RSS Feed
Nov 7

Biodata&ProfilSingkat I Ketut Subawa

Posted on Rabu, November 7, 2012 in Tulisan

 

Catatan :
Lahir :Tahun 1972,
Alamat : Ds/Br. Guming, penarungan, Mengwi, Badung,.
KegiatanLain :Belajar Seni Karawitan mulai tahun 1980 padagurunya: I Nyoman Doble, yang tiada lain adalah ayahnya sendiri
Mulai tenar sebagai penabuh pada tahun 1990 dan sudah pernah pentas di Lombok, dan bisa di bilang sudah pernah pentas di seluruh Bali . Membina seni tabuh di Marge tbanan, Br.Guming penarungan, Mengwitani, Pernah mengubah lagu SemaraPegulingan, tabuh-tabuh petegak dan tari-tarian.

Ketut Subawe sang penabuh dari penarungan, selalu mendatangkan rahasia ingintahu. Salah satu seniman tabuh yang banyak berguru secara langsung pada empu seni bali ini, memang terkesan low profile. Padahal, subawe bukanlah sembarang seniman tabu
Subawe adalah seniman alam,adapun bidang seni yang dikuasainya antara lain seni wirama,tabuh,dan beragam seni lainnya
Bapak dari 3 anak ini disamping sebagai seniman pernah menjadi sopir di Bali Tour.
Dan Ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Seniman di Bali memang umumnya menilai, seni itu bukan lowongan pekerjaan. Begitupun bagi Subawe, sang penabuh, yang lahir dari keluarga yang menggariskan darah seni mengalir dalam urutan tubuhnya, yang akhirnya membawa Subawe mengetahui arti dari kesenangan.
Hal itu lantaran, Subwe memang metaksu dalam hal menabuh, didukung pula dengan kepiawaian menabuh pisan, telu, gegilak, juga Subawe dikenal jago menabuh bermain instrument trompong. Disamping asyik melakukan pemenuhan proses kreatif pada dirinya, Subawe juga melakukan pembinaan.
Ditahun 1995 Subawe mendapatkan penghargaan Wija Kusuma dari pemerintah Kabupaten Tingkat II Badung. Tetapi yang paling penting, catatan bagi Subawe adalah inhtisari dari nasib perjalanan seniman tabuh, yang bila dibandingkan dengan seniman tari, tentulah diposisikan sebagai orang di belakang layar.Subawe tak memperdulikan hal itu.Maka Subawe melangkapi wajah lakon hidup seni.

Nov 6

Sejarah Perkembangan Gong Kebyar Di Bali

Posted on Selasa, November 6, 2012 in Tak Berkategori

Satu peristiwa histories penting dalam kehidupan masyarakat Bali telah terjadi yaitu jatuhnya Bali ketangan penjajah Belanda ditandai takluknya kerajaan Klungkung sebagai kerajaan terakhir pada tahun 1908. sejak itu pemerintah belanda mulai mengembangkan kekuasaannya dengan sistem pemerintahan barat sesuai dengan kepentingan colonial. Bali yang ketika itu terdiri atas delapan kerajaan , oleh belanda dijadikan dua bagian, Bali Utara dibawah pengawasan seorang residen yang berkedudukan di Singaraja dan Bali Selatan dibawah pengawasan seorang asisten residen yang berkedudukan di Denpasar. Bali Utara dibagi menjadi Buleleng dan Jembrana, sedangkan bali selatan terdiri atas Tabanan, badung, Gianyar, Karangasem, dan Klungkung yang membawahi Bangle Dan Nusa Penida.

Berkurangnya kekuasaan raja-raja Bali itu mengakibatkan berkurangnya perhatiannya puri ( keratin) terhadap kelangsunga hidup seni perjuntukan klasik – Gambuh, wayang wong, topeng, legong, gong gede, semar pangulingan, dan lain-lain-yang pernah mencapai masa keemasan pada zaman kejayaan raja-raja di Bali seperti Watu enggong (1460-1550), dalem bekung(1550-1580), dalem tahan dewa agung jambe (1845-1908). Oleh karena itu sangat logis jika kualitas dan kuantitas penyajian seni-seni klasik ketika itu menjadi menurun. Keadaan seperti itu sangat berbeda di Jawa yang justru karena berkurangnya kekuasaan politiknya, para raja berusaha mengekstrapolasikan kekuasaan lewat pelestarian dan perkemdangan buday, tidak mengherankan kesenian keraton justru berkembang dengan baik. Untung seni perjunjukan bali masih tetap dibutuhkan sebagai salah satu sarana upacara agama dan adapt, sehingga kelangsungan hidupnya masih dapat dipertahankan atas pangayoman Pura (agama) , banjar ( desa adat), dan sekeha (organisasi) kesenian. Dari sisi ini tampak pemerintah colonial Belanda sangat banyak merugikan rakyat Indonesia termasuk rakyat Bali. Dalam suasana zaman seperti itu, dalam bidng seni tumbuh pula pembaharuan-pembaharuan yang juga  merupakan aktulisasi kesadaran nasional dan rasa demokratis yaitu ansambel Gamelan Gong Kebyar, sebuah bentuk seni yang mengunakan susunan instrumen, pola garap gendhing, pola penyajian teknik tabuhan instrumen dan karakter baru, sehingha tepat sekali gamelan dimasukan kedalam kelompok gamelan baru. Pemberian nama “Kebyar” terhadap karya seni tersebut tepat, karena perangkat gamelan baru itu betul mampu mengekspresikan karaktek kebyar, yaitu keras, lincah, cepat, agresif, mengejutkan, muda, enerjik, gelisah, semangat, optimis, kejasmanian, ambisius, dab penuh emosional.

