di Banjar Kesambi ini saya dapat dari Bapak I Wayan Sama selaku warga, di Banjar Kesambi, Kesiman Kertalangu yang saya wawancarai pada Hari Rabu, 3-Oktober-2012

Okt 23

Biografi Seniman “I Ketut Suandita S.sn”

Posted on Selasa, Oktober 23, 2012 in Tak Berkategori

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

 

 

1.1    Latar Belakang

 

Peranan seniman, khususnya pada kalangan masyarakat Bali, dalam upaya mengaktualisasikan seni tradisinya agar mampu beradaptasi dengan situasi dan jamannya telah menunjukkan hasil. Sebagaimana yang terjadi dalam seni karawitan Bali dewasa ini. Karya-karya karawitan di Bali tidak terlepas dari para konseptor atau komposer  yang mampu menerima segala jenis perkembangan maupun pengaruh budaya global tetapi masih berpegang teguh pada seni-seni tradisi yang diwariskan nenek moyang terdahulu. Sebagai salah satu contoh seniman Bali yang kreatif adalah I Ketut Suandita S.Sn, seorang seniman muda yang kini sedang naik daun dan cukup menonjol  dalam inovasinya dibidang seni karawitan Bali. Maka dari itu penulis tertarik untuk membuat biografi sosok seniman I Ketut Suandita, untuk mencari tahu asal-usul beliau dan secara tidak langsung juga bisa belajar dan mengetahui cara-cara beliau menggarap suatu gending atau lagu pada media ungkap gamelan Bali.

 

 

1.2  Rumusan Masalah

 

Berhubungan dengan hal tersebut di atas, kiranya penulis rumuskan beberapa masalah yang penulis ketengahkan dalam paper ini :

1. Bagaimana latar belakang kehidupan I Ketut Suandita?

2. Bagaimana kesenimanan I Ketut Suandita?

3. Bagaimanakah proses kreatif I Ketut Suandita dalam menggarap dan menghasilkan suatu gending atau tabuh?

 

1.3 Ruang Lingkup Penelitian

 

Ruang lingkup pada penelitian ini dibatas pada bibliografi I Ketut Suandita yang mengungkap latar belakang  beliau, pengalaman berkesenian beliau, dan proses kreatif yang beliu terapkan sehingga dapat menggarap dan  menghasilkan tabuh-tabuh karawitan Bali.

 

 

1.4 Tujuan Penelitian

 

  1. Untuk mengetahui latar belakang kehidupan I Ketut Suandita.
  2. Untuk mengetahui kesenimanan I Ketut Suandita.
  3. Untuk mengetahui proses kreatif Ketut Suandita dalam menggarap dan menghasilkan suatu gending atau tabuh.

 

 

1.5  Manfaat Penelitian

 

Selain memiliki tujuan yang ingin dicapai, setelah terwujudnya  penelitian ini diharapkan nantinya akan memberi manfaat yang positif terhadap:

 

  1.  Pengembangan ilmu dan wawasan bagi penulis sebagai mahasiswa seni pertunjukan, jurusan karawitan, semester empat, program penciptaan seni. Dari hasil penelitian ini diharapkan  akan dapat belajar banyak tentang metode dan teknik dalam membuat gending atau tabuh karawitan Bali dari sosok kesenimanan dan proses kreatif I Ketut Suandita.
  2. Pengembangan ISI Denpasar sebagai sebuah lembaga pendidikan seni.  Dalam hal ini, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi mengenai metode penciptaan, ataupun memberikan sebuah pengetahuan bagi seniman-seniman lainnya yang akan mulai mencoba menggarap suatu gending atau tabuh. Selain juga menambah literature sebagai refrensi.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

2.1  Latar Belakang Kehidupan I Ketut Suandita

 

