OGOH-OGOH APIT LAWANG KREATIFITAS STT EKA BHUANA TUNGGAL BUDHI SEMINYAK KAJA, DESA ADAT SEMINYAK, SERANGKAIAN HARI RAYA NYEPI TAHUN CAKA 1940

Kamis, Mei 3rd, 2018

Masyarakat Bali memiliki sebuah hari raya besar atau hari sepesial, dimana hari itu selalu menjadi buah bibir bagi wisatawan dunia, karena semua kesan modern dapat terhenti walaupun hanya sehari, hari itu dikenal sebagai hari raya Nyepi. Nyepi merupakan hari raya umat Hindu di Bali yang dirayakan setiap satu tahun sekali, yaitu jatuh pada pinanggal apisan sasih kedasa (tanggal 1, bulan ke-10 dalam kalender Bali). Nyepi berasal dari kata sepi yang berarti sunyi atau senyap. Nyepi merupakan perayaan tahun baru Hindu di Bali yang berdasarkan penanggalan atau kalender Caka. Hari raya nyepi pertamakali dilakkukan pada tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, tahun baru Caka di Bali dirayakan dengan cara menyepi. Semua kegiatan ditiadakan termasuk pelayanan umum, kecuali rumah sakit. Tujuan utama hari raya nyepi adalah memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia / microcosmos) dan  Bhuana Agung (alam semesta / macrocosmos). (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Nyepi/). Perayaan hari raya Nyepi memiliki makna untuk memotivasi umat Hindu secara ritual dan spiritual agar alam semesta senantiasa menjadi sumber kehidupan. Sebagaimana kita ketahui, manusia selalu mengambil semberdaya alam untuk mempertahankan hidupnya. Maka dari itu perbuatan mengambil perlu diimbangi dengan perbuatan memberi yaitu berupa persembahaan dengan tulus iklas, dimana dalam konteks hari raya Nyepi perbuatan memberi ini disebut dengan upacara Tawur Kesanga pada hari pengerupukan, yang dilaksanakan 1 hari sebelum hari raya Nyepi (Tilem Kesanga). Tawur kesanga ini juga memiliki makna untuk melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. (http://www.hindu-dharma.org/2013/03/makna-pelaksanaan-hari-raya-nyepi/)

Dengan adanya makna Nyepi tersebut, dimana masyarakat Bali diharapkan mampu melaksanakan Catur Bratha Penyepian, dengan mengutamakan ketulusan hati, namun tak jarang juga saat ini, justru nyepi digunakan sebagai ajang pamer. Masyarakat tidak terlalu menghiraukan aturan Catur Bratha Penyepian, apakah hal tersebut berkaitan dengan hari raya pengerupukan, yang  secara makna dan fungsi dipercayai oleh sebagian besar masyarakat awam di Bali sebagai hari untuk mengusir Bhuta Kala? Apakah masyarakat yang tidak menghiraukan hari raya Nyepi justru terkontaminasi oleh sifat Bhuta Kala? Hal tersebut terkait dengan perayaan hari pengerupukan, dimana masyarakat Bali melakukan kewajiban untuk mengusir Bhuta Kala dengan menggunakan patung yang bersosok besar dan seram. Kini, hal itu menjadi bagian dari tradisi Bali yang dilakoni setiap tahunnya,  tradisi ini kian marak dan selalu menuai perkembangan yang cukup signifikan dari perspektif seni. Tradisi pengerupukan menjadi momentum yang sangat ditunggu oleh masyarakat Bali, terlihat dari antussiasnya dalam menciptakan patung besar atau yang dikenal dengan istilah ogoh-ogoh.

Ogoh-ogoh merupakan karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala mempresentasikan kekuatan (bhu) alam semesta dan (kala) waktu, yang tak terukur dan terbantahkan. Dalam perwujudan patung yang dimaksud, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan, biasanya dalam wujud raksasa atau digambarkan pula dalam wujud makhluk-makhluk yang hidup di mayapada (surga dan neraka). (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ogoh-ogoh/). Jika dikaitkan dalam hari raya Nyepi, ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan hari raya Nyepi. Ogoh-ogoh hanya merupakan kreatifitas dan spontanitas masyarakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara pengerupukan. Ogoh-ogoh menjadi salah satu kesenian faforit dikalangan masyarakat Bali, termasuk di Desa Adat Seminyak khususnya di Banjar Adat Seminyak Kaja, pada tahun 2018 memiliki ide dalam penciptaan ogoh-ogoh yang terinspirasi dari fenomena Gunung Agung degan judul Apit Lawang.