Gamelan baru pelog pancanada ini pada awalnya merupakan sebuah pengembangan dari asmbel Gamelan Gong Gede, sebuah orkes agung gaya kuno yang sangat diperlukan pada hari-hari besar atau upacara odalan di pura. Gamelan tradisional ini merupakan sebuah asambel gamelan yang paling lengkap di Bali yaitu denga banyak menggunakan instrument yang dimainkan kurang lebih enam puluh orang penabuh. Semua itu dapat disebutkan pada lontar Aji Gurnita. Dalam perkembangannya menjadi Gamelan Kebyar ada beberapa instrument Gamelan Gong Gede yang dihilangkan, dikurangi, diubah bentuknya, dan ada pula yang tidak mengalami perubahan. Instrument yang dihilangkan terdiri dari : bende (bandede), ponggang, kempyung, gumanak, dan gentorag yang dikurangi dua buah, jublag dua buah, panyacah dua buah dan cengceng (kecek) beberapa buah; yang diubah: gangsa ageng diubah menjadi gender (gangsa ugal), gangsa manengah menjadi gangsa pamade, gangsa alit menjadi kepluk (kethuk/kajar), dan kemong dhang menjadi kemong (kenong) Di antara sekian banyak instrumen yang diubah yang sangat menonjol mengalami perubahan adalah instrument gangsa jongkok. Dalam Gong Gede setiap tungguh (jawa: ricikan/ satuan) instrument ini menggunakan lima buah nada: dhang (jawa: nem), dhing (ji), dhong (ro), dheng (lu) dan dhung (mo). Akan tetapi dalam Gamelan Kebyar, pada awalnya instrument gangsa pernah menggunakan tujuh buah nada ditambah dhang alit dan dhing alit, kemudian berkembang menjadi delapan bilah nada yaitu; dhung, dhang, dhing, dhong, dheng alit, dhang alit dan dhing alit; sembilan bilah ditambah nada dheng (sebelum nada dhung); dan selanjutnya sampai sekarang berubah menjadi berbilah sepuluh dengan urutan nada: dhong, dheng, dhung, dhang, dhing, dhong alit, dheng alit, dhung alit dhang alit, dhing alit.

Jenis instrument Gamelan Gong Gede yang tidak mengalami perubahan terdiri dari: gong, kempul (kempur), kendang, rebab, suling, trompong ageng (trompong), dan tropong barangan (barangan/ reyong). Dengan demikian jenis instrument yang digunakan dalam Gamelan Kebyar pada umumnya di Bali terdiri dari instrument melodis: trompong satu tungguh, reyong satu tungguh, gangsa ugal (giying) dua tunguh (ngumbangisep), gangsa pamade/pangenter dua tungguh (ngumbangisep), gangsa kantil (kanthilan), empat tungguh (ngumbangisep) panyacah,dua tungguh (ngumbangisep), rebab sebuah, suling satu sampai empat buah; instrument ritmis: kendang dua buah lanang dan wadon, cenceng satu atau dua stel, dan kajar (kethuk) satu buah; dan instrument kolotomik: kenong (kemong) satu buah, kempul (kempur) satu buah, dan gong dua buah lanang wadon. Secara pasti kapan terjadi perubahan dari Gamelan Gong Gede menjadi Gamelan Kebyar pada saat ini belum diketahui. Namun demikian ada satu informasi Anak Agung Gede Gusti Jelantik (Bupati Buleleng) yang dituturkan kepada Colin McPchee pada tahun 1937 yang menyebutkan bahwa Gamelan Kebyar pertama kali didengar dikalangan masyarakat umum pada bulan Desenber 1915 ketika tokoh gamelan di Bali Utara menyelenggarakan kompetisi Gamelan Kebyar di Jagaraga Buleleng. Data ini mendekati apa yang dikatakan Made Bandem bahwa Gamelan Kebyar telah terwujud di Bali pada tahun 1914. ini berarti masyarakat bali Slatan, meraka lebih dahulu terbuka terhadap pengaruh-pengaruh modern, khususnya setelah Bali sepenuhnya dapat dikuasai pemerintah Belanda.

Kehadiran Gemelan Kebyar yang sangat ekspresif dan dinamis itu dapat sambutan hangat sebagin besar nasyarakat Bali sehingga gamelan itu cepat berkembang keberbagai daerah Bali Selatan. Hal ini terjadi bukan karena gamelan mampu mengekspresikan suatu sesuai jiwa zamannya, melainkan juga karena mempunyai sifat fleksibel, luwes, dan praktis. Satu keunikan yang menonjol pada gamelan baru itu adalah terangkatnya penyajian Gendhing Kebyar sebagai sajian. Sebuah sajian yang disajikan bukan untuk lain kecuali untuk keperluan konser. Sebagai alat bunyi-bunyian, Gamelan Kebyar tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat Bali. Ia biasanya digunakan untuk mengiringi berbagai macam upacara agama dan adat seperti Dewa Yadnya (upacara korban suci yang ditujukan pada Tuhan), pitra yadnya (kpada leluhur) dan butha yadnya (korban suci yang ditujukan kapada binatang, tumbuh-tumbuhan, roh halus, dan makluk halus lainnya). Sama seperti gamelan-gamelan lainnya, Gong Kebyar dapat menggugah parasaan indah seseorang dan memberi kepuasan kepada jiwa para penikmat dan para pemainnya. Ia juga bias digunakan sebagai media komonikasi, sebagai hiburan, sebagi terapi, sebagai penggugah respon fisik masyarakat, dan dalam kaitannya ini dapat berperan untuk menumbuhkan intregitas masyarakat. Disamping itu juga merupakan karya seni, Gamelan Kebyar digunakan pula sebagai iringan Tari Kebyar, Tari baris, serta Drama Gong. Dari uraian itu jelas bahwa Gamelan Kebyar sangat dibutuhkan masyarakat Bali baik digunakan sebagai sarana upacara, sebagai hiburan pribadi, maupun sebagai tontonan. Perkembangan Gamelan Kebyar berjalan dengan cepat dari kawasan daerah Bali Utara menyabar luas ke berbagai desa di Bali Selatan. Di daerah Tabanan kecuali Bantiran pengembangan Gamelan Kebyar berawal dari diselenggarakan upacara Palebon (pembakaran jenasah) di puri Subania Tabanan pada tahun 1919.

