Monthly Archives: April 2014

artikel 2

 

HEDONISME

Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan.  Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.

Kata hedonisme diambil dari Bahasa Yunani ἡδονισμός hēdonismos dari akar kata ἡδονή hēdonē, artinya “kesenangan”. Paham ini berusaha menjelaskan adalah baik apa yang memuaskan keinginan manusia dan apa yang meningkatkan kuantitas kesenangan itu sendiri.

Pandangan hidup seperti hedonisme, dan individualisme tidak terlepas dari proses globalisasi dan modernisasi. Dalam era globalisasi dan modernisasi ini, hampir semua orang mengutamakan kesenangan semata, konsumsi dalam skala besar, dan pencapaian benda-benda materi dalam segala upaya. Untuk mencapai semua yang diinginkannya itu segalah usaha akan dilakukan, walaupun harus mengorbankan banyak hal yang dimilikinya.
Dalam kaitannya dengan hedonisme, di era globalisasi dan modernisme ini mencapai kenikmatan atau kesenangan semata adalah tujuan mutlak. Hedonisme sendiri bermakna bahwa pemujaan terhadap kesenangan dan kenikmatan dunia harus dikejar, dan itulah tujuan hidup yang paling hakiki bagi manusia. Hal ini menyebabkan perilaku manusia sebagai konsumen semakin menggila, yaitu Perilaku yang mengatas-namakan merk, kekuasaan, dan kenikmatan sesaat. Dampak negatifnya, muncul ideologi bahwa formalitas kini menjadi segalanya, hal terpenting bagi dirinya adalah images yang di mana mereka dapat menyalurkan hasrat. Contoh tindakan hedonisme dalam era globalisasi ini muncul dalam beragam tindakan aktivitas, mulai dari penomorsatuan sebuah merk, hingga free sex.

Sama halnya dengan hedonisme, globalisasi dan modernisasi juga mampu menyebarkan ideologi konsumerisme. Hal ini dikarenakan perkembangan dan kemajuan teknologi yang semakin pesat sehingga segala sesuatu sangat mudah untuk didapatkan. Perkembangan teknologi, misalnya perkembangan industri yang pesat membuat penyediaan barang kebutuhan masyarakat melimpah. Dengan begitu masyarakat mudah tertarik untuk mengonsumsi barang dengan banyak pilihan yang ada.

Dewasa ini Bisa kita lihat bahwa kebutuhan yang dibeli atau di konsumsi adalah barang-barang yang menurut pandangan mereka adalah barang-barang yang “mewah” misalnya kulkas, televisi, radio, tape-corder, kompor gas, bahan, alat-alat masak dan makanan-makanan (supermi dan sejenisnya, snack dan sebagainya). Pembelian–pembelian tersebut begitu meriahnya, tanpa disadari pentingnya setelah mereka membeli.

Saat melakukan pembelian barang-barang tersebut memang tidak akan menjadi beban yang bersangkutan manakala yang dibeli adalah bahan-bahan makanan/ minuman atau alat-alat masak yang tidak elektromik. Akan tetapi ternyata mereka sekarang membeli peralatan dan barang-barang yang tidak primer dan yang elektronik (Kulkas, TV misalnya), tidak terpikirkan bahwa setelah membeli dan memiliki akan mengandung biaya.

 

Biaya yang ditanggung secara harian atau bulanan adalah biaya listrik, sementara barang-barang tersebut kurang produktif untuk bisa menghasilkan uang secara harian atau bulanan. Pembelian tersebut sekedar menghabiskan uang “dadakan” yang tidak diperhitungkan beban selanjutnya setelah memiliki barang-barang tersebut.  Hal-hal tersebut merupakan sifat-sifat konsumerisme.

Proses globalisasi dan modernisasi yang terjadi juga menciptakan pandangan hidup lainnya, yaitu individualisme. Dengan adanya kemajuan teknologi dan pencampuran budaya asing, telah mengubah paradigma seseorang yang menganggap bahwa mampu memiliki benda atau materi yang lebih tinggi dari orang lainnya adalah tujuan ia hidup di dunia ini. Usaha-usaha yang dilakukan dalam pemenuhan kebutuhan tersebut bahkan dilakukan tanpa perlu mengandalkan orang lain atau biasa disebut dengan individualis. Orang-orang yang menganut pandangan ini menganggap bahwa dirinya sendirilah yang menjadi kunci dalam kesuksesan dirinya sendiri atau bahkan organisasi sekitarnya. Kehidupan menyendiri adalah salah satu ciri kehidupan individualis.