Apit lawang merupakan bagian dari arsitektur bangunan Bali yang ada pada setiap pintu masuk tempat suci di Bali (pura atau pamerajan). Secara etimologi Apit Lawang berasal dari bahasa Bali yang terdiri dari dua suku kata yaitu Apit dan Lawang. Apit berarti berhimpitan dan lawang berarti pintu atau jalan masuk. (Sri Reshi Anandakusuma, 1986 : 10, 105). Apit lawang terletak didepan sebelah kanan dan kiri kori atau candi bentar yang menghimpit jalan masuk kedalam kawasan tempat suci, Berupa pelinggih atau berupa patung raksasa (bedogol) sebagai stana dari Sang Mahakala dan Sang Nandiswara yang merupakan dewanya apit lawang. Fungsi dari apit lawang tersebut adalah sebagai penjaga lawang atau pintu masuk agar tidak ada hal negatif yang dapat masuk kedalam pura sehingga kesucian pura tetap terjaga. Filosofinya adalah setiap umat yang hendak memasuki wilayah pura hendaknya bisa menyucikan pikirannya dan menghindarkan pirikarannya yang negatif sebelum memasuki areal dalam tempat suci. Ide Apit Lawang ini terinspirasi dari cerita Ramayana yang dikutip dari kitab Uttara kanda yang memuat tentang cerita nenek moyang dari Rahwana, dan cerita tentang Rahwana. Sisi menarik dari cerita tersebut adalah, kemiripan fenomena dalam cerita dengan fenomena pada Gunung Agung yang dapat kami kaitkan satu sama lain. Adapun kisah yang kami angkat adalah sebagai berikut :

Suatu hari di khailash yang merupakan kediaman Dewa Siwa, tepat di kaki gunung adalah pintu gerbang menuju kailash. Di sana berada Dewa Indra bersama permaisuri dan para widyadarinya hendak mengunjungi Dewa Siwa, seketika datanglah Rahwana yang angkuh dengan rasa sombong akan kesaktiannya, mencoba mempora-porandakan suasana, bahkan ia berhasil mengangkat kaki gunung kailash, sehingga menimbulkan gempa yang maha dasyat. Melihat kejadian itu, Mahakala (Putra dewa Siva) dan Nandiswara (bhakta setia Dewa Siwa) yang bertugas menjaga gunung khailash tidak dapat tinggal diam, mereka murka akan ulah Rahwana, lalu dengan naik ke puncak dan menekan gunung kailash, Rahwana yang tadinya mengangkat gunung menjadi terjepit dan tidak berdaya. Hancurlah kesombongan Rahwana, merasa tidak berdaya, Rahwana memohon ampun. Karena merasa kasihan, Mahakala dan Nandiswara memberikan pengampunan dengan sebuah kutukan bahwa suatu saat nanti Rahwana akan terbunuh oleh manusia yang memiliki pasukan kera. Melihat kejadian ini, Dewa Siwa menjadi sangat terpuaskan akan pengabdian Mahakala dan Nandiswara dan menjadikan mereka sebagai dewa yang berstana pada Apit Lawang.

Menelisik kisah diatas prihal Rahwana yang mempora-porandakan Gunung Khailash, jika dikaitkan dengan fenomena pada Gunung Agung, apakah kesombongan Rahwana yang seolah menjelma pada sosok manusia, sehingga mengakibatkan terjadinya erupsi dan terguncangnya Gunung Agung?

Seperti yang kita ketahui, belakangan ini telah terjadi fenomena yang mengguncang Pulau Bali yaitu erupsi Gunung Agung. Fenomena tersebut membawa dampak besar dari berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali, seperti tingkat pencemaran udara meningkat, dampak sosial, perekonomian masyarakat yang mulai melesu dan kehidupan pariwisata yang melemah, karena banyak wisatawan yang takut untuk berkunjung ke Bali diakibatkan terjadinya fenomena pada Gunung Agung. Hal tersebut menggugah keingiinan kami untuk berkarya dengan menampilkan kepedulian kami terhadap fenomena pada Gunung Agung yang kami visuallisasikan melalui ogoh-ogoh Apit Lawang.

Ogoh-ogoh Apit Lawang divisualisasikan menggunakan bahan ramah lingkungan dengan tinggi 4,5 meter. Menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan dengan alasan agar dapat meminimalisir terjadinya pencemaran lingkungan dan mengurangi sampah-sampah yang bersifat kimia terutama sampah styrofoam. Selain itu bahan ramah lingkungan juga merupakan kriteria dalam lomba ogoh-ogoh yang dilaksanakan oleh pemerintah Kabupaten Badung. Dalam proses penciptaanya dengan kurun waktu 2 bulan yaitu dari tanggal 9 januari 2018 sampai dengan tanggal 6 maret 2018, kendala yang dialami yaitu fasilitas seadanya dan minimnya jumlah peserta dalam kegiatan tersebut. Tetapi itu tidak menjadi halangan untuk tetap berkreatifitas, karena pada tahun ini kami sangat didukung penuh oleh Desa Adat dan Pemkab Badung dalam hal pendanaan, sehingga persoalan dana mencukupi. Anggaran yang dikeluarkan untuk semua proses dari proses pembuatan ogoh-ogoh, proses latihan hingga pementasan kurang lebih mencapai 20 juta rupiah. Dalam pagelaran atau pementasanya, akan menampilkan sebuah garapan tari baleganjur.