I Ketut Suandita adalah seorang seniman karawitan Bali yang berasal dari Banjar Kehen, Desa Kesiman, Denpasar Timur merupakan putra ke-8 dari pasangan I Made Rengkig (Almarhum) dengan Ni Made Rentib. Ia lahir pada tanggal 1 April 1970. Dilihat dari namanya, ia adalah Ketut balik ( Ketut kedua) dari urutan nama depan yang sudah menjadi identitas nama orang Bali pada umumnya. I Ketut Suandita mempunyai istri Ni Wayan Widari dan telah dikaruniai seorang anak laki-laki bernama I Wayan Srutha Wiguna. Dalam perjalanan hidupnya, I Ketut Suandita mempunyai cita-cita yang ingin dicapai yaitu ingin menjadi pemain sepak bola dan menjadi seorang seniman. Namun demikian, dari kedua cita-citanya itu, ia lebih condong bercita-cita menjadi seniman. Ini dikarenakan oleh faktor keturunan (genetik) dan bakat, yang sangat mempengaruhi cepat lambatnya seseorang dalam berproses. Darah kesenimanannya mengalir dari darah kakeknya yang juga seorang penabuh gamelan.

Bakat kesenimanan I Ketut Suandita sebagai pengrawit sudah kelihatan mulai ia duduk di bangku SD kelas 5. Bakatnya itu terbukti dari kecakapannya bermain gangsa dan kendang dalam sebuah garapan janger yang dibuat di sekolahnya. I Ketut Suandita mengikuti jenjang pendidikan dasarnya di SDN 6 Kesiman, Denpasar Timur. Ia memiliki seorang guru Agama Hindu bernama Ida Bagus Alit dari Desa Sanur yang sangat memperhatikan bakat kesenimanannya. Menurut I Ketut Suandita, sosok sesorang yang sangat berperan dalam pembentukan dirinya menjadi seorang seniman adalah guru agamanya itu.

Setelah lulus SD, Suandita melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri 8 Denpasar. Dalam pendidikannya di bangku SMP, ia mengalihkan bakat keseniannya  kebidang olahraga. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya  pelajaran menabuh di sekolahnya. Di sini bakat olahraganya yang tumbuh dengan pesat. Hal itu terbukti dari keikutsertaannya dalam keanggotaan Persatuan Sepak Bola Denpasar (PERSEDEN). Kendatipun demikian disela-sela aktivitas olahraga yang ia lakukan, I Ketut Suandita juga merasakan ada suatu kebimbangan untuk menentukan jati dirinya kedepan. Namun seiring dengan perjalanan waktu, dan menyadari pengalaman yang ia peroleh dari olahraga cukup banyak, maka ia dengan sigap menyatakan dirinya harus menjadi seorang seniman.

Ketika lulus  SMP, biasanya seorang siswa dibebaskan menentukan pilihannya untuk melanjutkan kesekolah mana yang diinginkan. Dalam pengisian formulir pendaftaran, I Ketut Suandita dalam menentukan pilihannya ia mendaftar di dua sekolah. Urutan pertama yang ia pilih adalah SMKI Bali, dan urutan kedua adalah SGO (Sekolah Guru Olahraga). Tetapi, karena keinginannya yang dominan menjadi seorang seniman, maka kemudian ia memastikan untuk melanjutkan studinya di SMKI Bali. Di sekolah seni inilah bakat keseniaannya secara formal mulai ditempa.

Bagaikan seseorang yang mendapatkan air minum ketika sedang kehausan, begitulah perasaan I Ketut Suandita ketika mendapat pendidikan dari guru-guru keseniaannya. Ia diajar oleh tokoh-tokoh karawitan Bali seperti I Gusti Ngurah Padang, I Ketut Gede Asnawa, I Wayan Sinti, dan yang lainnya. Pengetahuan yang ia peroleh dari masing-masing gurunya itu berbeda-beda. I Ketut Gede Asnawa banyak memberinya pengetahuan tentang cara menggarap tabuh lelambatan. I Wayan Sinti banyak mengajarinya tentang tabuh palegongan klasik. Kemudian dari sekian gurunya itu, ia mendapatkan pengetahuan paling banyak dari bapak I Gusti Ngurah Padang yaitu tentang penggarapan tabuh kreasi.

