Fungsi Gamelan Angklung

Maret 30th, 2012

Fungsi Gamelan Angklung

Gamelan Angklung adalah gamelan berlaras slendro, tergolong barungan madya yang dibentuk oleh instrumen berbilah dan pencon dari krawang, kadang-kadang ditambah angklung bambu kocok (yang berukuran kecil). Dibentuk oleh alat-alat gamelan yang relatif kecil dan ringan (sehingga mudah dimainkan sambil berprosesi). Permainan gamelan angklung biasanya dilakukan saat upacara-upacara yadnya di Bali. Gamelan Angklung bagi masyarakat Bali memiliki arti yang sentimental dan tidak dapat tergantikan untuk memberi arti pada upacara adat Bali. Kata angklung sendiri adalah untuk menyebut alat berupa bambu yang digunakan sebagai media keluarnya bunyi-bunyian

Di Bali Selatan gamelan ini hanya mempergunakan 4 nada sedangkan di Bali Utara mempergunakan 5 nada.

Berdasarkan konteks penggunaaan gamelan ini, serta materi tabuh yang dibawakan angklung dapat dibedakan menjadi:

  1. Angklung klasik atau tarsdisional, dimainkan untuk mengiringi upacara (tanpa tari-tarian)
  2. Angklung kebyar,dimainkan untuk mengiringi pegelaran tari maupun Drama.

Sat Barung gamelan angklung bisa berperan keduanya, karena seringkali mempergunakan alat-alat gamelan dan penabuh yang sama. Di kalangan masyarakat luas gamelan ini dikenal sebagai pengiring upacara-upacara Pitra Yadnya (ngaben).

TabTabuh-tabuh Angklung Kebyar sama dengan yang dipakai Gong Kebyar.

Bottom of For 2.2. Fungsi Gamelan Angklung Di Banjar Tegeh

1. Fungsi Upacara

Fungsi gamelan angklung  dibanjar Tegeh adalah  mengiringi upacara pitra yadnya dan selain itu  juga dipakai mengiringi upacara Dewa Yadnya serta tari-tarian gong selendro yang sering juga menghidangkan gending-gending perangklungan 4 nada.

Satu barungan angklung bisa berperan keduanya, karena seringkali menggunakan  alat-alat gamelan dan penabuh yang sama. Di kalangan masyarakat Bali sebagian besar mengenal bahwa angklung dipergunakan dan berfungsi mengiringi upacara Pitra Yadnya (Ngaben).

Di desa adat Tegeh, gamelan angklung didukung oleh sebuah organisasi yang bersifat tradisional yang bertujuan sosial.  Sekee angklung Sekar mas nama organisasi yang menaungi kebersamaan sekee angklung ini dengan anggota kurang lebih 50 orang. Sekee ini berada di lingkungan Banjar Tegeh Desa Angseri, Kec Baturiti, Kab Tabanan. Rasa kebersamaan dan memiliki sesama anggota sekhee dengan tujuan membantu tanpa pamrih terhadap masyarakat yang membutuhkan bantuan bila memiliki kepentingan upacara untuk mengupah (menyewa) angklung. Tapi seiring dengan perkembangan modernisasi dan terjadinya pergeseran nilai-nilai dalam kehidupan bermasyarakat, berkembang pula struktur sekaa angklung menjadi lebih professional dan mulai ada perjanjian ataupun sewa menyewa untuk kegiaan pentas dan sebagainya yang tentunya di luar konteks Ngayah.

Di era belakangan ini gamelan angklung mengalami perubahan yang bukan saja dari bentuk fisik instrumentasi, tetapi juga terjadi perkembangan repertoar dan fungsi, di dalam konteks kehidupan sosial masyarakat di Bali. Dan saat ini gamelan angklung telah diangkat untuk ajang sebuah kreativitas, lahan seni artistic bagi seniman-seniman kreatif dengan tampil sebagai angklung kebyar dan angklung dengan kreativitas seni modern. Dan di beberapa daerah di Bali baik organisasi, maupun pemaksan dadya dan sebagainya tidak jarang gamelan angklung juga mengiringi tari-tarian untuk menggantikan gamelan lainnya dalam rangka upacara Dewa Yadnya termasuk juga gamelan kekebyaran yang dewasa ini sedang digemari di Bali.