SIMPULAN

Nyepi merupakan hari sepesial yang hanya dimiliki oleh masyarakat Bali dengan ogoh-ogoh sebagai simbolisasi perayaan sebelum hari raya Nyepi. Namun kegiatan yang kami lakukan bukan sekedar untuk melaksanakan perayaan ceremonial tahunan, tetapi kegiatan ini lebih untuk memaknai suatu fenomena dalam sebuah perayaan. Dimana dalam kegiatan ini kami memaknai sebuah fenomena dengan cara menciptakan ogoh-ogoh yang mengacu pada fenomena erupsi Gunung Agung. Dalam kegiatan ini kami menyuarakan tingkat kepedulian kami atas dampak-dampak yang ditimbulkan dari erupsi Gunung Agung yang kami visualisasikan kedalam sebuah karya seni ogoh-ogoh dengan judul Apit Lawang.

 

 

YouTube Preview Image

 

 

PUSTAKAAN

Anandakusuma, Sri Reshi. 1986, Kamus Bahasa Bali, Denpasar, CV Kayumas Agung.

Bandem, I Made, 2013, Gamelan Bali Diatas Panggung Sejarah, Denpasar, BP Stikom Bali.

 

http://www.hindu-dharma.org/2013/03/makna-pelaksanaan-hari-raya-nyepi/

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Nyepi/

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ogoh-ogoh/

UBIT-UBITAN SEBAGAI INDIKATOR PENTING DALAM TEKNIK DASAR PERMAINAN GAMELAN BALI

Kamis, Mei 3rd, 2018

Teknik permainan merupakan aparatus utama dalam gamelan Bali. teknik-teknik itu menjadi indikator pokok dalam mempelajari gaya (style) gamelan Bali. Melalui teknik permainan, dapat dibedakan secara audio satu perangkat gamelan dengan perangkat lain. Salah satu jenis permainan gamelan Bali yang menjadi indikator penting adalah teknik ubit-ubitan.

 

Istilah ubit-ubitan tertera dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) karangan W.J.S. Poerwadarminta yang menyatakan kata ubit-ubitan adalah sebuah kata yang berasal dari daerah tertentu yang berarti menggerak-gerakan barang yang kecil-kecil seperti nyala lampu. Dalam konteks permainan Gamelan Bali, istilah ubit-ubitan dimaksudkan sebagai sebuah tehnik permainan yang dihasilkan dari perpaduan system on-beat (polos) dan off-beat (sangsih). System sejenis itu dalam musik barat disebut dengan istilah interlocking-figuration atau interlocking-parts yaitu figurasi yang saling mengisi dalam lagu. Di beberapa daerah sub budaya Bali menggunakan istilah ubit-ubitan sejajar dengan istilah kotekan, cecandetan, dan torekan. Kotekan merupakan sebuah kata bentukan yang terdiri dari kata “kotek”  yang berarti menjolok atau memukul dengan galah, sedangkan akhiran “an” yang mengikuti, menyatakan hasil perbuatan yang disebut pada bentuk dasar. Tiada beda dengan ubit-ubitan, istilah kotekan juga digunakan untuk menyebutkan sistem permainan gamelan Bali dengan sistem polos dan sangsih. Istilah cecandetan juga dipakai sebagai istilah yang sama dengan ubit-ubitan dalam gamelan Bali. Kata “cecandetan” berasal dari kata “candet-candet” yang dalam bahasa Bali berarti bunyi bersahut-sahutan. Nyandet berarti menyahuti bunyi dengan bunyi, sehinnga menimbulkan irama yang saling bersahut-sahutan ketika bermain gamelan dengan beranalogi pasa sistem polos dan sangsih. Istilah cecandetan mempunyai konotasi tentang rakitan pukulan yang salling mengisi ketukan kosong. Di dalam lontar prakempa system ubit-ubitan, kotekan, dan cecandetan disebut juga sebagai system tetorekan. Kata dasar dari istilah “Tetorekan” adalah “Torek” yang berarti mencoret, dimaksudkan sebagai sebuah permainan gamelan dengan mencoret nada-nada yang dibutuhkan secara silih berganti saling mengisi ketukan yang kosong.