Semenjak I Ketut Suandita duduk dibangku SMK kelas 2, kesempatan menggarap gending atau tabuh telah diperolehnya. Gending atau tabuh yang dibuatnya itu merupakan sebuah tugas mata pelajaran titi laras. Pada saat itu gending/tabuh yang ditugaskan untuk dibuat adalah gending untuk iringan prajurit. Dari sekian banyak gending yang terkumpul, baik dari  I Ketut Suandita maupun teman-temannya, namun hanya gending I Ketut Suandita yang paling baik dan berhasil memenuhi syarat. Keberhasilan seniman asal Kesiman ini dalam membuat gending prajurit mulai membuatnya tertarik untuk menjadi komposer karawitan Bali.

Menarik lagi perjalanan hidup I Ketut Suandita ketika menyelesaikan studinya di tingkat SMKI Bali, sertifikat (ijazah) kelulusannya ditahan oleh Wakil Kepala Sekolahnya yaitu I Gede Yudana, karena alasan dari pihak sekolah menginginkan I Ketut Suandita langsung menjadi tenaga pengajar disana. Sungguh merupakan suatu kesempatan yang tidak patut disia-siakan bagi. Kendatipun sebagai tenaga pengajar, namun proses pembelajaran tentang arti kesenian itu ia terus pelajari.

Dalam sebuah kehidupan,memang selalu terjadi pasang surut. Setelah Wakil Kepala Sekolahnya meninggal, status I Ketut Suandita sebagai seorang tenaga pengajar di SMKI Bali menjadi mengambang. Akhirnya setelah 3 tahun lamanya mengabdi di sekolah almamaternya itu ia memutuskan untuk berhenti menjadi tenaga pengajar dan melanjutkan pendidikannya ke STSI Denpasar.

Bagi I Ketut Suandita, dalam menempuh pendidikan itu tidak mengenal batas umur. Walaupun dal m menempuh pendidikannya ke STSI Denpasar ia seaangkatan dengan siswa-siswa yang pernah diajarnya ketika masih mengajar di SMKI, namun semangat belajar untuk menempa jati dirinya menjadi seorang seniman tak pernah surut. Dalam proses pembelajarannya di kampus seni ini ia lebih mencondongkan dirinya hanya untuk belajar ilmu komposisi. Akhirnya berkat keuletannya dan juga restu dari Ida Sang Hyang Widhi ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dan mendapatkan gelar sarjana (S1) dengan membuat satu garapan tugas akhir  (TA) yang berjudul “Maha Yuga”. Garapan inilah sebagai tonggak jati diri kesenimanannya talah diraihnya dan diakui secara akademis.

 

 

2.2 Kesenimanan I Ketut Suandita

 

Kesenimanan I Ketut Suandita tidak terlepas dari pengalaman beliau yang memang sangat berharga. Dari pengalaman orang menjadi tau, dari pengalaman orang menjadi bisa, dan dari pengalaman juga orang akan mendapat ilmu pengetahuan. Oleh karenanya tidaklah salah jika banyak orang mengatakan bahwa “Experience the best teacher” pengalaman adalah guru terbaik.

Begitu pula dengan I Ketut Suandita, pengalamannya merupakan guru baginya. Pengalaman-pengalaman itu dijadikannya sebuah pedoman didalam ia melangkah kedepan. Hal ini juga ia lakukan atas dasar nasehat dari salah satu seorang gurunya yang juga merupakan seorang empu karawitan Bali yaitu I Wayan Berata, kutipan nasehat tersebut adalah adalah “Tut, jika kamu menjadi seniman hendaknya seperti pertapaan si kayu jati, semakin tua usianya ia semakin berguna. Agar jangan seperti atlet olahraga, semakin tua semakin tidak berguna”. Apa yang disampaikan oleh gurunya itu ia jadikan sebagai sebuah konsep kesenimanannya. Menurut I Ketut Suandita, seorang seniman semakin tua usianya hendaknya memiliki pengalaman yang luas guna dijadikan bekal untuk bisa seperti ‘kayu jati’. Mengamati pengalaman I Ketut Suandita dalm berkesenian khususnya sebagai seorang seniman karawitan Bali, hal tersebut dapat diamati dari pengalamannya sebagai seorang seniman penyaji dan pengalamannya sebagai seorang seniman komposer/penggarap.