Atas usul dari seniman puri, upacara agung itu dimeriahkan dengan pertunjukan Gamelan Kebyar dari desa Buntiran, suatu desa wilayah Tabanan yang terletak diperbatasan antara Kabupaten Tabanan dengan Kabupaten Buleleng. Kehebatan penampilan sekeha gong Buntiran sangat memukau para pengamat sehingga mampu merangsang para seniman Tabanan untuk untuk mempelajari gendhing Tabanan asal Bali Utara itu. Akhirnya sejak peristiwa itu (1919) beberapa sekeha gong yang dipelopori sekeha gong Pangkung segera mendatangkan pelatih Gending (panguruk) dari Bali Utara diantaranya I Wayan Sembah (dari Kedis) I Tatra (Patemon), I Mukia (Nagasepa), dan I Sudiana (Nagasepa). Gendhing-gendhing Kebyar yang dibawa dari Bali itu pada awalnya sebagian besar berbentuk sederhana tabuh telu, gagaboran, dan babapangan, sejak tahun 1920-an I Wayan Sukra dan kawan-kawan mulai menggabungkan Gending Kebyar yang dating dari Bali Utara dengan Gendhing Palegongan yang telah lama digelutinya, sehingga lahirnya Gendhing Kebyar yang kompleks seperti diciptakan Sukra antara lain: Gendhing Kebyar Sulendra, Gendhing Gineman Gagenderan, dan Gendhing Tabuh Tegak Gagambangan. Ditahun yang sama (1920) ia berhasil pula menciptakan beberapa buah gendhing tari (gendhing igel), satu diantaranya yang sangat terkenal hingga kini adalah Gendhing Tari Kebyar Duduk Trompong. Koreografer tari sangat popular ini adalah I Ketut Maria (I Mario), seorang seniman tari yang sangat terkenal dari Tabanan. Hal ini menunjukan bahwa tahun 1920-an nama pencipta gendhing dan tari (kebyar)secara individual mulai ditampilkan. Gede manik, seorang pengendang yang sangat terkenal dari Jagaraga Buleleng pada tahun1932 mulai memasukan gendhing gender wayang (pagenderan) seperti gendhing merak ngilo, guak macok, sekar gendot, dan lain-lain kedalam gamelan kebyar.

Di tahun 1935 ia berhasil pula menciptakan sebuah tari dan gendhing trumajaya yang sangt popular sampai sekarang. Untuk garapan ini manik mengakui dengan jujur denganpola-pola gerk tari yang dipakai dalam tari trumajaya merupakan pengembangan dekat tari pola-pola gerak yng terdapat pada tari kebyar legong. Di dempasar (Kuta) Inyoman kaler, seorang seniman karawitan sangat terkenal di bali sejak tahun 1935 mulai berusaha mengadakan pembaharuan gendhing dan tari kebyar dengan menciptakan beberapa repertoar tari serta tabuh, tiga diantaranya yang masih idup hingga sekarang yaitu tari dan gendhing margapati, panji semirang, dan wiratana – ketiganya dicipta padatahun1942. Mulai akhir bulan Februari 1942 sampai Indonesia mencapai kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 Bali berada di tangan kekuasaan Jepang. Pada masa itu penerintahan Jepang, Bali dipandang sebagai tampat peristirahatan dan hiburan, sehingga kesenian seperti Legong, Arja, Topeng, dan lain-lain hidup seperti biasa. Sementara seni Kebyar tidak mengalami perubahan, hingga tahun 1951 belum muncul lagi karya Kebyar yang popular. Ini bisa dimaklumi karena di tahun-tahun itu, Bali masih diliputi suasana memprihatinkan, karena NICA ingin merebut kembali daerah Bali dari tangan Pemerintahan Indonesia. Dalam suasana demikian pada tahun 1952 I Mario dan I Sukra kembali menciptakan sebuah tari dan gendhing Oleg Tabulilingan yang sangat terkenal hingga sekarang, sementara I Wayan dan INyoman berhasil mewujudkan karya tari dan gendhing Tenun pada tahun 1957. Dalam perkembangannya, Gendhing Kebyar yang awal berkembangnya berasal dari Bali Utara sedikit banyak mengalami perkembangan masyarakat pendukungnya sehingga muncul Gendhing Kebyar gaya kedaerahan seperti gaya Jagaraga, Bantiran, Pangkung, Belaluan, Peliataan, dan lain-lain. Namun secara garis besar gaya-gaya itu dapat dibedakan menjadi dua: gaya Bali Utara dan gaya Bali Selatan.