Hampir di setiap jenis barungan gamelan di Bali memiliki ubit-ubitan tersendiri, satu sama lain sangat berbeda wujudnya, sehingga dapat menjadi ciri khas dan menjadi identitas dari masing-masing instrument pada gamelan Bali. Dari sekian banyaknya jenis ubit-ubitan yang terdapat dalam gamelan Bali, didalam tulisan ini akan dijelaskan 14 jenis ubit-ubitan oleh almarhum I Gusti Putu Made Gria dan almarhum I Nyoman Kaler adalah sebagai berikut :

 

BEBARU

Bebaru berasal dari kata “baru” berarti seorang tokoh pengiring pendeta. Awalan “ba” menunjukan suasana ber-iringan. Bebaru ini mengambarkan motif ubit-ubitan yang beriringan, yang mana terdapat bebrapa nada sebagai penuntun dari iringan-iringan tersebut.

ALING-ALING

Arti dari istilah aling-aling adalah penghalang. Kata aling-aling ini dimaksudkan sebagai system polos dan sangsih yang saling menghalangi, menutup semua point-point yang seharusnya tersedia di dalam lagu itu.

KABELIT

Istilah kabelit yang berarti membandel, merupakan sebuah ubit-ubitan yang berpangkal pada sebuah melodi atau tema lagu gegaboran yang memiliki 4 (empat) ketuk dalam satu kempul atau gong.

KABELET

Istilah kabelet berasal dari kata “belet” mendapat awalan “ka” berarti terhalang, kehabisan akal atau tak menemui jalan keluar. Ubitan kabelet berpangkal pada lagu Gegaboran Legong Kraton yang mana lagu-lagu itu dapat diulang-ulang sesuai dengan kebutuhan.

KABELET NGECOG

Istilah “kabelet ngecog” terdiri dari dua kata yaitu “kabelet” yang berarti terhalang dan kata “ngecog” berarti melompat. Istilah ini diberikan sebagai sebuah nama ubit-ubitan yang pada dasarnya terdiri dari dua karakter yaitu karakter terhalang dan melompat.

OLES-OLESAN

Secara harfiah kata “oles-olesan” berarti poles atau gosok. Ubit oles-olesan ini simaksudkan sebagai teknik permainan yang dalam istilah music Barat di sebut sliding. Tehnik oles-olesan atau memoles ini dilaksanakan dengan cara memukul tanpa bertekanan keras berbeda dengan tehnik-tehnik yang lain yang mana setiap pukulan nada ditandai dengan ritme staccato terputus-putus dengan tekanan berat.

UBITAN NYENDOK

Dikaji dari segi istilah bahwa kata “nyendok” berarti mengambil sesuatu dengan sendok. Dalam konteks ubitan nyendok kata ini memilki pula konotasi menyentuh satu nada berturut-turut duakali. Bentuk ubit-ubitan ini cukup sederhana yaitu hanya memiliki satu motif tetapi dapat diulang berkali-kali.

NYALIMPUT

Ubitan “nyalimput” berpangkal pada sebuah gilak, yaitu sebuah ostinato yang terdiri dari 8 ketuk. Secara harfiah kata nyalimput hingga kini belum diketahui artinya. Namun kesan yang ditimbulkan dari istilah nyalimput adalah kaki tersandung akibat terjelat tali. Hal ini membuktikan dengan bentuk ubitan nyalimput yang pada frase terakhir dari sebuah motif ascending.

NYALIMPED

Kata “limped” yang berarti belit dan mendapat awalan “nya” menjadi nyalimped, digunakan sebagai istilah untuk memberikan nama kepada sebuah ubit-ubitan yang cukup berbelit motifnya.

GAGELUT

Secara harfiah kata “gagelut” berarti sebuah istilah yang digunakan untuk memberi nama kepada system polos sangsih yang motif ubitannya sangat ketat.

GAGULET

Ubitan gagulet berpangkal pada sebuah lagu bapang yang terdiri dari 4 ketuk dalam satu gong. Sifat alami dari pada sebuah ostinato sepertiini adalah pengulangan yang terus menerus sebagai pengiring tari.

TULAK WALI

Ubit-ubitan tulak wali yang artinya system polos-sangsih “bolak-balik” mengandung beberapa pengertian yang menarik untuk di perhatikan, bahwa pukulan polos dan sangsih bisa dibolak-balik tempatnya tidak tergantung pada satu peraturan yang mana polos dimainkan oleh isntrumen pengumbang, saja dan sansih dimainkan pada instrument pengisep.

ALING-ALING CUNGUH TEMISI

Ubit-ubitan “aling-aling cunguh temisi” bersumber pada lagu gegaboran yang menggunakan 8 ketuk dalam satu gong. Kata “aling-aling cunguh temisi” berarti “menghalang-halangi sebagai dampak pada hidup siput”.