Dalam pengalamannya sebagai seorang penyaji, Seniman lulusan STSI Denpasar ini lebih banyak terlibat dalam karawitan instrumental, sehingga kemampuannya dalam menyajikan karawitan vokal tidak berkembang. Sebagai sosok seniman penyaji karawitan instrumental, Suandita sudah mendapat pengalaman sejak ia masih duduk di bangku SD. Saat itu ia sudah mampu memainkan kendang janger. Ketika menginjak ke tingkat pendidikan SMP, pengalam berkeseniannya sempat mengalami stagnasi karena di sekolahnya tidak terdapat gamelan untuk ia latihan.

Selanjutnya, setelah ia masuk ke SMKI Bali, disini ia banyak sekali mendapatkan pengalaman sebagai penyaji. Suatu pengalaman berharga yang ia alami sebagai penyaji karawitan adalah ketika kemampuannya dalam bermain kendang diuji. Dalam posisi belajarnya yang pada waktu itu duduk di kelas 4 SMKI Bali, ia berhasil menjadi seorang penyaji dengan nilai yang memuaskan. Keberhasilan ini ia peroleh dengan proses belajar , baik melalui proses bimbingan maupun belajar secara autodidak. Dari sinilah setapak demi setapak ia terus melangkah maju untuk meningkatkan kemampuan kesenimanannya sebagai seorang penyaji.

Kemampuan I Ketut Suandita sebagai seorang penyaji tidak hanya mampu memainkan instrumen kendang saja, tetapi hampir dari semua instrumen gamelan Bali ia bisa mainkan. Pada kenyataannya sekarang, pengalamannya sebagai  seorang penyaji sudah sangat banyak ia dapatkan, baik dalam keikutsertaanya di sebuah sekaa atau sanggar seni maupun dalam event-event kejuaraan seperti Festival Gong Kebyar. Pengalamannya sebagai seorang penyaji ini juga membawanya menjadi seorang penggarap.

Meninjau pengalaman I Ketut Suandita dalam hal menggarap, pengalaman itu telah ia lakoni sejak duduk di bangku SMKI Bali kelas 2, namun itu hanya dibuat untuk kepentingan salah satu tugas dari mata pelajaran titi laras yang ia pelajari. Kemudian setelah duduk di kelas 4, ia mulai menggarap bentuk-bentuk gending kreasi Balaganjur. Kesuksesan pertama yang ia raih dalam garapannya itu kemudian memotivasinya untuk terus berkarya. Seperti salah satu contohnya, dalam event-event lomba Balaganjur setiap tahun Suandita selalu muncul sebagai sosok penggarap. Memang ia patut diacungi jempol karena setiap karya-karyanya itu masuk dalam nominasi tiga besar. Kendatipun dalam kesenimanannya ia lebih banyak terlibat dalam penggarapan kreasi Balaganjur, namun selain daripada itu ia juga tidak jarang menggarap gending/tabuh dengan menggunakan media Gong Kebyar. Beberapa bentuk garapannya itu yaitu tabuh kreasi pepanggulan, tabuh kreasi baru, sandya gita, iringan fragmentari, lelambatan, dan iringan tari seperti Tari Puja Prasamya dan Tari Sekar Jempiring yang sekarang merupakan tari maskot Kota Denpasar.

 

 

2.3  Mengetahui Proses Kreatif Ketut Suandita dalam Menggarap dan   Menghasilkan Suatu Gending atau Tabuh

 

Pada umumnya orang-orang kreatif adalah orang yang memiliki sikap berani untuk tampil berbeda, menonjol, membuat kejutan, ataupun berusaha untuk lepas dari ikatan tradisi. Mereka adalah orang-orang yang bersedia mengambil suatu resiko. Dengan mengutamakan rasa percaya diri, keuletan dan ketekunan membuat mereka tidak putus cepat putus asa.

Suandita sebagai seniman penggarap dalam menghasilkan karya karyanya sangat didorong oleh sikap kreatifnya. Dengan memanfaatkan kemampuan kognitif imajinatif serta kemampuan prakteknya secara optimal ia terus berupaya menghadirkan karya-karya musiknya dengan ide-ide yang segar. Jika boleh dikatakan, Suandita merupakan sosok seniman yang memiliki kemampuan kreatifitas sangat tinggi. Kemampuannya membaca situasi zaman dan kemampuannya bereksperimen serta bermain dengan ide, konsep-konsep atau kemungkinan-kemungkinan yang dikhayalkan, yang kemudian diwujudkannya menjadi sebuah bentuk garap adalah kelebihannya sebagai sosok yang memiliki pribadi kreatif. Tingkat spontanitasnyapun tidak diragukan lagi, sehingga dalam proses menggarap ia termasuk seniman penggarap yang cepat dalam melahirkan ide-ide untuk mewujudkan sebuah garapan.