Corraubias memberi penekanan dari masaing-masing gaya ini bahwa Gendhing Kebyar gaya Bali Utara lebih menekan pada tehnik yang keras, sinkopasi, dan perubahan dinamis secara cepat. Perbedaan penekanan ini, sama seperti kehadiran gendhing gaya Yogyakarta dan gaya Surakarta di jawa tengah yang oleh R. Arderson Sutton dikatakan bahwa aktivitas musical gaya Yogyakarta terfokus pada permainan instrument yang keras (saron), sedangkan Surakarta lebih menfokuskan garapan pada vocal dan instrument lembut (gender, rebab).

Melihat perkembangan gamelan kebyar dari tahun 1914 sampai 1957 tampak bahwa gamelan kebyar sangat disenangi masyarakat bali meskipun embat gamelannya belum begitu ideal. Bentuk-benuk gendhing petegak masih terbatas pada pangalang, jajineman, dan kakebayaran, dan gendhing tari belum ada yang menggunakan gerongan.

Mei 22

Posted on Selasa, Mei 22, 2012 in Tak Berkategori

http://www.youtube.com/watch?v=nrNkfm5-yk

Identitas video

Judul                     : Delod brawah

Event                    : Pesta Kesenian Bali thun 2004

Pembina              : I Wayan Widia S.skar

Penabuh              : Sekhe Gonk candra Kumara Br Baler Pasar,Blahkiuh

 

 

Komentar:

Dari penataan susunan gambelan yang saya lihat dalam video tersebut, masih menaati aturan-aturan atau hampir sama penataannya dengan para duta-duta yang lain yang mengikuti festival dalam Pesta Kesenian Bali.

Dari segi sound system suara jegog dan gong kurang keras karena permainan melodi sangat banyak di tabuh ini dan sanget memerlukan sound system yang sangat bagus.

Dari segi gambar kurang jelas mungkin pada saat pengambilan gambar si perekam tangannya kurang stabil.

 

Sekian komentar dari saya,

trimakasih

 

Apr 9

PERKEMBANGAN GONG KEBYAR DI BALI

Posted on Senin, April 9, 2012 in Tak Berkategori
  • Historis Gamelan Gong Kebyar

Satu peristiwa histories penting dalam kehidupan masyarakat Bali telah terjadi yaitu jatuhnya Bali ketangan penjajah Belanda ditandai takluknya kerajaan Klungkung sebagai kerajaan terakhir pada tahun 1908. sejak itu pemerintah belanda mulai mengembangkan kekuasaannya dengan sistem pemerintahan barat sesuai dengan kepentingan colonial. Bali yang ketika itu terdiri atas delapan kerajaan , oleh belanda dijadikan dua bagian, Bali Utara dibawah pengawasan seorang residen yang berkedudukan di Singaraja dan Bali Selatan dibawah pengawasan seorang asisten residen yang berkedudukan di Denpasar. Bali Utara dibagi menjadi Buleleng dan Jembrana, sedangkan bali selatan terdiri atas Tabanan, badung, Gianyar, Karangasem, dan Klungkung yang membawahi Bangle Dan Nusa Penida.

Berkurangnya kekuasaan raja-raja Bali itu mengakibatkan berkurangnya perhatiannya puri ( keratin) terhadap kelangsunga hidup seni perjuntukan klasik – Gambuh, wayang wong, topeng, legong, gong gede, semar pangulingan, dan lain-lain-yang pernah mencapai masa keemasan pada zaman kejayaan raja-raja di Bali seperti Watu enggong (1460-1550), dalem bekung(1550-1580), dalem tahan dewa agung jambe (1845-1908). Oleh karena itu sangat logis jika kualitas dan kuantitas penyajian seni-seni klasik ketika itu menjadi menurun. Keadaan seperti itu sangat berbeda di Jawa yang justru karena berkurangnya kekuasaan politiknya, para raja berusaha mengekstrapolasikan kekuasaan lewat pelestarian dan perkemdangan buday, tidak mengherankan kesenian keraton justru berkembang dengan baik. Untung seni perjunjukan bali masih tetap dibutuhkan sebagai salah satu sarana upacara agama dan adapt, sehingga kelangsungan hidupnya masih dapat dipertahankan atas pangayoman Pura (agama) , banjar ( desa adat), dan sekeha (organisasi) kesenian. Dari sisi ini tampak pemerintah colonial Belanda sangat banyak merugikan rakyat Indonesia termasuk rakyat Bali. Dalam suasana zaman seperti itu, dalam bidng seni tumbuh pula pembaharuan-pembaharuan yang juga  merupakan aktulisasi kesadaran nasional dan rasa demokratis yaitu ansambel Gamelan Gong Kebyar, sebuah bentuk seni yang mengunakan susunan instrumen, pola garap gendhing, pola penyajian teknik tabuhan instrumen dan karakter baru, sehingha tepat sekali gamelan dimasukan kedalam kelompok gamelan baru. Pemberian nama “Kebyar” terhadap karya seni tersebut tepat, karena perangkat gamelan baru itu betul mampu mengekspresikan karaktek kebyar, yaitu keras, lincah, cepat, agresif, mengejutkan, muda, enerjik, gelisah, semangat, optimis, kejasmanian, ambisius, dab penuh emosional.