GEGEJER

Kata gegejer diduga berasal dari kata “gejer” mendapat awalan “ga” berarti gemetar atau bergerak. Istilah ini digunakan untuk memberi nama kepada sebuah ubit-ubitan yang prinsip permainan nada-nadanya dilakukan dengan cara “menggetar-getarkannya”.

 

 

YouTube Preview Image

 

 

PUSTAKAAN :

Bandem, I Made. 2013. Gamelan Bali Diatas Panggung Sejarah. Denpasar, BP STIKOM BALI.

Bandem, I Made. 1987. Ubit-Ubitan Sebuah Teknik Permainan Gamelan Bali. Denpasar, JURNAL SENI BUDAYA.

Materi Mata Kuliah Teknik Dasar Garap, 2017.

MENGENAL LEGONG, PALEGONGAN DAN GAMELAN PALEGONGAN

Kamis, Mei 3rd, 2018

LEGONG & PALEGONGAN

Menurut dugaan, kata “legong” sebagai sebuah kata bahasa Bali (bahasa Nusantara), berasal dari sebuah akar kata “leg”, yag kemudian dikombinasikan dengan kata “gong”. Akar kata “leg” menggambarkan arti gerak yang luwes dan elastis. Sedangkan “gong” mengandung arti gamelan, sehingga dengan keterangan diatas kata “legong” mengandung arti tari dan gamelan. ( Proyek Pengembangan Sarana Wisata Budaya Bali, 1974/1975, hal : 13-14). Menrut pemahaman kami dari pengertian legong diatas, maka dapat kami simpulkan : jika legong mengandung arti sebagai tarian dan gamelanya, maka palegongan memilki arti sebagai konsep, pola-pola atau bentuk dari legong itu sendiri. Fungsi dari tari legong itu sendiri adalah sebagai sarana balih-balihan atau hiburan yang mencerminkan kreasi murni dari para seniman bali.

GAMELAN PELEGONGAN

Gamelan pelegongan merupakan gamelan golongan madya yang berlaraskan pelog lima nada.  Dalam lontar Catur Muni-muni nama dari gamelan palegongan sebenarnya adalah gamelan semara petangian dengan laras pelog 5 nada, konon gamelan ini dikembangkan dari Gamelan Gambuh dan Semara pagulingan. Konsep dari gamelan tersebut adalah palegongan dan fungsinya untuk tari-tari palegongan. Tetapi, hingga saat ini dominan dari masyarakat Bali menyebutkannya dengan gamelan palegongan.

Tabuh-tabuh palegongan dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu tabuh pisan palegongan, tabuh dua palegongan dan tabuh telu palegongan. Tabuh pisan, tabuh dua dan tabuh telu memiliki arti sebagai ukuran panjang dan pendeknya sebuah lagu yang ditentukan oleh aturan-aturan yang baku atau dalam istilah Bali disebut dengan jajar pageh. Aturan-aturan tersebut menentukan panjang dan pendeknya sebuah lagu yang ditandai dengan jumlah dari jatuhnya pukulan kemong dalam satu gong pada bagian pengawak tabuh-tabuh palegongan contohnya, pada tabuh pisan palegongan aturan yang berlaku adalah satu kali pukulan kemong dalam satu gong dibagian pengawaknya, pada tabuh dua palegongan aturan yang berlaku adalah dua kali pukulan kemong dalam satu gong dibagian pengawaknya dan pada tabuh telu palegongan aturan yang berlaku adalah tiga kali pukulan kemong dalam satu gong dibagian pengawaknya. Dari uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa panjang pendeknya sebuah lagu diatur oleh jajar pageh yang ditentukan dengan jumlah jatuhnya pukulan kemong dalam satu gong dibagian pengawak pada setiap tabuh-tabuh palegongan. Maka dari itu, tabuh-tabuh palegongan diberi nama dengan satuan bilangan untuk mengkatagorikan jajar pageh yang berlaku pada tabuh-tabuh tersebut. Jajar pageh dari tabuh-tabuh palegongan bukan hanya ditentukan oleh jumlah dari pukulan kemong dalam satu gongnya tapi juga ditentukan oleh pola-pola kekendangannya, jumlah baris, jumlah pukulan jegog dan lain-lain.

 

PUSTAKAAN

Bandem, I Made. 2013. Gamelan Bali Diatas Panggung Sejarah. Denpasar, BP STIKOM BALI.

Bandem, I Made. 1983. Ensiklopedia Tari Bali. Denpasar, Akademi Seni Tari (ASTI) Denpasar.