2. Fungsi Sosial Ekonomi

Sebuah organisasi seperti Sekee Angklung Sekar Mas ini bersifat tradisional dan dibentuk untuk tujuan-tujuan sosial pada awal pendiriannya. Warga yang memiliki kepentingan terhadap jasa penggunaan gamelan ini untuk kepentingan upacara hanya mendapat sekedar minum atau makanan sebagai ungkapan terima kasih serta sesari banten gong atau batu-batu, begitu disebut dan disediakan sekedarnya.

Hal ini merupakan cerminan rasa kebersamaan dan gotong royong serta kerukunan interaksi sosial masyarakat Banjar Tegeh. Namun seiring dengan perkembangan globalisasi dan perubahan budaya akibat arus modernisasi serta system teknologi yang canggih menggeser juga nilai serta fungsi sosial dari Sekee angklung ini. Tuntutan kehidupan bermasyarakat yang semakin kompleks mengubah pula pola perkembangan kesenian sekee angklung ini.  Saat ini untuk kegiatan ngayah tanpa upah seperti dulu sangat jarang didengar lagi, namun dalam kenyataannya kini mulai diberlakukan sistem sewa atau memberi upah untuk sekali pelaksanaan menggunakan gamelan angklung untuk kegiatan yadnya dan lainnya.

3.Fungsi Hiburan

Sekhee  Angklung Sekar Mas selain menampilkan tabuh-tabuh juga menampilkan tarian-tarian. Adapun tari-tarian yang dipentaskan dengan iringan angklung kebyar skhee Sekar Mas antara lain, Tari Barong, Baris tunggal, Jauk manis, Panyembrahma,dan tari Calonarang. Respon masyarakat pendukung dan penikmat seni cukup besar dalam pentas kesenisn tersebut . Hal ini dibuktikan dengan kehadiran penonton yang membludak.

Selain itu ditemukan pula angklung sering digunakan untuk mengiringi wayang kulit di beberapa daerah di Bali. Jadi kesenian angklung sampai saat ini memiliki arti penting baik dalam konteks kebutuhan masyarakat yang menunjang atau berfungsi upacara maupun sosial ekonomi dan hiburan.

2.3  Instrumen Gamelan Angklung

Barungan gambelan angklung kebyar ;

  • 4-5 Pemade
  • 4  pasang kantil
  • Sepasang Suir
  • Empat tungguh reong
  • Sepasang jegogan
  • Sebuah tungguh kempul
  • Sebuah kelenang
  • 8 .Sebuah tawa-tawa
  • Sebuah suling atau lebih
  • Satu tungguh kecek
  • Sepasang kendang lanang,wadon.
  • 6-9 buah ceng-ceng Kopyak

 

Gending-gending angklung Kebyar Sekee Sekar mas antara lain

  • Sekar Harum,
  • Singa Murti,
  • Galang Kangin,
  • Telu Kebyar,
  • Tabuh Telu,
  • Semara Murti

Di era belakangan ini gamelan angklung mengalami perubahan yang saja dari bentuk fisik instrumentasi, tetapi juga terjadi perkembangan repertoar dan fungsi, di dalam konteks kehidupan sosial masyarakatb di Bali. Dan saat ini gamelan angklung telah diangkat untuk ajang sebuah kreativitas, lahan seni artistic bagi seniman-seniman kreatif dengan tampil sebagai angklung kebyar dan angklung dengan kreativitas seni modern.apalagi angklung kebyar kini sering di-paradekan atau bahkan dilombakan dalam ajang bergengsi seperti di  Pesta Kesenian Bali. Antusias masyarakat pendukung dan peminat seni  akan tumpah ruah bila ada pertunjukan angklung apalagi tampil “ mebarung” mengiringi tari lepas yang diiringi angklung kebyar.

2.4. Bentuk Gamelan Angklung

                  Secara fisik pada awalnya angklung menggunakan empat bilah nada, kemudian para senimannya pada perkembangannya menambahkan lagi beberapa bilah untuk mendukung kebutuhan komposisi lagu. Perubahan atas bertambahnya bilah nada dalam gamelan angklung adalah tidak terlepas dari factor terkena imbas dari pengaruh gender wayang dan dan factor kedua adalah karena ada difungsikan untuk mengiringi Joged Bumbung.(Sudirga,Komang, 2004,2).beberapa instrument juga terkadang ditambahkan seperti jublag, kendang gupekan, kempur,kemong,dan gong. Secara umum tungguhan gamelan angklung pada waktu lampau masih berbentuk lelengisan, dan hanya dipernis, tetapi dewasa ini kita lihat sudah diprada sebagaimana gong kebyar

Leave a Reply