 

 Perkembangan pandangan hidup hedonisme, konsumerisme, dan individualism   dalam era globalisasi dan modernisasi

·         Hedonisme muncul pada awal sejarah filsafat sekitar tahun 433 SM. Hedonisme ingin menjawab pertanyaan filsafat “apa yang menjadi hal terbaik bagi manusia?” Hal ini diawali dengan Sokrates yang menanyakan tentang apa yang sebenarnya menjadi tujuan akhir manusia. Lalu Aristippos dari Kyrene (433-355 SM) menjawab bahwa yang menjadi hal terbaik bagi manusia adalah kesenangan. Dalam era globalisasi dan modernisasi ini, pandangan hidup hedonisme telah menjadi trend  bagi sebagian besar kalangan. Mereka memiliki  pemahaman yang mementingkan kesukaan dan kemewahan dalam kehidupan, tanpa menghiraukan larangan agama dan tatasusila. Kesenangan, kesukaan, dan kemewahaan diera globalisasi dan modernisasi ini dilambangkan dengan uang.
Peningkatan ideologi hidup hedonisme ini dapat dilihat dari contoh kriminalitas, salah satunya yaitu korupsi. Dewasa ini, tidak ada Negara yang terlepas dari praktik kasus korpusi. Mereka tidak memperdulkan akan setiap pihak-pihak yang dirugikan, karena yang menjadi tujuan utama kehidupan mereka adalah kesenangan dan kemewahan. Dengan mengumpulkan uang sebanyak-banykanya maka kesenangan dan kepuasan itu dapat terpenuhi, tidak perduli bagaimanapun caranya. Agama yang seharusnya menjadi penghambat maupun penunnjuk arah bagi mereka tidak lagi dipandang eksistensinya.

·         Dalam era kehidupan globalisasi dan modernisasi sekarang ini, polah hidup konsumtif atau konsumerisme telah berkembang pesat. Pandangan kehidupan konsumerisme ini bukan saja telah menjangkit masyarakat menengah ke atas saja, akan tetapi telah sampai pada masyarakat yang paling bawah dalam tingkatan sosial dan ekonominya. Pola hidup konsumtif ini bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, bahwa barang yang mereka beli adalah barang-barang yang menurut pandangan mereka adalah barang-barang yang “mewah” misalnya kulkas, televisi, radio, tape-corder, kompor gas, bahan, alat-alat masak dan makanan-makanan (supermi dan sejenisnya, snack dan sebagainya). Pembelian–pembelian tersebut begitu meriahnya, tanpa disadari pentingnya setelah mereka membeli.

Saat melakukan pembelian barang-barang tersebut memang tidak akan menjadi beban yang bersangkutan manakala yang dibeli adalah bahan-bahan makanan/ minuman atau alat-alat masak yang tidak elektromik. Akan tetapi ternyata mereka sekarang membeli peralatan dan barang-barang yang tidak primer dan yang elektronik (Kulkas, TV misalnya), tidak terpikirkan bahwa setelah membeli dan memiliki akan mengandung biaya. Biaya yang ditanggung secara harian atau bulanan adalah biaya listrik, sementara barang-barang tersebut kurang produktif untuk bisa menghasilkan uang secara harian atau bulanan. Pembelian tersebut sekedar menghabiskan uang “dadakan” yang tidak diperhitungkan beban selanjutnya setelah memiliki barang-barang tersebut. Inilah yang dikatakan sebagai bukti bahwa masyarakat menengah kebawah sangat konsumerisme. Tanpa disadarik mereka memiliki barang-barang yang kurang produktif dan justru akan menjadi beban harian atau bulanan, yang berarti tidak menolong kehidupan sehari-hari, akan tetapi kebalikannya yaitu memberi beban biaya harian atau bulanan mereka. Jika dilihat secara global, maka pola kehidupan konsumtif ini telah mewabah hamper kesemua lapisan masyarakat. Setiap orang selalu berusaha untuk memiliki atau menghabiskan uang yang dimilikinya untuk membeli produk-produk yang belum pasti dapat bermanfaat bagi kehidupannya. Gaya hidup orang konsumerisme tentu sudah sangat jelas terlihat, bahwa seseorang tidak pernah puas akan apa yang dimiliknya, untuk itu mereka selalu berupaya untuk meiliki hal yang lebih dan lebih lagi dari apa yang orang lain punya.

 

·         Pandangan hidup individualisme menjelaskan bagaimana seseorang hidup tanpa adanya sosialisasi dengan orang lain. Hal ini berarti memberikan pengertian bahwa Individualisme itu sendiri merupakan bentuk keegoisan seseorang didalam melakukan segala hal.