Proyek Pengembangan Sarana Wisata Budaya Bali, Perkembangan Legong Keraton Sebagai Seni Pertunjukan, Bali, 1974/1975

INFORMAN

I GUSTI NGURAH PADANG, S.Skar

I NYOMAN WINDHA, S.Skar, MA

I WAYAN GEDE ARSANA, S.Sn

DRAMA TARI GAMBUH

Kamis, Mei 3rd, 2018

Bentuk drama tari tertua di Bali yang muncul pada abad ke XIV-XV. Sebagai bahasa Nusantara, kata “gambuh” terdapat hampir disetiap kepulauan di Indonesia seperti Jawa, Bali, Sunda, Sulawesi, Lombok, Madura dimana disetiap daerahnya memiliki arti yang berbeda seperti :

 

 

Jawa    ;  sejenis kidung (vocal ) dan juga nama seekor binatang bebalang.

Sunda  :  sebuah hiasan kepala yang disebut “tekes” yang dipakai saat pertunjukkan topeng Sunda yang menggunakan lakon Panji.

Bali     :  sebuah cerita drama tari yang menamai kalok Panji (malat). Yang beretika pada zaman kerajaan.

 

Dalam tari pegambuhan mempergunakkan gerakkan alam seperti gerakan binatang yaitu ngeraja singa, gelatik nuut papah, buta nawa sari, kidang rebut muring, dan lain sebagainya.

Kepercayaan masyarakat terhadap animisme dan totenisme menyebabkan tarian mereka memiliki nilai magis. Contohnya tari Sang Hyang (tari kerauhan) yang diiringi cak. Pada zaman feudal abad VIII-XX, kebudayaan Bali dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu di Jawa dan berkembang dengan sangat lamban dimulai dari abad ke VIII. Adapun bukti-bukti peninggalan purba yang dijumpai di Tirtha Empul ( Tampaksiring ) tertanda 962M. setelah itu terjadi perkawinan anatara Raja Udayana dengan Mahendradata di Jawa Timur yang melahirkan putra bernama Airlangga yang menjadi Raja Jawa Timur. Semenjak itu hubungan Jawa dan Bali menjadi erat dan lebih dipererat lagi oleh Patih Gajah Mada ( abad XIV ) sewaktu menaklukan Bali bersama Majapahit.

Demikian perkembangan sementara tentang munculnya tari gambuh di Bali. Kendati masih ada unsur-unsur yang menyebutkan bahwa Gambuh sudah berada di daerah Bali pada pemerintahan Raja Udayana.

Drama tari Gambuh mengambil lakon cerita Panji yang mengisahkan kehidupan, peperangan dari raja atau kaum bangsawan di Jenggala, Kediri, Gegelang, yang juga disebut Matahari dan Bulan. Di Bali cerita Panji dikenal dengan nama Malat dengan Panji Inu Kertapati sebagai lakon utama. Gambuh dalam cerita Panji, mendapat pengaruh Pra-Hindu yang terjadi pada abad ke XIV di jawa Timur. Damar Wulan sebagai kesatrya ( pahlawan ) menyamar sebagai seorang pelayan dan berhasil memenangkan sayembara yang diadakan oleh Ratu Kencanawungu dari Majapahit. Dimana Damarwulan berhasil membunuh Manak Jingga dari Blangbangan dan dia mendapatkan hadiah sebagai suami Ratu Kencana Wungu.

 

Gambuh dipertunjukkan pada upacara Odalan seperti Panca Wali Krama Ekadasa Ludra, Karya Pedanan, Galungan dan Kuningan. Tari ini juga dipentaskan di kraton-keraton pada upacara perkawinan, palebon, dan upacara lainnya yang tercakup dalam upacara Panca Yadnya. Pertunjukkan ini berlangsung dari satu hingga 6 jam terus menerus sampai beberapa hari. Pementasan dilakukan pada siang hari kecuali pada akhir-akhir ini gambuh dipentaskan malam hari sebagai hiburan para wisatawan.

 

Pelaku-pelaku

Gambuh dianggap sebagai dramatari yang terutama di Bali, masih mempergunakan title dan nama-nama kaum bangsawan dari kerajaan Jawa Timur pada abad XIV. Yang dimana nama-nama tersebut masih terdapat pada relief candi Jawa Timur. Adapun nama namanya adalah Demang Sampigontak, Tumenggung, Macan Mengelur, Patih Rangga Toh Jiwa, Arya Kebun Anggun-Anggun, Ken Bayan, Ken Sangit, Ken Prabangsa, Kebo Tanmundur, dan sebagainya. Salah satu batu tertulis dijumpai oleh Dr. Stuterhein berangka tahun 1335, menunjukkan dimana Panji bersama empat panakawannya, Punta, Jerudeh, Prasanta dan Kartala sedang duduk ditengah hutan yang sangat lebat. Bukti lain ditemukan oleh Dr. Cohen Stuart, yaitu sebuah relief yang mengurai tentang pertemuan Panji dengan Martalangu, mereka duduk berpacaran diikuti oleh panakawannya.