Pada dasarnya proses kreatif adalah proses yang dilakukan oleh seorang seniman dalam usahanya untuk mencipta atau menghasilkan sesuatu yang baru. Suandita sebagai seorang seniman penggarap secara substansi proses kerja kreatifnya dapat dibagi menjadi 3 tahap yaitu : 1. Tahap Persiapan; 2. Tahap Penuangan; 3. Tahap revisi dan Finishing.

 

2.3.1   Tahap Persiapan

Tahap persiapan yang dilakukan Suandita sebagai proses awal kerja kreatifnya melalui dua tahapan yaitu : tahap eksplorasi dan penetapan ide, kemudian tahap penyusunan konsep garap. Pada eksplorasi dan penetapan ide, umumnya Suandita sebagai seorang penggarap berusaha mencari ide-ide garapan yang refresentatif dengan fenomena yang sedang aktual, baik menyangkut kondisi sosial maupun kepekaan terhadap kondisi lingkungan sekitarnya. Setelah ide didapatkan, tahap selanjutnya yang ia lakukan adalah menyusun sebuah konsep garap. Konsep tersebut meliputi: menentukan bentuk, nafas,serta tujuan penggarapan, menentukan media ungkap/ prabot garap yang akan digunakan untuk menuangkan ide, menentukan konsep-konsep estetis serta konsep-konsep musikal yang akan digunakan dalam mewujudkan karyanya; serta mengamati tingkat kemampuan pendukung.

 

2.3.2 Tahap Penuangan

Tahap penuangan dilakukan dengan dua cara. Pertama, ide atau wujud garapan yang masih berada dalam tataran imajinasinya itu dituangkan dahulu ke dalam bentuk notasi, kemudian baru dituangkan ke dalam media ungkap. Cara ini ia lakukan ketika sedang berhadapan dengan penabuh yang memiliki daya tangkap diatas rata-rata serta penabuh yang sudah kawakan. Dalam hal ini notasi akan dapat ia gunakan untuk mempercepat proses penuangan idenya ia dapat langsung menuangkan idenya kedalam media ungkap. Kedua, untuk menuangkan idenya ia dapat langsung menuangkan idenya ke dalam media ungkap. Cara ini ia lakukan ketika berhadapan langsung dengan penabuh yang tingkat kemampuannya dan daya tangkapnya menengah ke bawah.

2.3.3 Tahap Revisi dan Finishing

Tahap revisi  merupakan tahap pebaikan yang dilakukan terhadap garapan yang sudah terbentuk. Suandita mengatakan, bahwa jika dalam bentuk global dari garapan yang ia telah wujudkan ada bagian yang menurutnya kurang sesuai maka ia akan merevisinya kembali. Metode revisi yang ia lakukan adalah dengan cara kembali ke tahap eksplorasi untuk mencari-cari kembali motif yang sesuai untuk mengganti bagian yang kurang sesuai itu. Tahap finishing merupakan tahap akhir dari proses kreatif yang dilakukan oleh Suandita. Tahap ini adalah tahap penyelesaian atau mengahaluskan sebuah bentuk garap yang sudah terbentuk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

 

PENUTUP

 

 

 

3.1  KESIMPULAN

 

 

Peranan seniman, khususnya pada kalangan masyarakat Bali, dalam upaya mengaktualisasikan seni tradisinya agar mampu beradaptasi dengan situasi dan jamannya telah menunjukkan hasil. Sebagai salah satu contoh seniman Bali yang kreatif adalah I Ketut Suandita S.Sn, seorang seniman muda yang kini sedang naik daun dan cukup menonjol  dalam inovasinya dibidang seni karawitan Bali.