Dengan sifat egoisnya itu, orang-orang itu tidak memperdulikan orang-orang yang ada disekitarnya untuk dapat hidup bersosialisasi dengan dirinya. Dalam era globalisasi dan modernisasi sekarang ini, pola kehidupan bermasyarakat dengan menggunakan pandangan hidup seperti ini telah berkembang kebanyak bangsa. Sebagai contoh misalnya di Korea, yaitu kekuatan persatuan yang didasarkan pada kedaerahan dan hubungan sekolah, yang secara tradisional sudah menjadi inti cara orang Korea menjalin hubungan, kini telah berkurang. Hasil dari survey yang menunjukkan bahwa individualisme telah berkembang di antara masyarakat yang diadakan oleh LG Economic Research Institute pada tanggal 13 Juni, menyatakan bahwa dari Sebanyak 1.800 orang berpartisipasi di dalamnya ada 36,4% responden memprioritaskan individualitas ketimbang organisasi. Sebanyak 36,8% mengatakan mereka tidak setuju apabila tindakan atau aksi yang dilakukan untuk publik harus memberi batasan atau melanggar hak pribadi seseorang. Masih banyak beberapa kasus yang menyatakan bahwa dalam era globalisasi dan modernisasi ini bahwa pandangan hidup individualism telah berkembang pesat keseluruh Negara.

Dampak negatif dari pandangan hidup hedonisme, konsumerisme, dan individualisme

 

a.       Banyak sekali dampak negatif yang tibul akibat hedonisme antara lain :

·         Hedonisme membuat orang lupa akan tanggungjawabnya karena apa yang dia lakukan semata-mata untuk mencari kesenangan diri. Jika hal-hal tersebut mampu menggeser budaya bangsa Indonesia maka sedikit demi sedikit Indonesia akan kehilangan jati diri yang sesungguhnya.

·         Manusia akan memprioritaskan kesenangan diri sendiri dibanding memikirkan orang lain, sehingga menyebabkan hilangnya rasa persaudaraa, cinta kasih dan kesetiakawanan sosial.

·         Sikap egoisme akan semakin membudaya, inilah bukti hedonisme yang menjadi impian kebanyakan anak muda.

·         Semakin berkembangnya sistem kapitalis-sekuler karena sistem inilah yang menyebabkan hedonisme berkembang secara pesat.

·         Merusak suatu sistem nilai kehidupan yang ada dalam masyarakat sekarang, mulai sistem sosial, politik, ekonomi, hukum, pendidikan sampai sistem pemerintahan.

·         Meningkatnya angka kriminalitas. Tindak kriminal yang akhir-akhir ini marak terjadi kebanyakan dilatar belakangi oleh sifat hedonisme manusia semata.

b.      Komsumerisme tidak terlepas dari yang namanya modernisasi. Seseorang yang sudah termasuk didalam kategori konsumerisme ini sangat susah untuk menghindarinya, karena mereka sudah menganggap bahwa mereka harus menjadi yang pertama diantara orang lain. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dampak negative dari pola kehidupan konsumtif adalah sebagai berikut:

·              Pemakaian uang yang berlebihan atau boros.

·     Pemanfaatan barang atau produk-produk yang tidak sesuai kebutuhan yang seharusnya diharapkan.

·             Gangguan pssikologis, dengan kebiasaan mengkonsumsi suatu hal yang berada diatas normal menebabkan kecanduan akan benda tersebut, dan jika kebutuhan akan benda tersebut tidak dapat terpenuhi maka akan menimbulkan gangguan psikologisnya.

·              Tindakan criminal, keinginan seseorang yang telah tergabung dalam            pola hidup konsumtif akan semakin buruk, jika yang bersangkutan          tidak lagi dapat memenuhi keinginnanya maka terpaksa ia harus melakukan tindakan kriminal, seperti mencuri ataupun merampok.

 

c.       Adapun dampak negative yang dihasilkan dari pola hidup individualis, yaitu:

·                Kehilangan rasa solidaritas terhadap sesame

·                Egoisme yang tak terbatas

·                Terasingkan dari kehidupan social

·                Kesulitan dalam bersosialisasi

 

 

 Kesimpulan

 

Dari latarbelakang hingga pembahasan yang telah dijelaskan dalam  penulisan ini maka dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu:

1.      Globalisasi adalah suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara.

2.      Modernisasi dapat pula berarti perubahan dari masyarakat tradisional menuju masyarakat yang modern.

3.      Perkembangan pandangan kehidupan hedonisme, konsumerisme, dan individualisme berhubungan erat kaitannya dengan globalisasi dan modernisasi.

4.      Pandangan hidup seperti hedonisme, konsumerisme, dan individualisme terus dan akan semakin berkembang bila tidak ada pemahaman positif dari pribadi didalamnya, hal ini akan memberikan dampak negatif jika terus dipertahankan sebagai pedoman atau nilai-nilai dasar kehidupan.