 

Pada awal mulanya tari ini ditarikan oleh penari laki-laki dikarenakan para wanita pada masa itu dilarang menari dengan beranggapan mengurangi kehormatan mereka sebagai wanita teristimewa bagi kaum raja. Penari dan penabuh gambuh merupakan orang-orang desa, yang hidup sebagai petani, pemahat, pelukis, pedagang dan lainnya. Mereka juga harus memiliki pengetahuan yang luas tentang filosofi, sejarah, literature, folklore dan mitologi. Mereka harus pasih berbahasa kawi ( jawa kuno ) yang selalu dipakai dalam dialog tari Gambuh kecuali panakawan yang boleh berbahasa bali sebagai penerjemah kepada penonton.

 

 

Pertunjukkan gambuh yang lengkap mempergunakan 25 – 40 penari laki-laki dan wanita. Di desa pedungan dan bunutan, dijumpai lebih dari 100 buah gelungan (hiasan kepal). Pada umumnya Gambuh memakai tokoh-tokoh sebagai berikut :

Satu orang     :  Condong (seorang pelayan wanita )

Empat orang  :  Kakan-kakan ( wanita yang ikut dengan condong mengiringi putri )

Satu orang     :  Putri ( raja muda putri )

Delapan orang :  Kade-kadean (keluarga Raja, utusan dan tentara yang disebut Arya arya)

Dua orang     :  Demang dan Temenggung ( bupati atau penguasa satu daerah didalam kerajaan)

Satu orang     :  Panji ( raja muda )

Patih Tua (pengiring/penasehat panji yang disebut Rangga)

Satu orang     :  Prabangsa ( keluarga raja )

Empat orang  :  Potet ( balatentara dari Prabangsa )

Satu orang     :  Prabu Keras ( raja keras )

Empat orang  :  Penasar  (pelayan laki-laki raja disebut semar, togog, jurudeh, dan punta)

 

Busana.

Busana adalah salah satu unsur yang sangat penting dalam dramatari Gambuh. Busana juga memeberi akibat penting terhadap gerak tertentu , misalnya :

Nyambir     :     gerakkan pada waktu penari memainkan saputnya (kain)

Nambdab Gelung     :     penari meneraba gelungnya atau mahkotanya dengan satu atau dua tangannya.

Pakaian dramatari gambuh dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok putra dan putri. Adapun busana yang termasuk busana laki-laki, yaitu :

saput (kain yang dipulas dengan prada atau cat emas), kancut (kain putih panjang yang diikat dibadan dibawah lutut), jaler (celana panjang), bapang, baju (jiket), setagen (ikat pinggang yang panjang), keris, setewel (penutup betis), gelang kana (perhiasan lengan dan pergelangan tangan), angkep bullet (penutup bullet), awiran (dua helai kain sebagai penghias keris), tutup pala ( penutup bahu), sabuk kancing (ikat pinggang) dan gelungan (hiasan kepala yang bermacam jenisnya).

Adapun busana yang tergolong busana putri, yaitu :

Kamben prada (kain yang dipakai pada bagian bawah penuh), setagen (ikat pinggang yang panjang), sabuk prada (ikat pinggang yang panjang dipakai setelah setagen), lamak (apron penutup bagain muka dari penari dan digantung pada dada), ampok-ampok (hiasan pinggang), gelang kana (hiasan lengan dan pergelangan tangan), subeng (hiasan telinga) dan gelung (hiasan kepala yang bermacam-macam).

 

Iringan

Music yang mengiringi dramatari gambuh disebut Gamelan gambuh. Jenis-jenis gending gamelan gambuh terdengar pada gamelan lainnya seperti : gamelan Semarpegulingan, gamelan Palegongan, gamelan Bebarongan, gamelan Penyalonarangan, dan lain sebagainya. Gendingan gambuh dimainkan secara terus-menerus dan setiap tarian memiliki gending yang sesuai dengan tokoh masing-masing. Ditengah penabuh duduk seorang juru Tandak ( penyanyi pria tunggal yang fungsinya menggrisbawahi dramatari dalam pegambuhan ). Bahasa yang dipakai oleh juru tandak adalah bahasa Kawi dan kadang-kadang diterjemahkan kedalam bahasa Bali agar dimengerti penonton. Di Bali Utara tandak ini dipetik dari cerita Malat, sedangkan di Bali Selatan teksnya sangat bebas dan tidak jarang diambil dari cerita Mahabarata dan Ramayana. Seringkali juga juru tandak itu berfungsi sebagai creator terhadap gamelan dan penari jika ada sesuatu yang salah dengan mudah dibetulkan melalui tandakannya (nyanyiannya). Instrumen gamelan Gambuh terdiri dari :