Gamelan baru pelog pancanada ini pada awalnya merupakan sebuah pengembangan dari asmbel Gamelan Gong Gede, sebuah orkes agung gaya kuno yang sangat diperlukan pada hari-hari besar atau upacara odalan di pura. Gamelan tradisional ini merupakan sebuah asambel gamelan yang paling lengkap di Bali yaitu denga banyak menggunakan instrument yang dimainkan kurang lebih enam puluh orang penabuh. Semua itu dapat disebutkan pada lontar Aji Gurnita. Dalam perkembangannya menjadi Gamelan Kebyar ada beberapa instrument Gamelan Gong Gede yang dihilangkan, dikurangi, diubah bentuknya, dan ada pula yang tidak mengalami perubahan. Instrument yang dihilangkan terdiri dari : bende (bandede), ponggang, kempyung, gumanak, dan gentorag yang dikurangi dua buah, jublag dua buah, panyacah dua buah dan cengceng (kecek) beberapa buah; yang diubah: gangsa ageng diubah menjadi gender (gangsa ugal), gangsa manengah menjadi gangsa pamade, gangsa alit menjadi kepluk (kethuk/kajar), dan kemong dhang menjadi kemong (kenong) Di antara sekian banyak instrumen yang diubah yang sangat menonjol mengalami perubahan adalah instrument gangsa jongkok. Dalam Gong Gede setiap tungguh (jawa: ricikan/ satuan) instrument ini menggunakan lima buah nada: dhang (jawa: nem), dhing (ji), dhong (ro), dheng (lu) dan dhung (mo). Akan tetapi dalam Gamelan Kebyar, pada awalnya instrument gangsa pernah menggunakan tujuh buah nada ditambah dhang alit dan dhing alit, kemudian berkembang menjadi delapan bilah nada yaitu; dhung, dhang, dhing, dhong, dheng alit, dhang alit dan dhing alit; sembilan bilah ditambah nada dheng (sebelum nada dhung); dan selanjutnya sampai sekarang berubah menjadi berbilah sepuluh dengan urutan nada: dhong, dheng, dhung, dhang, dhing, dhong alit, dheng alit, dhung alit dhang alit, dhing alit.

Jenis instrument Gamelan Gong Gede yang tidak mengalami perubahan terdiri dari: gong, kempul (kempur), kendang, rebab, suling, trompong ageng (trompong), dan tropong barangan (barangan/ reyong). Dengan demikian jenis instrument yang digunakan dalam Gamelan Kebyar pada umumnya di Bali terdiri dari instrument melodis: trompong satu tungguh, reyong satu tungguh, gangsa ugal (giying) dua tunguh (ngumbangisep), gangsa pamade/pangenter dua tungguh (ngumbangisep), gangsa kantil (kanthilan), empat tungguh (ngumbangisep) panyacah,dua tungguh (ngumbangisep), rebab sebuah, suling satu sampai empat buah; instrument ritmis: kendang dua buah lanang dan wadon, cenceng satu atau dua stel, dan kajar (kethuk) satu buah; dan instrument kolotomik: kenong (kemong) satu buah, kempul (kempur) satu buah, dan gong dua buah lanang wadon. Secara pasti kapan terjadi perubahan dari Gamelan Gong Gede menjadi Gamelan Kebyar pada saat ini belum diketahui. Namun demikian ada satu informasi Anak Agung Gede Gusti Jelantik (Bupati Buleleng) yang dituturkan kepada Colin McPchee pada tahun 1937 yang menyebutkan bahwa Gamelan Kebyar pertama kali didengar dikalangan masyarakat umum pada bulan Desenber 1915 ketika tokoh gamelan di Bali Utara menyelenggarakan kompetisi Gamelan Kebyar di Jagaraga Buleleng. Data ini mendekati apa yang dikatakan Made Bandem bahwa Gamelan Kebyar telah terwujud di Bali pada tahun 1914. ini berarti masyarakat bali Slatan, meraka lebih dahulu terbuka terhadap pengaruh-pengaruh modern, khususnya setelah Bali sepenuhnya dapat dikuasai pemerintah Belanda.

Kehadiran Gemelan Kebyar yang sangat ekspresif dan dinamis itu dapat sambutan hangat sebagin besar nasyarakat Bali sehingga gamelan itu cepat berkembang keberbagai daerah Bali Selatan. Hal ini terjadi bukan karena gamelan mampu mengekspresikan suatu sesuai jiwa zamannya, melainkan juga karena mempunyai sifat fleksibel, luwes, dan praktis. Satu keunikan yang menonjol pada gamelan baru itu adalah terangkatnya penyajian Gendhing Kebyar sebagai sajian. Sebuah sajian yang disajikan bukan untuk lain kecuali untuk keperluan konser. Sebagai alat bunyi-bunyian, Gamelan Kebyar tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat Bali. Ia biasanya digunakan untuk mengiringi berbagai macam upacara agama dan adat seperti Dewa Yadnya (upacara korban suci yang ditujukan pada Tuhan), pitra yadnya (kpada leluhur) dan butha yadnya (korban suci yang ditujukan kapada binatang, tumbuh-tumbuhan, roh halus, dan makluk halus lainnya). Sama seperti gamelan-gamelan lainnya, Gong Kebyar dapat menggugah parasaan indah seseorang dan memberi kepuasan kepada jiwa para penikmat dan para pemainnya. Ia juga bias digunakan sebagai media komonikasi, sebagai hiburan, sebagi terapi, sebagai penggugah respon fisik masyarakat, dan dalam kaitannya ini dapat berperan untuk menumbuhkan intregitas masyarakat. Disamping itu juga merupakan karya seni, Gamelan Kebyar digunakan pula sebagai iringan Tari Kebyar, Tari baris, serta Drama Gong. Dari uraian itu jelas bahwa Gamelan Kebyar sangat dibutuhkan masyarakat Bali baik digunakan sebagai sarana upacara, sebagai hiburan pribadi, maupun sebagai tontonan. Perkembangan Gamelan Kebyar berjalan dengan cepat dari kawasan daerah Bali Utara menyabar luas ke berbagai desa di Bali Selatan. Di daerah Tabanan kecuali Bantiran pengembangan Gamelan Kebyar berawal dari diselenggarakan upacara Palebon (pembakaran jenasah) di puri Subania Tabanan pada tahun 1919.