I Ketut Suandita adalah seorang seniman karawitan Bali yang berasal dari Banjar Kehen, Desa Kesiman, Denpasar Timur merupakan putra ke-8 dari pasangan I Made Rengkig (Almarhum) dengan Ni Made Rentib. Ia lahir pada tanggal 1 April 1970. Dilihat dari namanya, ia adalah Ketut balik ( Ketut kedua) dari urutan nama depan yang sudah menjadi identitas nama orang Bali pada umumnya. I Ketut Suandita mempunyai istri Ni Wayan Widari dan telah dikaruniai seorang anak laki-laki bernama I Wayan Srutha Wiguna. Bakat kesenimanan I Ketut Suandita sebagai pengrawit sudah kelihatan mulai ia duduk di bangku SD kelas 5. Bakatnya itu terbukti dari kecakapannya bermain gangsa dan kendang dalam sebuah garapan janger yang dibuat di sekolahnya.

Suandita sebagai seniman penggarap dalam menghasilkan karya karyanya sangat didorong oleh sikap kreatifnya. Dengan memanfaatkan kemampuan kognitif imajinatif serta kemampuan prakteknya secara optimal ia terus berupaya menghadirkan karya-karya musiknya dengan ide-ide yang segar dan  Suandita sebagai seorang seniman penggarap secara substansi proses kerja kreatifnya dapat dibagi menjadi 3 tahap yaitu : 1. Tahap Persiapan; 2. Tahap Penuangan; 3. Tahap revisi dan Finishing.

Karya-karya I Ketut suandita ini sangat mudah di cerna karena pemahaman dan proses penuangannya bisa di katagorikan santai tapi begitu manis.

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Informan

 

 

 

  1. Nama                 : I Ketut Suandita., S.Sn

Tempat

tanggal lahir       : Denpasar, 1 April 1970

Jenis Kelamin    : Laki-laki

Pekerjaan           : Pegawai Dinas Kebudayaan Kota Denpasar/ Komposer

Karawitan Bali

Alamat               : Jalan Sulatri nomer 34, Banjar Kehen  Desa Kesiman  Petilan,  Kecamatan   Denpasar Timur

  1. Nama                 : I Ketut Arka., S.Pd

Tempat

tanggal lahir       : Denpasar, 8 April 1959

Jenis Kelamin    : Laki-laki

Pekerjaan           : Pegawai Negeri Sipil/ Guru

Alamat               : Jalan Sulatri nomer 34, Banjar Kehen  Desa Kesiman  Petilan,  Kecamatan   Denpasar Timur

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto 1. Foto I Ketut Suandita., S.Sn

 

Mei 28

Tabuh kreasi bintang kartika

Posted on Senin, Mei 28, 2012 in Tak Berkategori

Karya :  Made Subandi S,kar

Lokasi : Petak, Gianyar

Jenis:  Musik Tradisi

Tahun : 2009

Coment :

Tabuh kreasi “BINTANG KARTIKA” adalah sebuah garapan musik tradisi yang mempunyai khas kekinian.

Sound sistem :

  • Suara pada kendang hanya terdengar pada kekupekannya saja
  • Sound yang berada di gong tidakj terdengar jelas

Laigting :

  • Laigting ini sebanrnya sudah bagus hanya saja pada saat penonjolan instrument kurang  di fokuskan ke instrument

Posisi  instrument :

  • Posisinya masih memakai posisi yang seperti posisi umum pada gong kebyar

Suara :

  • Bunyi dari semua instrument secara umum sudah bagus namun ada beberapa yang perlu di perbaiki seperti kurangnya microfone
Apr 2