4 buah suling besar ( identik dengan suling Gambuh )

2 buah rebab

2 buah kendang krumpungan

1 buah klenang

1 buah kempul

1 buah kajar

1 pasang rincik

2 tungguh kenyir

2 pasang gumanak

1 gentorang

 

Mengenai lagu yang dimainkan dalam drama tari Gambuh dapat digolongkan menjadi dua yaitu gending alus ( untuk mengiringi tokoh manis ), dan gending keras ( mengiringi tokoh keras atau gagah ).

 

PUSTAKAAN :

Bandem, I Made, 1983, Ensiklopedi Tari Bali, Denpasar, Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar Bali.

FENOMENA POPULER DALAM MUSIK EKSPERIMENTAL

Kamis, Mei 3rd, 2018

Kebutuhan manusia akan seni kian hari kian meninggkat, hal tersebut terlihat dari berbagai upaya dalam menginovasi kesenian, salah satunya adalah musik. Berbagai musik baru diciptakan dan hadir seolah meramaikan pergulatan kesenian. Penciptaan musik baru merupakan gerakan pembaharuan dengan berbagai cara seperti memberi interpretasi, mencoba melepaskan diri, hingga melakukan perombakan terhadap konsep dan gagasan musik tradisional atau musik yang sudah ada. Berbagai cara pembaharuan tersebut diatas merupakan sebuah percobaan yang bersistem atau berencana, bisa juga disebut dengan istilah ekperimen atau musik ekperimen.

 

YouTube Preview Image

Menurut Arya Sugiartha, tahap eksperimen merupakan sebuah percobaan dengan cara berorientasi pada eksplorasi secara bebas baik pada aspek-aspek fisik, musikalitas maupun gagasan. Pada tahap ini biasanya dilakukan perubahan secara radikal mulai dari cara pandang, cita rasa, dan karakteristik yang sebelumnya dikurung oleh sesuatu yang terpola, standar, seragam dan bersifat sentral. Sebuah eksperimen sifatnya lebih personal atau individu, tampil dengan ungkapan yang lebih bebas, terkesan aneh, nakal, bahkan urakan. Media ungkapnya biasanya mulai dari gamelan, instrument campuran, hinnga benda-benda non gamelan. (ppt, 2018 : 10).

Dalam tahap eksperimen, bunyi bukan menjadi faktor utama dalam mengimplementasikan sebuah karya, namun ada beberapa aspek penting yang menjadi indikator terciptanya musik eksperimental seperti kesadaran, prilaku, lingkungan dan klasifikasi sosial. Keempat indikator tersebut memiliki perannya masing-masing.

Kesadaran merupakan sebuah kontak batin (psikis) yang dimiliki setiap manusia terhadap fenomena atau isu yang ada dilingkungannya sehingga dapat menyebabkan perhatiannya terpusat pada fenomena atau isu tersebut.

YouTube Preview Image

Vidio tersebut merupakan contoh dari sebuah fenomena dan kesadaran. Fenomena populer yang dimaksud yaitu aktifitas manusia dalam kesehariannya. penulis menyadari bahwa ada sebuah ritme dan dinamika yang timbul dari aktifitas tersebut sehingga menyebabkan perhatiannya terpusat pada hal tersebut dan ingin mengangkatnya kedalam sebuah karya music eksperimental. Hal itu lah yang penulis maksudkan dari sebuah kesadaran.

Prilaku yaitu bagaimana kita dalam menyikapi atau sejauhmana prilaku kita dalam mengekspresikan fenomena atau isu yang kita sadari.

Lingkungan yaitu sebuah wilayah penting dalam kemunculan isu-isu yang menjadi faktor dalam menentukan ide atau gagasan.

Klasifikasi sosial merupakan golongan tertentu masyarakat, apakah termasuk golongan atas, menengah atau bawah.

Merujuk pemahaman diatas, lahirlah sebuah karya musik eksperimental yang menggunakan medium sepeda motor sebagai objeknya.

YouTube Preview Image

Karya ini menjelaskan, dari berbagai jenis motor menentukan karakter suaranya masing-masing. Setiap jenis motor memiliki warna dan karakter suaranya masing-masing yang dihasilkan diluar permainan si pelaku. Ketika sipelaku memainkan suara motor tersebut sesuai dengan suasana hati yang sedang dirasakan dengan menekan ekpresi dan emosi, maka akan menghasilkan sebuah ritme dan dinamika dari permainan itu yang akan membentuk sebuah musik.

 

INFORMAN

Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.Skar., M.Hum