Atas usul dari seniman puri, upacara agung itu dimeriahkan dengan pertunjukan Gamelan Kebyar dari desa Buntiran, suatu desa wilayah Tabanan yang terletak diperbatasan antara Kabupaten Tabanan dengan Kabupaten Buleleng. Kehebatan penampilan sekeha gong Buntiran sangat memukau para pengamat sehingga mampu merangsang para seniman Tabanan untuk untuk mempelajari gendhing Tabanan asal Bali Utara itu. Akhirnya sejak peristiwa itu (1919) beberapa sekeha gong yang dipelopori sekeha gong Pangkung segera mendatangkan pelatih Gending (panguruk) dari Bali Utara diantaranya I Wayan Sembah (dari Kedis) I Tatra (Patemon), I Mukia (Nagasepa), dan I Sudiana (Nagasepa). Gendhing-gendhing Kebyar yang dibawa dari Bali itu pada awalnya sebagian besar berbentuk sederhana tabuh telu, gagaboran, dan babapangan, sejak tahun 1920-an I Wayan Sukra dan kawan-kawan mulai menggabungkan Gending Kebyar yang dating dari Bali Utara dengan Gendhing Palegongan yang telah lama digelutinya, sehingga lahirnya Gendhing Kebyar yang kompleks seperti diciptakan Sukra antara lain: Gendhing Kebyar Sulendra, Gendhing Gineman Gagenderan, dan Gendhing Tabuh Tegak Gagambangan. Ditahun yang sama (1920) ia berhasil pula menciptakan beberapa buah gendhing tari (gendhing igel), satu diantaranya yang sangat terkenal hingga kini adalah Gendhing Tari Kebyar Duduk Trompong. Koreografer tari sangat popular ini adalah I Ketut Maria (I Mario), seorang seniman tari yang sangat terkenal dari Tabanan. Hal ini menunjukan bahwa tahun 1920-an nama pencipta gendhing dan tari (kebyar)secara individual mulai ditampilkan. Gede manik, seorang pengendang yang sangat terkenal dari Jagaraga Buleleng pada tahun1932 mulai memasukan gendhing gender wayang (pagenderan) seperti gendhing merak ngilo, guak macok, sekar gendot, dan lain-lain kedalam gamelan kebyar.

Di tahun 1935 ia berhasil pula menciptakan sebuah tari dan gendhing trumajaya yang sangt popular sampai sekarang. Untuk garapan ini manik mengakui dengan jujur denganpola-pola gerk tari yang dipakai dalam tari trumajaya merupakan pengembangan dekat tari pola-pola gerak yng terdapat pada tari kebyar legong. Di dempasar (Kuta) Inyoman kaler, seorang seniman karawitan sangat terkenal di bali sejak tahun 1935 mulai berusaha mengadakan pembaharuan gendhing dan tari kebyar dengan menciptakan beberapa repertoar tari serta tabuh, tiga diantaranya yang masih idup hingga sekarang yaitu tari dan gendhing margapati, panji semirang, dan wiratana – ketiganya dicipta padatahun1942. Mulai akhir bulan Februari 1942 sampai Indonesia mencapai kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 Bali berada di tangan kekuasaan Jepang. Pada masa itu penerintahan Jepang, Bali dipandang sebagai tampat peristirahatan dan hiburan, sehingga kesenian seperti Legong, Arja, Topeng, dan lain-lain hidup seperti biasa. Sementara seni Kebyar tidak mengalami perubahan, hingga tahun 1951 belum muncul lagi karya Kebyar yang popular. Ini bisa dimaklumi karena di tahun-tahun itu, Bali masih diliputi suasana memprihatinkan, karena NICA ingin merebut kembali daerah Bali dari tangan Pemerintahan Indonesia. Dalam suasana demikian pada tahun 1952 I Mario dan I Sukra kembali menciptakan sebuah tari dan gendhing Oleg Tabulilingan yang sangat terkenal hingga sekarang, sementara I Wayan dan INyoman berhasil mewujudkan karya tari dan gendhing Tenun pada tahun 1957. Dalam perkembangannya, Gendhing Kebyar yang awal berkembangnya berasal dari Bali Utara sedikit banyak mengalami perkembangan masyarakat pendukungnya sehingga muncul Gendhing Kebyar gaya kedaerahan seperti gaya Jagaraga, Bantiran, Pangkung, Belaluan, Peliataan, dan lain-lain. Namun secara garis besar gaya-gaya itu dapat dibedakan menjadi dua: gaya Bali Utara dan gaya Bali Selatan.

Corraubias memberi penekanan dari masaing-masing gaya ini bahwa Gendhing Kebyar gaya Bali Utara lebih menekan pada tehnik yang keras, sinkopasi, dan perubahan dinamis secara cepat. Perbedaan penekanan ini, sama seperti kehadiran gendhing gaya Yogyakarta dan gaya Surakarta di jawa tengah yang oleh R. Arderson Sutton dikatakan bahwa aktivitas musical gaya Yogyakarta terfokus pada permainan instrument yang keras (saron), sedangkan Surakarta lebih menfokuskan garapan pada vocal dan instrument lembut (gender, rebab).