gambelan angklung

Posted on Senin, April 2, 2012 in Tak Berkategori

Gambelan angklung
Gambelan angklung adalah gambelan khas bali yang sering digunakan dalam prosesi/upacara kematian. Gambelan angklung menggunakan laras selendro dan tergolong barungan madya yang di bentuk oleh instrument berbilah dan berpencon dari krawang, kadang-kadang ditambah dengan angklung kocok (yang ukuran keci).
Di bali selatan gambelan ini hanya menggunakan 4(empat) nada sedangkan di bali utara menggunakan 5(lima) nada. Berdasarkan konteks penggunaan gambelan ini serta materi tabuh  yang dibawakan angklung dapat dibedakan menjadi :
Angklung klasik   :  Di mainkan untuk mengiringi upacara (tanpa tari-tarian)
Angklung kebyar  : Di mainkan untuk mengiringi pegelaran tari maupun drama
Satu barung gambelan angklung bias berperan sebagai keduanya, karena sering kali menggunakan penabuh yang sama. Di kalangan masyarakat yang luas gambelan ini di kenal sebagai pengiring upacara  Pitra Yadnya(ngaben). Di sekitaran Denpasar dan beberapa tempat lainnya, penguburan mayat di iringi dengan gambelan angklung yang menggantikan fungsi gambelan gong gede yang di pakai untuk mengiringi upacara Dewa Yadya (odalan) atau juga upacara lainnya.
instrument gambelan angklung terdiri dari :                                                                                                                             *6-8 pasang alat yang terdiri dari sepasang jegogan, jublag, dan selebihnya pemade dan kantilan
* 3-4 pencon, reong angklung kebyar menggunakan 12 pencon
* 2 buah kendang kecil klasik dan 2 buah kendang besar jika memainkan angklung kebyar
* 1buah tawa-tawa
* 1 buah kempur kecuali angklung kebyar menggunakan gong
Gangsa angklung adalah suatu instrument yang mempunyai 4(empat) bilah nada yang terdiri dari (neng,ndung,ndang, nding) dengan gaya nada selendro. Salah satu gangsa angklung biasanya bisa langsung berfungsi sebagai pengugal atau pemimpin dalam barungan angklung itu. Instrument gangsa ini biasanya menggunakan alat pukul panggul atau juga panggul gender. Cara memainkannya adalah satu nada di pukul kemudian d tutup sesuai dengan irama yang kita inginkan.
Kantialan angklung adalah instrument yang mempunyai 4(empat) bilah nada yang terdiri dari nada (ndeng, ndung,ndang, nding)tetapi dengan nada lebih tinggi dengan gaya selendro. Kantilan ini berfungsi sebagai pemanis dalam permainan atau gending angklung tersebut. Instrument ini juga menggunakan alat pukul panggul atau juga menggunakan panggul gender
Jublag angklung adalah instrument yang juga mempunyai 4(empat) bilah nada yang terdiri dari nada(ndeng,ndung,ndang,nding) tetapi nadanya lebih rendah dengan gaya selendro. Jublag ini berfungsi sebagai penandan dalam gending angklung itu sendiri. Insterument ini menggunakan alat pukul panggul tetapi ukurannya lebih besar dan d bawah panggul itu menggunakan karet agar suara jublag terdengar lebih merdu
Reong angklung adalah instrument yang berpencon dengan gaya nada selendro dan dimainkan oleh 4(empat) orang pemain atau penabuh. Instrument ini menggunakan alat pukul panggul tetapi panggul itu di lilit dengan benang dengan tujuan agar suara reong tersebut bisa lebih merdu
Kendang angklung, biasanya kalau untuk mengiringi upacara kematian kendang angklung yang digunakan adalah kendang yang berukuran kecil karena lagu yang dimainkan adalah lagu ysng bersifat sedih tetapi dalam angklung kebyar biasanya menggunakan kendang yang ukurannya lebih besar karena bentuk lagunya lebih bersemangat dan juga berbentuk kekebyaran. Instrument ini dimainkan oleh 2(dua) orang penabuh. Kalau menggunakan kendang berukuran kecil cara memainkannya hanya memukul bagian samping kanan yang diameternya lebih besar atau mukaknya saja, tetapi kalau menggunakan kendang besar cara memainkannya menggunakan 2(dua) tangan dengan memukul bagian samping kendang dengan motif pukulan seperti gegilak, dll
Tawa-tawa angklung merupakan alat sebagai tempo yang membawa lagu itu cepat atau pelan.
Kempur angklung merupakan suatu alat untuk menunjukkan lagu itu sudah habis, tetapi kalau angklung kebyar biasanya menggunakan gong, karena jenis lagunya berbentuk kekebyaran. Ada juga instrument kecek dan suling yang menjadi bagian dari barungan gambelan angklung tersebut.