Melihat perkembangan gamelan kebyar dari tahun 1914 sampai 1957 tampak bahwa gamelan kebyar sangat disenangi masyarakat bali meskipun embat gamelannya belum begitu ideal. Bentuk-benuk gendhing petegak masih terbatas pada pangalang, jajineman, dan kakebayaran, dan gendhing tari belum ada yang menggunakan gerongan.

  • Instrumental Gamelan Gong Kebyar

Gong Kebyar adalah sebuah barungan baru. Sesuai dengan nama yang diberikan kepada barungan ini (Kebyar yang bermakna cepat, tiba-tiba dan keras) gamelan ini menghasilkan musik-musik keras dan dinamis. Gamelan ini dipakai untuk mengiringi tari-tarian atau memainkan tabuh-tabuhan instrumental. Secara fisik Gong Kebyar adalah pengembangan kemudian dari Gong Gede dengan pengurangan peranan, ataupun peniadaan beberapa buah instrumennya. Misalnya saja peranan trompong dalam Gong Gebyar dikurangi, bahkan pada tabuh-tabuh tertentu tidak dipakai sama sekali, gangsa jongkoknya yang berbilah 5 (lima) dirubah menjadi gangsa gantung berbilah 9 (sembilan) atau 10 (sepuluh).

Ceng-ceng kopyak yang terdiri dari 4 (empat) sampai 6 (enam) pasang dirubah menjadi 1 (satu) atau 2 (dua) set ceng-ceng kecil. Kendang yang semula dimainkan dengan memakai panggul diganti dengan pukulan tangan. Secara konsep Gong Kebyar adalah perpaduan antara Gender Wayang, Gamelan, Gong Gede dan Pelegongan. Rasa-rasa musikal maupun pola pukulan instrumen Gong Kebyar ada kalanya terasa Gender Wyang yang lincah, Gong Gede yang kokoh atau Palegongan yang melodis. Pola Gagineman Gender Wayang, pola Gegambangan dan pukulan Kaklenyongan Gong Gede muncul dalam berbagai tabuh Gong Kebyar. Gamelan Gong Kebyar adalah produk kebudayaan Bali modern. Barungan ini diperkirakan muncul di Singaraja pada tahun 1915 (McPhee, 1966 : 328). Desa yang sebut-sebut sebagai asal pemunculan Gong Kebyar adalah Jagaraga (Buleleng) yang juga memulai tradisi tari Kebyar. Ada juga informasi lain yang menyebutkan bahwa Gong Kebyar muncul pertama kali di desa Bungkulan. Perkembangan Gong Kebyar mencapai salah satu puncaknya pada tahun 1925 dengan datangnya seorang penari Jauk  yang bernama Mario dari Tabanan yang menciptakan sebuah tari Kebyar Duduk atau kebyar Trompong. Gong Kebyar berlaras pelog lima nada dan kebayakan instrumennya memiliki sepuluh sampai dua belas nada, karena konstruksi instrumennya yang lebih ringan jika dibandingkan dengan Gong Gede. Tabuh-tabuh Gong Kebyar lebih lincah dengan komposisi yang lebih bebas, hanya pada bagian-bagian tertentu saja hukum-hukum tabuh klasik masih dipergunakan, seperti tabuh Pisan, Tabuh Dua, Tabuh Telu dan sebagainya.

Lagu-lagunya seringkali merupakan penggarapan kembali terhadap bentuk–bentuk (repertoire) tabuh klasik dengan merubah komposisinya, melodi, tempo dan ornamentasi melodi. Matra tidak lagi selamanya ajeg, pola ritme ganjil muncul dibeberapa bagian komposisi tabuh.

  • PERKEMBANGAN GONG KEBYAR

Dalam periode tahun 1970 sampai dengan 1990-an , seni Karawitan Bali mengalami kemajuan yang cukup mengembirakan. Kemajuan seni  Karawitan Bali pada waktu itu memperlihatkan dua sisi yang menarik dan sangat menentukan masadepan dari Seni Karawitan di daerah ini. Di satu sisi terjadi penyebaran Gambelan ke seluruh Bali, bahkan ke luar daerah serta ke luar Negeri. Kondisi ini diikuti oleh munculnya komposisi-komposisi karawitan baru yang semakin rumit dengan teknik permainan yang semakin kompleks. Di sisi lain terlihat terjadinya perubahan ekspresi musikal dan pembaharuan gaya-gaya musik lokal. Di Bali dewasa ini hampir di setiap desa telah memiliki Gambelan. Desa bahkan banyak memiliki 2 sampai 3 barungan  Gambelan. Namun demikian tidak dapat dipungkiri lagi bahwa jenis Gambelan yang paling baik perkembangannya adalah Gong Kebyar. Kirannya hal ini disebabkan oleh keberadaan dari pada barungan  gambelan ini yang serba guna dan yang paling sesuai dengan selera masyarakat banyak terutama kalangan generasi muda. Ada beberapa contoh yang dapat dijadikan bukti terhadap perkembangan Gong Kebyar ini. Di Desa Singapadu sebuah desa di Kabupaten Gianyar misalnya ,hingga sekitar akhir tahun 1960 hanya ada 1 barungan Gambelan Gong Kebyar dan 7 barungan Gambelan Gaguntangan atau Paarjan.

Dua puluh tahun kemudian di desa yang terdiri dari 13 Banjar Dinas ini telah ada 6 barungan Gambelan Gong Kebyar dan 2 barungan Gambelan Geguntangan. Jumlah ini masih perlu ditambah 2 barungan gambelan Gong Kebyar yang dalam komposisi lama , dalam Gender Wayang sekalipun pola ritme atau hitungan ajeg sangat dominant. Perubahan ini juga diikuti oleh masuknya jenis pukulan rampak dan keras yang datangnya  secara tiba-tiba seperti yang terjadi pada barungan Gambelan Gong Kebyar. Tambah lagi ekspresi musikal hampir semua gambelan  Bali menjadi “Ngebyar” (meniru Gong Kebyar ). Nampaknya perubahan ini besar kaitannya dengan adanya pengaruh barungan gambelan Gong kebyar. Kecendrungan yang lain adalah pengambangan barungan gamelan dengan cara menambah beberapa instrument baru. Gejala ini yang terlihat dalam pengembangan barungan gamelan geguntangan, munculnya Adi Merdangga dan gamelan pengiring Sendratari. Hal ini kiranya berkaitan dengan munculnya stage-stage pementasan besar dengan penonton yang berada jauh dari arena pentas ( tempat menari). Agar music dapat di dengar oleh penonton yang berada dikejauhan ini, maka penambahan instrument menjadi perlu, selain menggunakan system Amplifikasi. Misalnya saja pada tahun 1970 , Gambelan Geguntangan adalah suatu barungan kecil yang menimbukan suara lembut dan merdu. Kini Geguntangan sudah dilengkapi dengan beberapa buah kulkul, dengan beberapa instrument yang  berbilah seperti Curing dan lain-lain. Ada kecendrungan bahwa perkembangan Seni Karawitan Bali lebih didominir oleh gaya bahasa Bali Selatan. Seni Karawitan sebagaimana halnya kesenian Bali lainnya, juga meliputi dua gaya daerah yaitu Bali Utara dan Bali Selatan. Perbedaan antara dua gaya ini tampak jelas dalam tempo , dinamika dan ornamentasi daripada tabuh-tabuh dsri masing-masing gaya yangdimiliki oleh sanggar atau sekehe pribadi.

Di kota-kota besar di luar Bali seperti Surabaya , Yogjakarta ,Bandung ,dan Jakarta juga telah berdiri grup musik dan gamelan Bali. Dapat dipastikan bahwa gamelan yang dimiliki oleh grup-grup ini adalah barungan Gamelan Gong Kebyar. Di tingkat Internasional , gamelan Bali ( Gong Kebyar , Semar pagulingan , dan Gender Wayang ) sudah tersebar ke Eropa, Jerman, Australia , jepang ,Kanada ,India dan mungkin yang terbanyak ke Amerika. Walaupun kebanyakan dari barungan gamelan Bali ini ditempatkan diperwakilan RI , ataupun Universitas-universitas , semakin banyak grup-grup swasta dan perorangan yang memiliki Gambelan sendiri. Group Sekar Jaya EL Ceritto Caliufornia, Giri Mekar di Woodstock –New York ( keduanya di Merika Serikat) , dan group Sekar Jepun di Kota Tokyo –Jepang adalah beberapa group kesenian asing yang hingga kini masih aktif. Menjadi semakin kompleksnya komposisi Gamelan Bali yang diwarnai dengan melodi serta teknik cecandetan yang makin rumit. Belakangan ini muncul komposisi-komposisi music baru yang menampilkan melodi yang lincah dan mempergunakan banyak nada. Hal ini sangat berbeda dengan gending-gending masa lampau yang melodinya sangat sederhana , hanya mempergunakan beberapa nada saja dan berisikan banyak pengulangan. Pola- pola cecandetan yang muncul belakangan ini sudah banyak memakai pola ritme atau hitungan yang tidak ajeg seperti tiga ,lima atau tujuh. Secara umum dapat dikatakan bahawa untuk tempo- tempo tabuh Bali Utara cendrung lebih cepat dari yang di Bali Selatan. Hal ini juga menyangkut masalah dinamika di mana tanjakan dan penurunan tempo music Bali Utara lebih tajam di bandingkan Bali Selatan. Namun demikian ornamentasi tabuh-tabuh Bali Utara cenderung lebih rumit daripada Bali Selatan akhir-akhir ini tabuh-tabuh gaya Bali Utara terasa semakin jarang kedengarannya ,sebaliknya tabu-tabuh Bali selatan semakin keras gemanya.

Semua yang sudah diuraikan di atas mengisyaratkan kemajuan Kerawitan Bali baik secara kuantitas maupun kualitas. Ada kecendrungan bahwa di masa yang akan datang Seni Karawitan Bali , khususnya instrumental yamg didominir oleh barungan gamelan Gong Kebyar dan ekspresi “Ngebyar” akan masuk ke jenis-jenis gamelan Non Kebyar. Sementara Karawitan gaya Bali Utara dan Bali Selatan akn berbaur menjadi satu ( mengingat kedua pemusik daerah ini sudah semkin luluh),gamelan klasik seperti Semar pagulingan nampaknya akan bangkit kembali. Di masa yang akan datang, bentuk-bentuk Seni Karawitan dan barungan-barungan gamelan Bali baru akan teru bermunculan. Adanya “ kebiasaan “ di kalangan seniman Bali untuk terus mencoba mencari dan menggali ide-ide baru ,baik dari dalam seni budaya tradisi  mereka maupun dari unsur luar yang senafas , sangat memungkinkan akan terwujudnya perkembangan Seni Karawitan Bali yang lebih baik di masa yang akan datang.

Mar 6

Halo dunia!

Posted on Selasa, Maret 6, 2012 in Tak Berkategori

Selamat Datang di Blog Institut Seni Indonesia Denpasar. Ini adalah post pertama anda. Edit atau hapus, kemudian mulailah blogging!